banner 728x250
OPINI  

Pilpres Telah Usai Saatnya Rekonsiliasi Nasional

Foto ilustrasi

Catatan D. Supriyanto Jagad N *)

Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, unggul dalam penghitungan real count Komisi Pemilihan Umum [KPU]. Hingga hari ini, perolehan suara Prabowo-Gibran, mencapai 58,83 persen, mengungguli paslon nomor urut 1 Anis-Muhaimin [AMIN] dengan perolehan suara 24,49 persen dan paslon nomor urut 3 Ganjar-Mahfud dengan perolehan suara 16,68 persen.

Kemenangan Prabowo-Gibran dalam kontestasi Pilpres 2024, harus dilihat sebagai kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya penuh tepo sliro, saling mengorangkan, presiden dan wakil presiden terpilih nantinya, bisa merangkul semua pihak. Rekonsiliasi merupakan jalan terbaik dan bijak, agar tidak ada polarisasi usai pilpres, baik di level elite maupun grassrosts.

Sekalipun penghitungan suara sedang berlangsung dan saat ini Prabowo-Gibran unggul, tetap saja kita harus menunggu pengumuman resmi KPU yang dijadwalkan pada 20 Maret mendatang.

Rekonsiliasi paska pilpres sangat penting didorong agar konsolidasi pemerintahan bisa berjalan secara efektif. Kepentingan bangsa dan negara, harus lebih dikedepankan daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Proses rekonsiliasi ini penting untuk memperkuat persatuan dan membangun kebangsaan di tengah perbedaan yang ada.

Kita telah menyaksikan bagaimana proses demokrasi di Indonesia dalam Pemilu 2024, terlepas dari segala kekurangan dan dinamikanya. Proses ini adalah bentuk kedewasaan bangsa dalam menghadapi perbedaan pendapat dan pilihan politik. Namun setelah pemilu berakhir, tidak jarang perbedaan tersebut masih meninggalkan bekas yang sulit dihapus. Segegrasi dan konflik horizontal masih terjadi, terutama ketika  perbedaan sikap di tingkat pejabat dan partai politik meresap hingga ke masyarakat biasa.

Olehnya itu, rekonsiliasi paska Pemilu harus didasari oleh keadilan, toleransi dan inklusifitas. Dengan kesadaran yang tinggi terhadap nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan, Indonesia diharapkan dapat menghadapi masa depan, dengan persatuan dan keharmonisan yang kokoh. Rekonsiliasi dan membangun kebangsaan harus menjadi prioritas bersama untuk menyatukan perbedaan dan mengarahkan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Ada baiknya kita mengingat apa yang disampaikan Mahatma Gandhi, “ Kebijaksanaan saya mengalir dari sumber tertinggi, saya salut dengan sumber itu dalam dirimu. Mari kita bekerja sama untuk persatuan dan perdamaian.”

Persatuan adalah kekuatan, persatuan adalah energi untuk bersama-sama membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Endapkan segala bentuk perbedaan yang akan mengikis nilai-nilai persatuan dan kesatuan.

Rekonsiliasi nasional sebagai upaya bersama untuk menyatukan masyarakat terutama elit politik pasca pemilihan, mengurangi ketegangan guna mewujudkan kehendak kolektif bersama membangun masa depan Indonesia yang lebih gemilang.

Proses rekonsiliasi pasca pemilihan presiden bukan sekedar bagi-bagi kursi di kabinet. Melainkan bagaimana membangun pemerintahan yang efektif dan bersih. Siapapun presiden dan wakil presiden yang mendapat mandat dari rakyat itulah kehendak rakyat Indonesia.

Semoga semangat persatuan dan kesatuan yang telah kita tanamkan selama ini, dapat terus berkembang dan menjadi landasan utama bagi kemajuan bangsa Indonesia, untuk kita, untuk anak cucu kita, dan generasi-generasi setelahnya.

Holopis Kuntul Baris, mari kita bersama-sama membangun bangsa dengan semangat kegotong royongan, saiyeg saeka praya, saling mengisi dan melengkapi.

Tatkala semangat kebersamaan untuk kepentingan bersama menjadi semakin langka. Interaksi sosial didasarkan pada transaksi ekonomi berorientasi materi. Ruang sosial semakin semrawut dan bising suara televisi menampilkan suara sumbang dan hiburan yang menafikkan akal sehat.

Saatnya kita kembali kepada jatidiri dan karakteristik bangsa untuk Gotong Royong, Holopis Kuntul Baris sebagaimana ungkapan lelagon tembang Gugur Gunung.

Ayo kanca ngayahi karyaning praja

Kene kene gugur gunung tandang gawe

Sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane

Lila lan legawa kanggo mulyaning negara

Siji loro telu papat maju papat papat

Diulang ulanga kemesthi enggal rampung e

Holobis kuntul baris holobis kuntul baris

Holobis kuntul baris kolobis kuntul baris

Terjemahan :

Marilah kawan mengerjakan tugas negara

Kemarilah, bahu-membahu untuk bekerja

Menyatu, rukun bersama-sama dengan kawan

Bekerja dengan ikhlas untuk kejayaan negara

Satu dua tiga empat, aba-aba, maju empat-empat

Dilakukan secara estafet agar pekerjaan segera selesai

Kolobis kuntul baris kolobis kuntul baris

Kolobis kuntul baris kolobis kuntul baris

Makna Tembang Dolanan Gugur Gunung Tembang tersebut mengajak kita bersama-sama dan saling bahu-membahu dalam membersihkan atau menata lingkungan.

Lingkungan yang dimaksud dalam tembang ini masih bisa diartikan secara luas, bisa lingkungan rumah, sekolah, desa, kampung, kota, hingga negara.

Setiap individu memiliki kewajiban yang sama untuk membersihkan lingkungan. Begitu pula dengan hak, setiap individu juga memiliki hak yang seimbang untuk memperoleh tempat tinggal yang layak.

Untuk bisa mendapatkan lingkungan dan tempat tinggal yang layak, gotong royong bisa menjadi pilihan yang tepat.

Tembang tersebut juga bisa dimaknai ajakan untuk melakukan tugas-tugas bangsa dan negara bersama-sama. Dengan bergotong royong dan menerapkan pekerjaan sesuai keahliannya, negara pun akan terorganiasi dengan rapi, saling toleransi dan dapat mencapai kejayaannya.

Mari kita bergandeng tangan bersama-sama membangun bangsa. Ruang itu masih ada…

*) Pekerja media, penikmat teh tubruk

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *