BUDAYA  

Dr. Ema Siti Huzaemah Ahmad Dikukuhkan sebagai Ketua Mitra Paguyuban Pasundan Musi Rawas

MUSI RAWAS, NUSANTARANEWS.co – Dr. Ema Siti Huzaemah Ahmad, S.H., M.H., CFrA, yang juga menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Musi Rawas, resmi dikukuhkan sebagai Ketua Mitra Paguyuban Pasundan Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, dalam acara pengukuhan pengurus yang berlangsung di Aula Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, Minggu (1/11/2026).

Pengukuhan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kerukunan masyarakat, sekaligus melestarikan kebudayaan di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Musi Rawas.

Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan berbagai kesenian tradisional Sunda, mulai dari tari jaipong, paduan suara, hingga atraksi debus yang menarik perhatian para tamu undangan.

Mengutip tayangan TVRI Sumatera Selatan, acara dibuka dengan penampilan tari jaipong yang dibawakan anggota Paguyuban Pasundan. Iringan musik tradisional dengan ritme cepat dan gerakan dinamis menghadirkan suasana meriah sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya Sunda.

Suasana semakin semarak ketika atraksi debus ditampilkan di hadapan para tamu undangan. Aksi yang memperlihatkan ketahanan tubuh terhadap senjata tajam tersebut memukau hadirin, termasuk Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud yang turut mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggamnya.

Dalam sambutannya, Ema menyampaikan harapan agar Mitra Paguyuban Pasundan dapat menjadi wadah silaturahmi bagi masyarakat, sekaligus memperkuat hubungan sosial dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

“Paguyuban ini sebagai wadah silaturahmi,” kata Ema.

Menurut Ema, keberadaan paguyuban masyarakat memiliki peran penting dalam membangun kebersamaan serta mempererat hubungan antarmasyarakat yang memiliki latar belakang suku dan budaya berbeda.
Pelestarian Budaya dan Pendidikan

Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof. Kunkunrat, menjelaskan bahwa Paguyuban Pasundan memiliki komitmen untuk menjaga keberlangsungan budaya bangsa melalui pelestarian seni tradisional, yang diimbangi dengan penguatan bidang pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Kunkunrat menyerahkan bantuan seperangkat gamelan Sunda kepada pengurus Mitra Paguyuban Pasundan Kabupaten Musi Rawas.

Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang kegiatan kesenian sekaligus mendorong pengembangan dan pelestarian budaya Sunda di Kabupaten Musi Rawas.

“Mudah-mudahan potensi budaya Sunda di Musi Rawas dapat berkembang. Tadi paduan suaranya luar biasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Paguyuban Pasundan kini telah berkembang di berbagai daerah di Indonesia dan memiliki jaringan hingga sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Kanada, Jepang, kawasan Timur Tengah, dan Australia.

Menurutnya, Paguyuban Pasundan tidak hanya berfungsi sebagai organisasi kemasyarakatan, tetapi juga menjadi gerakan kebudayaan yang berperan memperkenalkan dan melestarikan warisan budaya bangsa.

“Ini adalah gerakan budaya untuk mengajak orang mengenal potensi budaya,” katanya.

Selain kebudayaan, pendidikan juga menjadi salah satu fokus utama Paguyuban Pasundan. Saat ini, organisasi tersebut memiliki empat universitas serta 112 sekolah menengah atas dan kejuruan.

Ia menilai pendidikan merupakan investasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga keberlangsungan budaya bangsa.

“Investasi yang paling utama adalah SDM melalui pendidikan. Pentingnya dibentuk Paguyuban Pasundan di mana pun berada untuk pelestarian budaya, jangan sampai budaya kita kalah oleh budaya asing,” ungkapnya.
Bupati Musi Rawas Sambut Kehadiran Paguyuban Pasundan

Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud menyambut baik terbentuknya kepengurusan Mitra Paguyuban Pasundan di wilayahnya.

Menurut Ratna, keberadaan berbagai paguyuban menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga persatuan dan mempererat hubungan sosial masyarakat yang memiliki latar belakang suku dan budaya berbeda.

Ia mengatakan, masyarakat Musi Rawas berasal dari beragam suku, di antaranya Jawa, Bali, Padang, dan Sunda. Bahkan, sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Musi Rawas juga berasal dari masyarakat Sunda.

“Saya sangat senang dengan paguyuban masyarakat ini. Di Musi Rawas ini banyak sekali sukunya, ada Jawa, Bali, Padang, dan ada juga beberapa pejabat di sini orang Sunda. Banyak ragam kebudayaan di Musi Rawas,” ujar Ratna.

Pengukuhan Mitra Paguyuban Pasundan Kabupaten Musi Rawas diharapkan dapat semakin memperkuat kebersamaan masyarakat, menjaga keharmonisan dalam keberagaman, serta menjadi ruang bagi pengembangan seni dan budaya di Kabupaten Musi Rawas. (Muzer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *