Catatan: Risdiana Wiryatni *)
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selalu disebut-sebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Narasi ini bukan tanpa dasar; kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja sangat masif. Namun, jika kita jujur melihat realitas di lapangan, mayoritas pelaku UMKM kita masih terjebak dalam fase survival mode—sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.
Langkah taktis yang baru-baru ini diambil oleh Kementerian UMKM bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) dalam memangkas hambatan ekspor lewat pembentukan Klinik Ekspor adalah sebuah sinyal positif. Kolaborasi ini membuktikan bahwa pemerintah mulai serius membenahi aspek hilir perdagangan produk lokal. Kendati demikian, untuk membangun UMKM yang benar-benar kokoh dan memiliki daya saing berkelanjutan di panggung global, kita tidak bisa hanya berfokus pada hilirisasi atau promosi saja.
Diperlukan sebuah transformasi fundamental yang menyentuh tiga pilar utama: Standardisasi Hulu, Digitalisasi Manajemen, dan Keberlanjutan Proteksi Pasar.
Standardisasi Mutu Sejak di Hulu
Salah satu batu sandungan terbesar mengapa produk UMKM kita kerap ditolak di pasar internasional—atau kalah bersaing dengan produk impor di pasar domestik—adalah inkonsistensi mutu. Banyak pelaku usaha mikro yang menargetkan pasar ekspor, namun proses produksinya masih bersifat konvensional tanpa adanya standardisasi baku.
Di sinilah peran penting dari integrasi hulu. Sinergi seperti yang dilakukan Kementerian UMKM dan Barantin harus didesentralisasikan secara masif ke tingkat daerah. Kehadiran Klinik Ekspor tidak boleh hanya berpusat di ibu kota atau kota-kota besar.
Pemerintah daerah bersama legislatif, seperti yang disuarakan oleh DPRD Sulawesi Tengah, harus menjemput bola ke desa-desa. Petani durian, perajin anyaman, hingga pengolah pangan rumahan harus didampingi sejak pemilihan bahan baku hingga proses pengemasan agar langsung memenuhi Good Manufacturing Practices (GMP) dan regulasi karantina internasional.
Literasi Digital: Bukan Sekadar Jualan Online
Selama ini, pemahaman digitalisasi UMKM sering kali dipersempit hanya sebatas memiliki akun di e-commerce atau media sosial. Padahal, esensi dari transformasi digital yang membuat sebuah bisnis naik kelas adalah digitalisasi manajemen.
UMKM yang berdaya saing adalah mereka yang mampu memanfaatkan teknologi untuk mencatat keuangan secara real-time, mengelola rantai pasok (supply chain) secara efisien, serta membaca tren pasar melalui analisis data. Tanpa tata kelola manajerial yang modern, UMKM akan kesulitan mengakses pembiayaan perbankan (KUR) dan sulit mengukur kapasitas produksi mereka sendiri ketika mendapat permintaan ekspor dalam volume besar.
Keseimbangan Kompetisi: Pacu Ekspor, Proteksi Domestik
Mendorong produk lokal menembus pasar internasional adalah prestasi, namun menjaga pasar domestik agar tidak digerus oleh serbuan produk impor murah ilegal adalah kewajiban konstitusional. Keberpihakan regulasi sangat krusial di sini
Instrumen karantina di pintu-pintu masuk negara harus diperketat, bukan untuk menghambat perdagangan global secara proteksionis, melainkan untuk memastikan bahwa barang yang masuk ke Indonesia mematuhi standar keadilan dagang (fair trade) dan keamanan yang sama ketatnya dengan barang yang kita ekspor. Jika pasar domestik kita rapuh dan terus-menerus digempur barang impor murah berkualitas rendah, pondasi UMKM lokal akan goyah sebelum mereka sempat berkembang untuk melirik pasar luar negeri.
Kesimpulan
Menjadikan UMKM berdaya saing global bukanlah kerja semalam atau tanggung jawab satu instansi semata. Ini adalah kerja kebudayaan dan ekonomi yang membutuhkan komitmen jangka panjang.
Momentum sinergi regulasi di tingkat pusat dan dukungan penuh dari parlemen di daerah harus dikonversi menjadi aksi nyata yang berdampak langsung di lantai produksi para pelaku usaha. Ketika aspek mutu di hulu telah terstandarisasi, manajemen internal bertransformasi digital, dan pasar domestik terlindungi dengan baik, maka label “UMKM Naik Kelas” bukan lagi sekadar jargon politik, melainkan realitas baru ekonomi Indonesia yang disegani dunia.
*CEO Kinerja Group












