NUSANTARANEWS.co, Halsel – Sepertinya sore itu bukan hari baik untuk memaknai arti sebuah kehilangan. Rasa ketidakpercayaan terhadap waktu yang begitu cepat, dan kedatangan maut tak bisa ditolak kala tiba ajal menjemput. Para pemain yang menanti kabar baik, dari Arham Aljokja yang dilarikan kerumah sakit saat melakoni laga terakhirnya, berubah isak tangis ketika Irham dikabarkan meninggal dunia.
Tidak seperti biasanya, seorang Irham Aljokja hari itu amat bersemangat menemani rekan-rekan timnya di pertandingan sepak bola sore itu. Walau usianya terlampau menua, pria ini seolah memberi isyarat terhadap cintanya kepada sepak bola di hari terakhirnya menghela nafas di kehidupan dunia.
Irham Aljokja Pahlawan Sepak Bola dari Selatan Halmahera. Sebutan ini pantas disematkan kepada Irham Aljokja setelah Ia tutup usia. Publik sepak bola Halmahera Selatan dan Maluku Utara turut berduka atas kepergiannya.
Sepak bola bagi seorang Irham bukan sekedar hoby, lebih dari itu, sepak bola adalah teman sejati semasa hidupnya. Di sudut manapun, dan ditempat manapun, Irham dalam pergaulannya akan selalu membincangkan kemajuan sepak bola, baik di daerah maupun secara menyeluruh.
Berposisi sebagai seorang gelandang jangkar, Irham merupakan salah satu pemain yang ikut mengantarkan Laskar Kie Raha Persiter Ternate ke kasta sepak bola tertinggi tanah air. Ia bersama beberapa rekan tim eks Persiter lainnya, Seperti Qwetly Alweny, Ahmad Sembiring, Irwan M. Zen, dan sang Panzer dari Mareku Sahjuan Doa merupakan saksi hidup kepiawaian sang pemilik nomor punggung 17 saat berperan di lini tengah pertahanan Persiter Ternate kala itu. Tak pernah sekalipun ia berganti nomor punggung. Nomor 17 menjadi nomor keramatnya setiap kali melakoni laga di manapun berada.
Terlahir pada tanggal 19 Desember 1974, Irham Wafat pada Sabtu Sore 23 Juli genap diusia 52 tahun. Selain memperkuat Persiter Ternate, di devisi 1 maupun 2, Ia juga pernah memperkuat tim Persihalsel (Persatua Sepak Bola Indonesia Halmahera Selatan) yang menajajal liga 2, devisi 2 waktu itu. Irham juga pernah memperkuat Universitas Khairun Ternate.
Tak heran dia sering di nobatkan sebagai pemain terbaik disetiap event kompetisi sepak bola di Maluku Utara. Gigih, kuat, serta taktis dan punyai umpan pasing yang terukur membuat dirinya disegani dimasanya.
Pernah suatu ketika dalam perhelatan sepak bola yang memperebutkan piala Bupati Halmahera Selatan beberapa waktu lalu, disudut tribun yang sengaja dibuat dari kayu, saya mendengar pesan dan motifasi coach Irham Aljokja, yang saat itu melatih salah satu tim yang ikut berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut.
“Kalah menang, protes, dan jengkel dalam bermain itu seni dalam sepak bola. Tinggal bagaimana mengatur emosi dan ritme bermain. Dalam tim, kita masih kurang 1 karakter. Karakter yang saya maksud adalah karakter membunuh. Seperti yang saya lakukan dulu. Membunuh setiap pergerakan pemain depan yang berpotensi membuat gol. Karena sepak bola harus siap dibunuh dan siap membunuh” begitu kata Irham Aljokja saat memberi motivasi kepada pemain binaannya waktu itu
Eks Persiter, Anasir Fc, Banteng Fc dan Persihalsel ini adalah seorang ASN. Di masa pensiunnya dari liga yang pernah ia lakoni, Irham diketahui telah mempunyai sertifikat kepelatihan sepak bola lisensi D. Lewat pengalamannya, dia mendedikasikannya dengan melatih beberapa klub sepak bola daerah, hingga kejuaraan pelajar daerah. Tercatat, lewat kepelatihannya, Kabupaten Halmahera Selatan pernah meraih medali emas dalam hajatan pekan Olahraga Pelajar Daerah cabang sepakbola dari juru taktik olahannya. Bukan hanya itu, sejumlah keterlibatan Irham di event sepak bola daerah lainnyapun selalu melibatkannya di hampir tiap kepengurusan. Ia juga tercatat sebagai pelatih Persihalsel di ajang Porprov beberapa tahun lalu.
Menghabiskan waktu masa pensiunnya dari kompetisi liga, Irham disetiap selesai pekerjaannya sebagai ASN, selalu menyempatkan diri dilapangan. Setiap sore sepulang kerjanya, lapangan Patra Alam Samargalila seperti biasanya menjadi teman dekat seorang Irham. Di lapangan Samargalila, Irham pernah memperkuat salah satu tim kebanggaan orang Amasing. Lebih tepat nama dari Tim itu adalah AMS Football Club. Semenjak itu, Irham menghabiskan hari-harinya dilapangan yang kini telah menjadi aset pemerintah daerah.
Tahun demi tahun, Irham yang edentik dengan peci putih dikepalanya disetiap kali memenuhi panggilan azan di masjid ini, terlibat juga dalam pendirian sebuah organisasi kemasyarakatan dalam membenahi sepak bola muda kabupaten Halmahera Selatan. Lahirnya Komunitas Pemerhati Sepak Bola atau Kompas Halmahera Selatan adalah juga merupakan bagian dari karyanya dalam memajukan sepakbolaan daerah.
Irham adalah sosok motivator sepak bola di Halmahera Selatan. Kehadirannya dilapangan seakan membangkitkan semangat bermain para pemain muda. Di ketahui Irham tak ketinggalan shalat 5 waktu.
Berbincang sepak bola dengan seorang Irham, sudahlah pasti kita akan diarahkan “Ko Ir” nama sapaan Irham Aljokja ke sebuah club asal Inggris. Ko Ir adalah salah satu fens berat tim berjuluk setan merah. Ia mengidolakan David Beckham dan Roy Keane.
“Seandainya Ko Ir belum di panggil pulang oleh Tuhan yang Maha Esa, pasti akan lebih seru ketika berdebat soal perhelatan piala Dunia Qatar, dimana Ko Ir menjagokan Inggris sebagai tim favoritnya di setiap kali ajang piala Dunia tiba” kata saya dalam hati sembari menulis kisah perjalanan Ko Ir.
Hari itu, untuk terakhir kalinya saya berbicara langsung dengan Ko Ir. Dalam sebuah pertandingan babak penyisihan di salah satu perhelatan pertandingan di lapangan Samargalila sekitar 7 hari lalu. Saat itu saya adalah wasit tengah dalam laga tersebut. Di sela-sela Ko Ir kehilangan bola saat bermain, Ia meminta saya menuliskan jejak karir yang pernah di debutnya. Saya hanya mengangguk kepala karena sedang berkonsentrasi memimpin jalannya laga yang kurang dari 7 menit berakhir babak pertama Ko Ir di tarik keluar.
Kini telah terfikir di benak saya. Hari terakhir Ko Ir berbincang dengan saya tepatnya kurang 7 menit laga babak pertama berakhir Ko Ir ditarik keluar, namun di pertandingan berikut lainnya, Ko Ir tak kuasa berlari menggiring bola tepat di menit ke 7 awal babak pertama setelah 3 menit Yudi Alkani melesatkan gol perdana dalam laga itu.
Sore itu, hari dimana seorang Irham Aljokja menghebuskan nafas terakhirnya, Ia masih mengenakan seragam sepak bola, bak seorang prajurit TNI yang wafat berperang dengan seragamnya di medan perang. Begitulah seorang Irham Aljokja Wafat. Dengan Jersey berwarna biru yang dikenakannya saat bermain 7 menit sebagai pertandingan terakhirnya dilapangan Patra Alam Samargalila. Ko Ir menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah Labuha, setelah sebelumnya ia sempat di larikan sesaat kelelahan yang menimpanya di tengah lapanga.
Kepergian Ko Ir, mengundang kesedihan luar biasa, baik para pemain muda Halmahera Selatan dan teman sejawat saat masih berseragam kuning hijau. Berbagai ucapan belasungkawa terpampang dimedsos baik Facebook, WhatsApp dan lainya. Ko Ir bukan sebatas Kakak dalam lapangan. Ia juga seroang bapak sekaligus inspirator para sepak bola muda Bacan, Halmahera Selatan. Semoga Ko Ir mendapatkan diampunkan segala dosanya. Ditinggikan derajatnya, serta di tempatkan ditampat terindah di surganya Allah SWT. Amin!!
Selamat Jalan Ko Ir
Penulis: Mursal












