Oleh Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
Pertanyaan Besarnya: Ke Mana Arah Konflik Iran dan Amerika Serikat?
Ke mana sesungguhnya arah konflik Iran dan Amerika Serikat? Apakah dunia sedang bergerak menuju perang yang lebih luas, atau justru memasuki fase tawar menawar baru yang pada akhirnya melahirkan kompromi?
Pertanyaan ini penting bukan hanya bagi Timur Tengah, melainkan juga bagi perekonomian global, stabilitas energi, dan masa depan politik internasional.
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan kembali meningkat. Presiden Donald Trump mengklaim Amerika Serikat sedang “membuka secara permanen” Selat Hormuz, sementara Iran menegaskan tidak ingin perang tetapi juga tidak akan tunduk pada tekanan.
Pada saat yang sama, arus kapal tanker mulai bergerak kembali, namun lalu lintas tetap jauh di bawah normal.
Harga minyak Brent pun sempat mendekati 95 dolar per barel, mencerminkan bahwa pasar belum benar benar tenang. Diketahui bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG global melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan di kawasan ini bukan isu regional semata, melainkan denyut nadi ekonomi dunia.
Masalahnya bukan hanya soal siapa yang lebih kuat secara militer. Persoalan utamanya adalah apakah konflik ini akan berubah menjadi krisis berkepanjangan yang mengganggu perdagangan, mendorong inflasi, dan memperdalam fragmentasi geopolitik dunia.
Di sinilah masa depan konflik Iran AS harus dibaca bukan sebagai duel dua negara, tetapi sebagai ujian besar terhadap tatanan global.
Selat Hormuz dan Logika Sumbatan Ekonomi
Untuk memahami situasinya, kita bisa memakai analogi sederhana. Perekonomian dunia ibarat tubuh manusia, sementara jalur energi global adalah pembuluh darahnya. Selat Hormuz adalah salah satu pembuluh darah utama itu. Ketika aliran di sana tersumbat, dampaknya tidak hanya terasa di kawasan Teluk, tetapi juga bisa menjalar ke Asia, Eropa, hingga negara negara berkembang yang sangat rentan terhadap gejolak harga energi.
Karena itu, konflik Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar adu retorika politik. Ia adalah ancaman terhadap rantai pasok dunia. Sekalipun tidak terjadi perang terbuka skala penuh, ketidakpastian saja sudah cukup untuk menciptakan premi risiko di pasar energi. Investor menjadi was was, biaya transportasi naik, asuransi pelayaran meningkat, dan negara pengimpor energi harus bersiap menghadapi tekanan fiskal.
Di sinilah letak rumusan masalah yang sesungguhnya. Dunia saat ini tidak hanya menghadapi konflik bersenjata, tetapi juga ekonomi yang rapuh. Pertumbuhan global belum sepenuhnya pulih, tekanan inflasi masih membayangi banyak negara, dan fragmentasi geopolitik membuat koordinasi internasional makin lemah. Dalam situasi seperti ini, satu percikan di Selat Hormuz bisa menjadi api yang menjalar jauh ke mana mana.
Mengapa Konflik Ini Tidak Mudah Berakhir
Ada anggapan bahwa konflik ini akan segera selesai karena semua pihak tahu biaya perang terlalu mahal. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Justru karena biaya perang tinggi, masing masing pihak cenderung bermain di wilayah abu abu, yaitu meningkatkan tekanan tanpa melompat ke perang total.
Amerika Serikat ingin menunjukkan ketegasan strategis dan menjaga posisi tawarnya. Iran ingin membuktikan bahwa mereka tidak bisa dipaksa menyerah. Akibatnya, yang muncul adalah konflik dengan intensitas naik turun, bukan perdamaian yang stabil.
Kita melihat pola ini dengan jelas. Di satu sisi, ada pembicaraan tak langsung dan upaya mediasi. Di sisi lain, ada blokade, ancaman terhadap lalu lintas laut, dan perang narasi yang terus diproduksi untuk konsumsi domestik maupun internasional.
Trump menggambarkan situasi seolah kendali ada di tangannya, sementara Teheran menekankan martabat nasional dan hak kedaulatan. Ini menunjukkan bahwa konflik tersebut tidak hanya berlangsung di laut dan udara, tetapi juga di ruang persepsi publik.
Artinya, masa depan konflik Iran AS kemungkinan besar tidak bergerak ke satu titik ekstrem secara cepat. Dunia tampaknya akan menghadapi fase panjang berupa ketegangan terkendali, di mana negosiasi terus berlangsung, tetapi ancaman militer dan ekonomi tetap dipelihara sebagai alat tawar.
Dalam bahasa kebijakan publik, ini adalah situasi ketidakpastian terstruktur. Semua pihak menahan diri dari kehancuran total, tetapi juga enggan benar benar melepaskan tekanan.
Tiga Skenario Masa Depan
Jika kita meneropong ke depan, setidaknya ada tiga skenario yang layak diperhatikan.
Skenario pertama adalah de eskalasi bertahap. Dalam skenario ini, mediasi dari negara ketiga berhasil menciptakan gencatan senjata yang lebih kokoh dan membuka kembali jalur perundingan.
Lalu lintas energi pulih secara bertahap, harga minyak turun, dan pasar keuangan kembali stabil. Ini adalah skenario terbaik, tetapi bukan yang paling mudah dicapai karena masing masing pihak masih membawa tuntutan yang keras.
Skenario kedua adalah konflik beku berkepanjangan. Ini barangkali skenario paling realistis. Tidak ada perang total, tetapi tidak ada pula penyelesaian mendasar. Selat Hormuz tidak sepenuhnya lumpuh, namun tidak kembali normal.
Harga minyak tidak meledak, tetapi tetap tinggi dengan premi risiko yang terus melekat. Dalam skenario ini, dunia hidup dalam bayangan krisis. Ekonomi global mungkin tidak runtuh, tetapi bergerak dengan rem tangan yang terus tertarik.
Skenario ketiga adalah eskalasi besar yang melibatkan lebih banyak aktor regional dan mengguncang pasar energi secara tajam. Jika ini terjadi, dunia akan menghadapi lonjakan harga minyak, tekanan inflasi baru, pelemahan pertumbuhan, dan kemungkinan penataan ulang aliansi geopolitik.
Rusia, China, negara negara Teluk, hingga ekonomi berkembang seperti Indonesia akan ikut terdampak bahkan lembaga seperti IMF telah mengingatkan potensi gangguan terhadap pertumbuhan global, sementara pejabat bank sentral AS menyoroti risiko terhadap ekspektasi inflasi.
Dampaknya bagi Indonesia dan Negara Berkembang
Bagi Indonesia, konflik ini harus dibaca dengan kacamata kewaspadaan ekonomi. Kita mungkin jauh secara geografis, tetapi sangat dekat secara ekonomi. Ketika harga minyak dunia naik, tekanan akan muncul pada subsidi energi, inflasi domestik, nilai tukar, dan biaya logistik.
Pada saat yang sama, ketidakpastian global dapat membuat arus modal menjadi lebih sensitif dan menekan pasar keuangan nasional.
Negara berkembang pada umumnya berada dalam posisi yang sulit. Mereka bukan pengambil keputusan utama dalam konflik ini, tetapi harus menanggung sebagian biaya ekonominya. Ini ibarat penumpang bus yang tidak ikut memegang setir, tetapi tetap merasakan benturan ketika kendaraan oleng. Karena itu, membaca konflik Iran AS tidak cukup dari sisi geopolitik semata.
Ini juga soal ketahanan fiskal, keamanan energi, dan kemampuan negara dalam mengelola gejolak eksternal.
Indonesia perlu mempercepat diversifikasi energi, memperkuat cadangan strategis, dan membangun kebijakan fiskal yang lebih adaptif terhadap shock eksternal. Selain itu, diplomasi Indonesia di forum internasional harus konsisten mendorong penyelesaian damai dan stabilitas jalur perdagangan global. Dalam dunia yang saling terhubung, netralitas pasif tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah netralitas aktif yang berbasis kepentingan nasional.
Arah yang Paling Mungkin: Bukan Damai Penuh, Bukan Perang Penuh
Lalu, apa jawaban atas pertanyaan di awal? Menurut saya, masa depan konflik Iran AS dalam jangka pendek hingga menengah lebih mungkin bergerak ke arah konflik terkendali daripada perang total maupun perdamaian penuh.
Dengan kata lain, dunia akan hidup dalam ketegangan yang terus dijaga di bawah ambang kehancuran.
Mengapa demikian? Karena semua pihak memahami bahwa perang besar akan sangat mahal, tetapi mereka juga belum punya insentif politik yang cukup untuk sepenuhnya mundur. Amerika Serikat membutuhkan tekanan untuk menjaga kredibilitas strategisnya. Iran membutuhkan perlawanan untuk menjaga legitimasi domestik dan posisi tawarnya.
Negara mediator membutuhkan proses diplomasi agar kawasan tidak benar benar meledak. Sementara pasar global terus berusaha menebak apakah api ini akan padam atau justru membesar.
Inilah paradoks zaman kita. Dunia semakin paham bahwa perang membawa kerugian besar, tetapi juga semakin terbiasa hidup di tepi krisis.
Dunia Harus Memilih Akal Sehat
Pada akhirnya, konflik Iran dan Amerika Serikat adalah cermin dari dunia yang sedang kehilangan keseimbangan. Kekuatan militer masih dipakai untuk menekan, diplomasi masih berjalan tetapi lemah, dan pasar menjadi ruang pertama yang merasakan kecemasan.
Kita boleh berharap pada mediasi, tetapi harapan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik untuk memilih akal sehat di atas ego kekuasaan.
Jika tidak, Selat Hormuz akan menjadi simbol yang lebih besar dari sekadar jalur laut. Ia akan menjadi lambang betapa rapuhnya peradaban global ketika kepentingan jangka pendek lebih dominan daripada stabilitas bersama.
Karena itu, meneropong masa depan konflik Iran AS sesungguhnya adalah meneropong masa depan dunia itu sendiri. Apakah kita akan terus hidup dalam logika saling tekan, atau mulai membangun logika saling selamatkan?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya nasib Timur Tengah, tetapi juga arah ekonomi dan perdamaian global dalam beberapa tahun ke depan.
END












