*) Catatan Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn
Berbagai persoalan Bangsa akhir- akhir ini semakin mucul di permukaan khususnya dibidang Teknologi di era Digital, seperti Julukan “Menara Sains” yang pernah disematkan pada Indonesia kini telah memudar. Data dan kebijakan 10 tahun terakhir menunjukkan Indonesia bergerak dari pusat riset regional, menjadi negara yang gagap teknologi. Karena Anggaran Riset Jalan di Tempat.
Fakta pertama menunjukan data Anggaran R&D Indonesia stagnan di kisaran 0,23% – 0,3% dari PDB. Jika dibandingkan dengan Malaysia 1,1%, Thailand 1,3%, Singapura 2,2%, Korea Selatan 4,8%. Tanpa bahan bakar anggaran sesuai dengan kebutuhan riset, menara setinggi apapun akan retak. Hilirisasi Riset Mati di Kertas.
Fakta kedua menunjukan bahwa; BRIN mencatat lebih dari 70% hasil riset perguruan tinggi tidak pernah sampai ke industri. Menumpuk di jurnal, berdebu di perpustakaan. Inovasi gagal jadi produk, produk gagal jadi devisa. Akhirnya Otak Dibuang, Asing Dipuja.
Fakta ketiga menunjukan bahwa; Data BPS mencatat sekitar 5.700 peneliti dan ilmuwan Indonesia bekerja di luar negeri per tahun 2023. Fenomena brain drain ini terjadi karena gaji peneliti pemula S2 di dalam negeri kalah jauh dengan UMR pabrik di Vietnam.
Fakta keempat menunjukan bahwa ekosistem sturtup kering dananya, berdasarkan Data Dealroom, pendanaan startup deeptech Indonesia anjlok 62% di tahun 2024. Investor lari karena risikonya tinggi, tapi proteksi HKI lemah. Akhirnya kita hanya jadi pasar, bukan pabrik teknologi.
Fakta Kelima menunjukaqn bahwa ; setiap Ganti kebijakan Ganti juga Haluan. Dalam 10 tahun terakhir ada 3 kali peleburan kelembagaan riset. Dari Ristek, ke Kemenristek dikti, lantas ke BRIN. Setiap ganti nomenklatur, hasil riset panjang 5 tahun putus di tengah jalan.6. Industri Minta Teknologi, Kampus Kasih Skripsi.
Fakta keenam menunjukan bahwa saat industri butuh rekomendasi teknologi, kampus hanya memberi skripsi, ada 92% industri manufaktur nasional masih level TKDN menengah-bawah. Mereka butuh insinyur proses, tapi lulusan S1 kita kebanyakan teori. Jembatan antara kampus dan pabrik belum ada.
Akibatnya Impor teknologi menjadi kecanduan. Nilai impor barang teknologi tinggi Indonesia tembus USD 32 miliar di tahun 2024. Dari chip, mesin CNC, sampai baterai. Kita bayar mahal untuk sesuatu yang seharusnya bisa kita ciptakan sendiri.
Survei UNESCO tahun 2024 menunjukan literasi Sains Publik kita menurun : Indeks Pemahaman Sains masyarakat Indonesia turun 11 poin. Konten sains kalah saing dengan konten mistis di media sosial. Fondasi menara sains adalah literasi publik. Jika fondasi rapuh, menara akan runtuh.9. Hukum Tak Melindungi Penemu.
Fakta hukumpun tidak memberikan Perlindungan bagi penemu seperti contoh; Proses paten di Indonesia rata-rata menelan waktu 4,2 tahun. Di Singapura 2 tahun selesai. Penemu lokal akhirnya malas mendaftarkan patennya karena kelamaan dan mahal. Akhirnya ide dicuri, atau dijual murah ke luar.
Prioritas Negara Bukanlah Sains, tetapi Anggaran bansos, subsidi, dan infrastruktur fisik yang memang penting. Tetapi porsi untuk riset strategis seperti semikonduktor, AI, biotek, dan energi baru selalu jadi barang sisa dalam pemberian anggaran.
Sekolah Vokasi Dibiarkan seperti SMK dan Politeknik yang harusnya jadi kaki menara, malah minim peralatan praktik. Banyak lab SMK masih menggunakan mesin tahun 2005. Lulusannya gagap pegang teknologi baru.
Dosen hanaya mengejar Jurnal, Bukan Kejar Solusi Sistem “publish or perish” membuat dosen hanya fokus SINTA/Scopus, bukan fokus menyelesaikan masalah air bersih, banjir, atau pupuk. Menara sains tanpa dampak sosial sama dengan menara kosong.
Regulasi AI dan Data kita Tertinggal. Negara lain sudah memiliki UU AI dan UU Perlindungan Data Pribadi yang jelas. Kita baru mulai. Akibatnya, data rakyat Indonesia dilatih untuk AI asing, dan kita membeli lagi produknya.
Korupsi Menggerogoti Dana Riset. KPK beberapa kali temukan penyimpangan dana riset dan pengadaan alat lab. Contohnya jika ada Satu kasus korupsi di BRIN atau Kemendikbud hal ini bisa mematikan 100 lab kecil di daerah.
Masa Depan kita di Ujung Tanduk, Jika tren ini tidak dibalik. 5 tahun ke depan, Indonesia dipastikan terjebak pada middle income trap versi teknologi. Hanya Jadi negara konsumen, bukan produsen. Jadi buruh digital, bukan insinyur.
Jalan Keluar Adalah ; Bangun Ulang Fondasi, Menara dapat dibangun kembali. Syaratnya ada 4 hal penting ; 1. Naikkan anggaran R&D ke 1% PDB. 2. Gaji peneliti setara insinyur BUMN. 3. Paten 6 bulan jadi. 4. Wajibkan industri gunakan hasil riset lokal. Tanpa 4 hal ini, gelar “Negara Gagap Teknologi” akan jadi stempel permanen kedepan untuk Indonesia.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia kekurangan sistem yang membuat orang pintar betah dan berguna di negeri sendiri. Kita menunggu Sampai sistem itu ada dan berjalan, jika tidak menara sains hanya akan jadi cerita.
*) Praktisi Hukum/Dosen






