OPINI  

Demokrasi Bermartabat

Dr. Suriyanto Pd

Catatan Dr. Suriyanto Pd, SH.,MH.,M.Kn *)

Pemilu 2024 tinggal menghitung hari. Suhu politik pun kian memanas. Berbagai intrik politik yang abai terhadap nilai-nilai kesantunan dalam berpolitik dipertontonkan. Negeri ini nampak seperti kehilangan kemudi akibat indikasi kecurangan dalam perebutan kuasa, nihil etika, menggerus keluhuran budaya serta kesejatian bangsa.

Seruan keprihatinan dari sejumlah perguruan tinggi pun menggema menjadi akumulasi dari berbagai ketidakpuasan atau kekecewaan. Salah satunya adalah pernyataan Presiden Jokowi bahwa presiden boleh berkampanye dan memihak.

Seruan tersebut merupakan bentuk keresahan masyarakat. Sebab, beberapa praktik kekuasaan dinilai telah melenceng dari prinsip demokrasi dan etika.

Mungkinkah politik berbudaya dan bermartabat bisa ditegakkan di negeri ini?

Ini bukan pertanyaan sederhana, namun ada muatan kegelisahan, atas carut marutnya wajah politik kita saat ini. Harus diakui, cara berdemokrasi kita, masih jauh dari apa yang kita harapkan. Saling serang, saling menjatuhkan, mengungkit-ungkit perjalanan pribadi di masa lalu dengan tujuan untuk membunuh karakter, masih kita jumpai dan terpampang di media sosial.

Kemerdekaan bangsa yang disertai dengan kebebasan dan demokrasi yang terus berkembang di negeri ini, ternyata  memiliki sisi negative yang akan semakin menjadi persoalan, bila tidak segera disadari oleh semua komponen bangsa ini. Ekses yang paling terasa adalah dalam kehidupan berpolitik bangsa ini.

Dalam pencarian bentuknya, politik di negeri ini dipenuhi dengan bahaya yang bisa dan kadang di setiap saat. Bahaya terbesar akibat proses dalam pencarian bentuk dalam politik itu adalah perpecahan di masyarakat. Kita bisa melihat wajah media sosial kita, dihiasi dengan berbagai hujatan atas ketidak sepahaman cara pandang dalam melihat sesuatu, karena perbedaan pilihan politik.

Pelaku politik sering menggunakan kondisi masyarakat yang rapuh dan rawan pengaruh untuk keuntungan dan kepentingan politiknya. Kerapuhan rakyat yang tanpa disadari akan semakin menjadi bencana saat pengaruh para petualang politik masuk dalam kehidupan mereka.

Sejarah mencatat banyak terjadi pengkhianatan saat bangsa ini memperjuangkan kemerdekaannya. Pengkhianat yang dengan bangganya diperbudak penjajah untuk melawan negerinya sendiri, sekedar demi lembaran uang dan mimpi jabatan.

Saya teringat apa yang pernah dikatakan Bung Karno di masa lalu,” Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,”

Melawan bangsa sendiri, bukanlah memusuhi bangsa sendiri dalam arti sebenarnya. Tantangan melawan bangsa sendiri adalah bagaimana negara dan para pemimpin harus memenuhi aspirasi rakyat dan membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik. Tantangan itu semakin berat di tengah bangsa ini sedang mencari bentuknya dalam berkehidupan politik.

Politik berbudaya apakah mungkin bisa ditegakkan di negeri ini? Menurut saya, sangat mungkin. Namun, kita harus mampu merekonstruksi pemikiran dan komitmen kita atas keberlangsungan bangsa ini.  Diperlukan kesadaran bersama, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bermartabat. Politik yang sebaik-baiknya adalah politik yang berbudaya, budhi daya dan bermartabat, dimana kekuasaan dan tahta yang dibawa membawa kemuliaan manusia dan Sang Pencipta.

Bila bangsa ini tidak ingin carut marut, sudah saatnya kita kembali kepada politik yang berbudaya, karena politik yang berbudaya, akan sanggup menggeser dominasi politik identitas yang saat ini marak di tanah air. Politik identitas selalu dikaitkan dengan etnisitas, agama, idiologi, dan kepentingan-kepentingan lokal yang umumnya diwakili para elit politik dengan artikulasinya masing-masing.

Untuk menciptakan politik yang bermartabat dan berbudaya, dalam kontestasi pilpres 2024 ini, para capres atau cawapresnya jangan baperan, tidak berbuat aneh-aneh, baik itu perilaku maupun perbuatan dalam lingkungan sosial maupun ranah hukum.

Rakyat terutama generasi muda, harus diberi pemahaman tentang nilai-nilai kesantunan dalam berpolitik dan berdemokrasi. Bukan demokrasi baperan yang mudah tersulut amarah hanya karena berbeda visi dan cara pandang.

Sudah saatnya kita kembali kepada jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya. Dan, yang bisa kita lakukan adalah membangun budaya politik yang sesuai dengan peradaban kita sebagai bangsa Indonesia yang berkarakter.

Ukuran baik buruk, benar salah, pantas tidak pantas dalam budaya demokrasi kita, tentu berbeda dengan negara lain, atau bangsa-bangsa lain.

*) Praktisi Hukum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *