Dinilai Paham NU Luar-Dalam, Pengurus NU se-Madura Raya Dukung Gus Rozin Jadi Ketum PBNU

L

NUSANTARANEWS.co – Sejumlah pengurus Nahdlatul Ulama (NU) se-Madura menilai KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memiliki kapasitas untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pengalaman panjang di berbagai jenjang organisasi, dunia pesantren, pendidikan, hingga jejaring NU di tingkat nasional dan internasional dinilai menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan organisasi ke depan.

Penilaian tersebut mengemuka dalam silaturahmi Gus Rozin bersama jajaran pengurus NU se-Madura di Bangkalan, Ahad (23/8/2026). Pertemuan itu juga menjadi ruang bagi pengurus NU Madura untuk mendengar langsung gagasan Gus Rozin yang maju sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.

Ketua PCNU Bangkalan KH Muhammad Makki Nasir selaku tuan rumah mengatakan, pengurus NU di Madura membutuhkan sosok pemimpin yang mampu membawa organisasi berkembang tanpa meninggalkan akar kekuatan NU di tingkat bawah.

“Kami PCNU Madura memang mencari sosok terkait siapa yang bisa membawa NU ke depan lebih baik. Kami senang dengan kehadiran Gus Rozin agar bisa memahami potensi beliau dalam membawa NU ke depan,” kata Makki, yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangkalan.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Falahun Nasiri, Bangkalan, tersebut, tantangan NU ke depan bukan hanya bagaimana memperkuat posisi organisasi di tingkat nasional maupun global. Pada saat yang sama, NU dinilai perlu memperkokoh konsolidasi internal, memperkuat pesantren, serta meningkatkan pelayanan kepada jamaah.

“Kami membutuhkan nahkoda NU ke depan yang bisa membawa NU mendunia sekaligus mampu memperkuat NU ke dalam. Kalau hanya memperkuat keluar saja, kita bisa terombang-ambing. Kita tahu NU sudah mendunia, tetapi kita membutuhkan penguatan ke dalam agar lebih kuat internalnya,” ujarnya.

Makki menilai Gus Rozin memiliki pengalaman organisasi dan kapasitas intelektual yang relevan dengan kebutuhan tersebut. Ia juga menyoroti kemampuan Gus Rozin dalam membangun komunikasi di tingkat global serta latar belakang pendidikannya.

“Kami mendengar sosok Gus Rozin memiliki kompetensi yang luar biasa. Keilmuan dan komunikasi global beliau juga baik. Beliau lulusan luar negeri yang paham juga kondisi global. Selain itu, dalam diri beliau mengalir darah muassis NU,” katanya.

*NU Struktural Harus Melayani NU Kultural*

Silaturahmi tersebut sekaligus menjadi forum bagi pengurus NU Madura untuk menyampaikan sejumlah aspirasi mengenai arah organisasi ke depan. Salah satu yang mengemuka adalah perlunya memperkuat hubungan antara struktur organisasi, pesantren, dan jamaah.

Makki mengatakan, kekuatan NU tidak semata-mata berada pada struktur formal organisasi. Basis utama NU juga berada pada pesantren dan jamaah yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial warga Nahdliyin.

“Harapan kami NU ke depan adalah NU struktural melayani NU kultural. Ini berdasarkan pengalaman kami selama ini dalam melayani pesantren dan jamaah di Madura,” ujarnya.

Menurut dia, penguatan struktur organisasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan pelayanan dan pemberdayaan jamaah. Dengan demikian, keberadaan struktur NU tidak berhenti pada aktivitas administratif, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi warga di tingkat bawah.

Gus Rozin merespons aspirasi tersebut dengan mengajak jajaran pengurus NU melakukan evaluasi terhadap cara berkhidmah di dalam organisasi.

Menurut dia, secara kelembagaan NU telah memiliki fondasi dan sistem yang baik. Tantangan yang perlu diperbaiki justru berkaitan dengan bagaimana sistem tersebut dijalankan oleh para pengurus.

“NU sudah baik, tetapi terkadang cara kita berkhidmah yang kurang baik dan kurang pas. Karena itu, kita perlu memperbaiki lagi tata cara perkhidmatan kita di NU,” kata Gus Rozin.

Ia menekankan, khidmah di NU tidak semestinya hanya berorientasi pada penguatan struktur organisasi. Pelayanan tersebut harus dapat dirasakan langsung oleh jamaah, terutama mereka yang berada di tingkat paling bawah.

*PBNU Diminta Lebih Banyak Mendengar Suara dari Bawah*

Dalam forum tersebut, Gus Rozin juga menyampaikan pentingnya PBNU membuka ruang yang lebih luas bagi suara dari tingkat bawah. Menurut dia, kebijakan di tingkat pusat perlu mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan pengurus cabang, pesantren, serta jamaah di berbagai daerah.

Gagasan itu mendapat respons dari sejumlah pengurus NU Madura yang mengikuti diskusi. Mereka berharap kepemimpinan PBNU ke depan lebih terbuka dalam menyerap aspirasi warga, termasuk kelompok-kelompok kecil dan struktur NU di tingkat bawah.

Suara dari daerah dinilai penting karena menjadi gambaran langsung mengenai persoalan yang dihadapi NU dalam menjalankan khidmah. Dengan mendengar struktur dan jamaah di bawah, kebijakan organisasi di tingkat pusat diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Ketua PCNU Pamekasan dalam forum tersebut juga menekankan pentingnya memperkuat posisi NU sebagai bagian dari masyarakat sipil. Menurut dia, NU memiliki potensi besar untuk menjalankan peran sosial dan kemasyarakatan secara mandiri sekaligus memberikan kontribusi bagi kehidupan kebangsaan.

Selain itu, pengurus NU Madura menyatakan kesepahaman dengan gagasan untuk menempatkan pesantren sebagai salah satu fondasi utama NU. Pesantren dinilai tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi basis kaderisasi, pengembangan keilmuan, kepemimpinan, dan kehidupan sosial warga NU.

Pemberdayaan jamaah juga menjadi perhatian dalam diskusi. Besarnya potensi jamaah dinilai belum sepenuhnya dioptimalkan untuk memperkuat jam’iyyah.

“Yang selama ini kurang dimaksimalkan adalah pemberdayaan dan optimalisasi jamaah dalam menopang jam’iyyah,” ujar salah satu peserta.

*Kuat ke Luar, Kokoh ke Dalam*

Berbagai aspirasi yang muncul dalam pertemuan tersebut bermuara pada kebutuhan terhadap kepemimpinan NU yang mampu menjaga keseimbangan antara penguatan peran eksternal dan konsolidasi internal.

NU dinilai tetap perlu memperkuat peran di tingkat nasional dan global. Namun, penguatan tersebut tidak boleh membuat organisasi kehilangan hubungan dengan pesantren, jamaah, dan struktur NU di tingkat bawah.

Dalam konteks tersebut, pengalaman Gus Rozin di berbagai jenjang organisasi menjadi salah satu pertimbangan pengurus NU Madura.

Gus Rozin tercatat pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU periode 1998–2001, Pengurus Pusat GP Ansor periode 2000–2004, Wakil Ketua LP Ma’arif PBNU periode 2010–2013, Ketua RMI NU Jawa Tengah periode 2013–2015, Ketua RMI PBNU periode 2015–2021, Mustasyar PCNU Kabupaten Pati periode 2019–2024, serta Katib Syuriah PBNU periode 2021–2023.

Saat ini, Gus Rozin dipercaya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029 sekaligus Ketua Majelis Masyayikh.

Rangkaian pengalaman tersebut dinilai membuat Gus Rozin memahami NU dari berbagai sisi, mulai dari kaderisasi, pesantren, pendidikan, struktur organisasi, hingga dinamika NU di tingkat nasional.

Bagi pengurus NU Madura, pengalaman tersebut menjadi salah satu modal yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan organisasi ke depan. Kepemimpinan NU diharapkan tidak hanya mampu membawa organisasi memiliki pengaruh lebih luas, tetapi juga memastikan kekuatan internal tetap terjaga.

Makki menegaskan, NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga dua sisi tersebut secara bersamaan.

“Kita butuh tokoh NU ke depan seperti Gus Rozin yang kuat keluar dan kokoh ke dalam,” katanya.

(Ke)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *