Catatan Kritis, Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn
Selama puluhan tahun kita sebagai Bangsa diejek dan dirndahkan. “Indonesia hanya jadi lumbung bahan mentah”. Batubaranya, sawitnya, nikelnya, timahnya, CPOnya… semua dikirim mentah. Yang untung? Singapura. Yang ngatur harga? Malaysia, hal yang sangat tidak adil dan membodohkan bangsa indonesia.
Pelabuhan di Singapura ramai, karena kapal kita singgah dulu di sana. Bursa Malaysia kuat karena CPO kita dijual lewat sana. Rakyat Kita yang kerja capek berkeringat. Mereka yang dapat cuan triliunan dari jasa, asuransi, sampai trading. Gilakn..?
Tapi sekarang aturannya berubah total. Danantara Indonesia maju. Kebijakan EKSPOR SATU PINTU resmi dijalankan. Semua komoditas strategis wajib lewat satu pintu: Indonesia. Hal ini bukan diskriminasi, tetapi membela kedaulatan perdagangan Negara untuk rakyat indonesia.
Artinya apa? Tidak ada lagi jual nikel lewat Singapura. Tidak ada lagi lelang CPO di Malaysia. Tidak ada lagi harga ditentukan tengkulak asing. Mulai sekarang, Indonesia yang pegang palu Lelang dan kendali perdagangan negaranya sendiri.
Ini bukan sekadar kebijakan. Ini deklarasi kemerdekaan ekonomi. Selama ini kita merdeka secara politik, tetapi dijajah secara perdagangan dan ekonomi oleh mafia hitam dan asing. Sekarang rantai itu diputus. Di Era Presiden Prabowo yang berani mengambil langkah tersebut.
Bayangkan dampaknya. Kalau 100% ekspor nikel, bauksit, tembaga, CPO harus lewat Danantara, maka devisa langsung masuk ke kas negara. Tidak muter dulu ke luar negeri, masuk ke negara lain dan mafia hitam.
Singapura terancam sepi sudah cukup selama ini menikmati uang rakyat indonesia. Pelabuhan mereka akan kehilangan 30-40% traffic komoditas dari Indonesia. Kantor trading raksasa di sana kehilangan barang. Asuransi, logistik, brokerage mereka kehilangan kue. Itu hukum alam yang harus berjalan.
Malaysia juga terancam. Bursa CPO Kuala Lumpur yang selama ini jadi patokan harga dunia, akan kehilangan pasokan terbesarnya. Karena Indonesia produsen CPO nomor 1 dunia.
Saat Indonesia pegang kendali harga, maka kita bukan lagi price taker. Kita jadi price maker. Mau jual berapa, ke siapa, dengan syarat apa…? kita yang tentukan, hal ini harus didukung oleh seluruh elemen bangsa indonesia.
Ini pukulan telak untuk mafia komoditas. Selama ini mereka main dua kaki. Beli murah dari petani Indonesia, jual mahal lewat Singapura. Sekarang jalurnya ditutup. Hanya ada satu pintu.
Danantara bukan hanya jadi “makelar”. Danantara akan bangun smelter, bangun pabrik, bangun hilirisasi. Artinya nilai tambah 10 kali lipat tetap di dalam negeri. Lapangan kerja tercipta, baik di Morowali, di Kalimantan, di Papua. Dan bukan di Singapura atau di Malaysia.
Tentu mereka akan berisik. Akan ada tekanan WTO, tekanan diplomatik, tekanan media. “Indonesia proteksionis”, “Indonesia melanggar pasar bebas”. Itu wajar. Karena singa kalau dilukai, pasti mengaum, Kita harus lawan bersama.
Tapi ingat ada Pelajaran berharga dari; Tiongkok bisa maju karena proteksi. Korea bisa maju karena proteksi. AS saja proteksi. Masa Indonesia tidak boleh? Sudah 81 tahun merdeka, masa masih jadi babu bahan mentah dan pangan untuk kepentingan mafia hitam dan asing!!!.
Ekspor satu pintu ini juga senjata geopolitik. Mau beli nikel kami? Silahkan, tapi bangun pabrik di sini. Mau beli CPO kami? Silahkan, tapi transfer teknologinya. Tidak ada lagi main comot.
Dampak ke rakyat langsung: harga komoditas di dalam negeri lebih stabil. Pendapatan negara naik. Bisa untuk sekolah gratis, kesehatan gratis, dan KDMP di desa-desa berjalan.
Ini baru awal. Kalau Danantara konsisten, 10 tahun kedepan dan seterusnya, maka kita tidak bicara lagi soal “negara berkembang”. Kita bicara soal “negara penentu harga dunia”. Indonesia jadi raksasa.
Jadi biarkan Singapura sepi. Biarkan Malaysia panik. Karena selama ini giliran mereka yang kaya dari keringat kita. Mulai hari ini, giliran Indonesia yang kaya dari tanahnya sendiri. Merdeka secara ekonomi dimulai dari 1 pintu. Pintu Danantara untuk rakyat Indonesia.
*) Praktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI






