LANDAK, NUSANTARANEWS.co – Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB) menggelar seminar lintas batas se-pulau Borneo guna memperkuat struktur organisasi dan menjaga kelestarian budaya Dayak.
Kegiatan ini menjadi agenda utama pada hari ketiga perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 MMBB yang dipusatkan di Desa Semade, Kecamatan Banyuke Hulu, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Minggu (25/10/2026).
Seminar yang mengusung tema “Setahun Melangkah, Sejiwa Membangun Borneo Bersatu” ini secara khusus membedah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, sinergi Hukum Positif, serta penguatan Hukum Adat. Selain itu, agenda ini juga menjadi momentum evaluasi kinerja pengurus DPD, DPC, hingga DPAC di seluruh wilayah Borneo.
Acara ini dihadiri langsung oleh jajaran petinggi organisasi, di antaranya Panglima Tertinggi MMBB Marselinus Mian, SE., MM., Presiden MMBB Diseniman Sanggup, SH., serta Ketua DPD MMBB Kalimantan Barat Leo Nardi, SH., yang didampingi Sekretaris DPD Jimi Salomo.
Menariknya, gaung perayaan HUT perdana ormas ini juga menarik perhatian masyarakat adat di negara tetangga.
Terbukti dengan hadirnya delegasi resmi dari Malaysia, yaitu Ringing Sarig selaku Panglima MMBB Kuching dan Panglima Baling dari Bintulu, Sarawak.
Dalam sambutannya, Ketua DPD MMBB Kalbar, Leo Nardi, SH., mengingatkan seluruh kader mengenai tantangan organisasi ke depan.
Ia menekankan bahwa fondasi MMBB berada pada pelestarian nilai-nilai luhur di Tanah Borneo.
“Tidak terasa usia MMBB sudah satu tahun. Pekerjaan Rumah (PR) kita ke depan adalah bagaimana mengembangkan ormas ini. Kita sangat membutuhkan adat dan budaya, kita sangat membutuhkan pelestarian adat dan budaya kita,” ujar Leo Nardi di hadapan ratusan kader.
Leo juga menginstruksikan seluruh jajaran pengurus di tingkat DPC dan DPAC untuk terus membangun organisasi secara solid, kompak, dan satu komando.
Senada dengan hal tersebut, Presiden MMBB Diseniman Sanggup, SH., menegaskan bahwa pemahaman AD/ART merupakan harga mati bagi setiap pengurus sebagai dasar hukum bergerak.
Ia mengingatkan bahwa organisasi modern harus mampu berjalan beriringan antara aturan negara dan hukum adat setempat.
“Penting sekali memahami hukum positif yang berlaku di negara kita, sekaligus melakukan penguatan hukum adat. Hukum adat adalah jati diri MMBB dalam menjaga adat dan budaya Dayak di Tanah Borneo,” tegas Diseniman.
Seminar berlangsung dinamis dan interaktif melalui sesi diskusi serta evaluasi kinerja kepengurusan.
Seluruh rangkaian acara ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan dari pihak panitia kepada ratusan peserta seminar yang hadir dari berbagai wilayah di Kalimantan dan Sarawak
<span;>(Red)












