BUDAYA  

Kehidupan desa, stereotip hidup tanpa tekanan dan cara mereka bahagia

Foto: Ilustrasi kebahagiaan warga desa.

NUSANTARANEWS.co, Medan — Kehidupan desa kerap dihubungkan dengan ketenangan. Ritme aktivitas dipandang lebih lembut laiknya ketukan lagu-lagu melankolis. Orang-orang tampak memiliki banyak kesempatan untuk menikmati waktu senggang, tertawa bersama, menikmati kopi tanpa terburu-buru sembari mengisap rokok lintingan, atau sekadar bergosip tentang segala sesuatu yang mungkin diomongkan.

Ketenangan yang terlihat dalam kehidupan pedesaan sebenarnya karena suasana alam yang berbeda dengan alam perkotaan. Di desa orang-orang hidup dalam helaan nafas dari atmosfer yang hampir bebas polusi. Pemandangannya identik dengan kebeningan air selokan, hamparan sawah yang hijau, dan rimbun dedaunan.

Dalam banyak narasi suasana pedesaan masih tetap kuat dalam romantisme suara satwa. Bayangan alamnya lekat dengan cicit burung, warna-warni kupu-kupu, kunang-kunang di malam hari, lenguh kerbau, atau kokok ayam tatkala fajar menjelang.

Berbeda dengan kota, suasana desa terasa jauh dari kebisingan. Di badan jalanan pedesaan, tidak ada jam sibuk sebagaimana dapat ditemukan di atas permukaan aspal kota. Kita dapat melaju di bahu jalan desa tanpa jebakan kemacetan lalu lintas.

Dalam pemenuhan kebutuhan, tidak semua harus dibeli. Sayuran masih bisa dipetik di pematang sawah, menggali umbi-umbian di ladang, memetik buah di kebun belakang rumah, atau memancing ikan di sungai yang membelah dua kampung.

Kehidupan desa secara umum digambarkan sebagai kelompok masyarakat yang tidak banyak kebutuhan. Kehidupannya identik dengan gaya hidup bersahaja dan tidak banyak tuntutan. Ini membuat mereka hidup seakan dijalani tanpa tekanan sosial dan ekonomi.

Stereotip Hidup Tanpa Tekanan

Gambaran tentang kehidupan masyarakat desa di atas tidak sepenuhnya benar. Ketika kita menyelami kehidupan pedesaan, sebagian bayangan ketenangan dan kedamaian itu stereotip. Barangkali kita perlu membuat definisi ulang tentang kehidupan pedesaan.

Kehidupan pedesaan tidak seperti yang kita bayangkan sepenuhnya. Ada tekanan kerja dan beban hidup yang harus dipanggul. Mereka juga mengalami ketidakpastian tentang masa depan, was-was dengan perubahan cuaca, risau dengan harga-harga, dan mereka “yang merasa sebagai kaum dhuafa” disergap kecemasan ketika menyadari dirinya dijebloskan ke dalam kategori desil yang tidak layak menerima bansos.

Dalam hal pekerjaan, realitas kehidupan di desa tidak berbeda dengan masyarakat kota. Mereka juga seringkali mengalami tekanan kerja yang tidak ringan. Tekanan itu bisa jauh lebih berat daripada yang kita bayangkan.

Mayoritas penduduk desa yang bekerja di sektor agraris umumnya menuntut kekuatan fisik yang prima. Mencangkul, menggali, dan mengangkat beban, adalah kerja yang membutuhkan kekuatan otot.

Jam kerja mereka juga acap kali dimulai sebelum matahari terbit. Pagi buta mereka sudah menembus udara dingin. Saat musim tanam mereka harus bertahan di atas hamparan sawah dan ladang dengan sengatan matahari di kepalanya atau guyuran hujan. Ini bagian dari tekanan kerja yang tidak ringan.

Kadangkala mereka mengalami gagal panen atau tidak bisa bercocok tanam akibat kekeringan berkepanjangan. Apa yang bisa mereka lakukan terhadap cuaca? Kehidupan agraris sangat tergantung kepada kemurahan alam. Mata pencaharian mereka sangat dipengaruhi iklim, kondisi tanah, topografi, ketersediaan air, hingga gangguan organisme (hama) dan bencana alam. Semua ini merupakan faktor alam yang kerap menjadi pemicu stress ekonomi.

Tekanan lainnya, para petani juga harus berhadapan dengan biaya produksi mulai dari pengolahan tanah, perawatan, dan kelangkaan pupuk. Pada tingkat distribusi terkadang harga jual hasil produksi tidak sesuai ekspektasi.

Kurangnya lapangan kerja formal di desa juga menjadi tantangan serius. Situasi ini membuat perputaran uang di desa cenderung lebih lambat. Akibatnya ruang untuk “bersantai” tanpa beban finansial sebenarnya cukup sulit bagi warga lokal.

Demikian pula dengan lapangan kerja non-formal. Tidak heran pemuda desa banyak memilih menjadi pekerja migran atau menjadi warga urban dengan harapan dapat mengubah masa depan yang lebih pasti.

Tantangan hidup kaum pedesaan tidak saja ditindih oleh tekanan kerja dan sempitnya lapangan kerja formal. Ada tanggung jawab keluarga yang bergelayut di pundak mereka. Mereka mengalami kegelisahan ketika sebagian kebutuhan sehari-hari serba dibeli, biaya pendidikan anak-anak, tagihan listrik, cicilan koperasi, hingga perbaikan rumah. Belum lagi ongkos tradisi seperti begawe (pesta: Sasak), peringatan hari keagamaan, upacara adat, atau mungkin (sesekali) pelesiran bersama keluarga.

Kini teknologi informasi juga sudah merangsek kehidupan orang hingga ke jantung pelosok desa. Sudah lumrah ditemukan ibu-ibu was-was tatkala baterai androidnya menggelembung. Dengan mudah kita dapat menyaksikan anak-anak remaja yang cemas ketika jaringan internet buffering atau risih karena gadgetnya masih keluaran generasi terdahulu.

Apa yang terjadi di desa menunjukkan bahwa nuansa kehidupan masyarakat desa dan kota pada banyak aspek sebenarnya tidak ada perbedaan. Kedua komunitas itu sama-sama memiliki tekanan kerja, beban hidup keluarga, dan kebutuhan informasi secara digital.

Kebahagiaan di Desa Itu Sederhana

Hidup dalam tekanan bukan berarti masyarakat desa tidak memiliki kesempatan untuk berbahagia. Mereka tetap dapat menemukan situasi yang memberikan ruang untuk menghibur diri di sela-sela aktivitas sehari-hari.

Hanya saja, hiburan mereka bukan trip, traveling, atau menginap di hotel. Tidak ada touring atau kegiatan tertentu yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan healing. Tidak ada liburan akhir pekan atau piknik di penghujung bulan. Lalu, bagaimana mereka menemukannya?

Hiburan bagi masyarakat desa bukan seberapa jauh mereka melakukan perjalanan, semewah apa alat transportasi yang mereka gunakan, atau seberapa mahal layanan jasa penginapan yang mereka pilih.

Warga desa mungkin sulit mendapatkan hiburan konser musik, pertunjukan seni modern, atau tempat rekreasi yang berhubungan dengan aktivitas hiburan, acara seni, festival, dan ruang publik sebagaimana tersedia pada masyarakat perkotaan.

Namun, masyarakat desa umumnya masih memelihara hiburan tradisional. Ia dapat berbentuk seni dan olahraga. Dalam masyarakat Sasak misalnya, terkenal hiburan olahraga tradisi. Peresean dan belanjakan.

Keduanya tergolong olahraga ekstrem. Peresean merupakan pertarungan dua laki-laki menggunakan rotan. Petarung dilengkapi dengan perisai. Sedangkan belanjakan adalah olahraga tangan kosong yang mirip pertarungan MMA.

“Harga tiket 10 ribu dapat menekan galau karena hutang berjuta-juta,” tulis seorang ibu muda di beranda medsosnya saat meliput permainan peresean.

Kebahagiaan warga desa juga bisa mereka rasakan dalam rutintas sehari-hari mereka.

“Sekadar melihat-lihat saja. Saya merasakan ketenangan melihat kondisi tanaman,” kata seorang petani sambil menatap hamparan terong yang subur.

Apa yang dikatakan petani itu menunjukkan bahwa hiburan dapat ditemukan dalam kesehariannya, di arera persawahan di mana setiap hari dia bekerja.

Kita dapat dengan mudah menemukan bahwa masyarakat desa justru menemukan kebahagiaan dalam tekanan rutinitasnya melalui momen kecil dan sederhana. Sungging senyum kepuasan para petani adalah ketika menyaksikan padinya menguning, air mengalir ke persawahan, atau hujan turun pada saat yang tepat.

Kegembiraan mereka adalah tatkala mendapatkan subsidi pupuk dengan mudah. Kebahagiaan seorang suami adalah ketika istrinya mengantar makanan lalu makan bersama di bawah saung reot saat bekerja di sawah.

Dalam konteks ini, mereka justru menemukan kegembiraan atau kebahagiaan dalam tekanan kerja yang mereka jalani sehari-hari.

Suasana guyub merupakan cara lain masyarakat desa menemukan hiburan untuk menghalau kesuntukannya.

Sudah beberapa hari sebuah sumur tua sekitar lima puluh meter dari rumah saya sedang mengalami perbaikan. Hampir semua warga terlibat. Para laki-laki datang sekadar meratakan tanah sekitar sumur, mengaduk campuran plesteran, membersihkan area sumur, atau memindahkan batu bata.

Para perempuan tidak mau ketinggalan. Seorang ibu mengacungkan androidnya untuk merekam suasana di sekitar sumur. Sebagian ikut bekerja membantu apapun yang bisa dibantu. Sebagian lagi siaga menyiapkan makanan dan minuman.

Kehadiran warga bukan semata-mata hendak mengambil bagian dari kerja gotong royong. Mereka datang untuk menyandarkan kesuntukan sehari-hari. Dalam kebersamaan itu mereka menemukan kegembiraan sambil melakukan sesuatu yang memberikan makna bagi kepentingan bersama.

Rasa guyub didasari oleh ikatan persaudaraan dan jalinan sosial yang tulus. Dengan demikian, gotong royong bagi warga desa tidak saja tentang kebersamaan tetapi menjangkau sesuatu yang jauh lebih dalam dan personal. Itulah kebahagiaan. Bahagia dalam kebersamaan tanpa tendensi apapun.

Itu hanya sebagian kecil keseharian warga desa yang membuat mereka bahagia. Masih banyak hal-hal sederhana yang dapat membuat warga desa bahagia.

Namun, kembali lagi kepada pribadi setiap orang. Tidak semua orang desa dapat menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam memandang realitas sehari-hari. Kebahagiaan dan penderitaan seringkali hanya tentang cara pandang kita melihat dunia, seperti dikutip dari kompasiana.com/Yamin Mohamad, Rabu (14/10/2026) siang.

(KTS/rel)

Artikel ini telah ditayangkan di kompasiana.com/Yamin Mohamad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *