BUDAYA  

Panglima Tambak Baya/Panglima Tertinggi MMBB Marselinus Mian: Setia Pada Adat Mengawal Kedamaian dan Keharmonisan Nusantara

Panglima Tambak Baya/Panglima Tertinggi MMBB, Marselinus Mian , S.E, M.MM, bersama Kepala Otorita IKN Dr. (H.C.) Ir. H. M. Basuki Hadimuljono, M.Sc., Ph.D.

JAKARTA, NUSANTARANEWS.co – Keberagaman suku, budaya, dan adat istiadat merupakan kekayaan terbesar yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Di tengah gempuran modernisasi dan derasnya arus globalisasi, eksistensi adat serta kearifan lokal menjadi fondasi krusial yang menjaga marwah dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu sosok yang secara konsisten berdiri kukuh mendedikasikan hidupnya di jalur ini adalah Marselinus Mian.

Sebagai Panglima Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya (PBRTB) sekaligus Panglima Tertinggi Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB), Marselinus Mian terus menunjukkan komitmen tanpa batas dalam merawat nilai-nilai luhur warisan leluhur masyarakat Dayak. Melalui organisasi kebudayaan yang dipimpinnya, ia aktif bergerak mengawal kedamaian, keselarasan, dan keharmonisan di tengah keberagaman sosial-budaya Nusantara.

Atas dedikasi tinggi dan konsistensinya tersebut, Marselinus Mian baru-baru ini dinobatkan sebagai salah satu tokoh penggerak dan pelestari budaya Dayak dalam ajang bergengsi Penghargaan Kinerja Ekselen Award 2026. Penghargaan ini menjadi bukti nyata apresiasi atas “tangan dingin” beliau yang berhasil menghidupkan tradisi dalam denyut nadi kehidupan modern, hingga membuat kebudayaan Dayak dikenal luas melintasi batas wilayah dan negara.

Menurut pria yang akrab disapa Panglima Mian ini, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu atau ritual pertunjukan tanpa makna, melainkan akar etika dan kompas moral bagi peradaban bangsa. Di dalam adat, terkandung nilai-nilai luhur kemanusiaan, toleransi, dan keadilan yang menjadi instrumen benteng moral bagi generasi muda dari ancaman degradasi zaman.

“Kebudayaan telah mengajarkan kita tentang nilai-nilai cinta kasih, tentang harmoni hidup, tentang hidup bertoleransi, dan tentang nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Adil ka’ Talino, hidup ini harus selalu berselimut cinta kasih, bersikap adil, jujur, dan tidak diskriminatif terhadap sesama manusia,” tegas Marselinus Mian, mengutip filosofi sakral masyarakat Dayak.

Lebih lanjut, Panglima Mian selalu menekankan kepada seluruh anggotanya agar adat dan hukum nasional dapat berjalan beriringan guna menciptakan ketertiban. Ia dengan tegas melarang segala bentuk tindakan premanisme, pemerasan, atau perilaku negatif lainnya yang dapat merusak citra masyarakat adat. Baginya, melestarikan budaya juga berarti membentuk generasi yang tangguh, mandiri, bertanggung jawab, dan patuh hukum.

Kiprah inspiratif Panglima Mian diharapkan dapat menjadi teladan nasional. Kesetiaan pada akar budaya leluhur adalah benteng utama untuk memastikan bahwa Indonesia akan selalu menjadi rumah yang aman, damai, dan harmonis bagi seluruh anak bangsa.

Sang Maestro Penjaga Nilai-nilai Tradisi

Pelestarian budaya Dayak bukan hanya menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga upaya merawat identitas kebangsaan (NKRI) dan keseimbangan antara pembangunan modern dengan kearifan lokal.

Di tengah gempuran modernisasi, Marselinurs Mian berdiri kukuh sebagai benteng kearifan lokal. Konsistensinya dalam merawat adat istiadat, mengajarkan kesenian tradisi kepada generasi muda, dan menjaga eksistensi kekayaan budaya, menjadikan beliau inspirasi sejati bagi kita semua.

“ Kebudayaan telah mengajarkan kita tentang nilai-nilai cinta kasih. Tentang harmoni hidup, tentang hidup bertoleransi, dan tentang nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri,” kata Marselinus Mian suatu ketika.

Menurut Mian, demikian karib disapa,  menjaga budaya adalah menjaga wasiat leluhur, upaya sadar untuk merawat identitas, nilai-nilai luhur, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

“ Ini bukan hanya soal melestarikan benda fisik, tetapi juga perilaku, bahasa, kepercayaan, dan tradisi yang menjadi jati diri bangsa,” ungkapnya.

“Melestarikan adat budaya adalah bagian dari menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan melestarikan budaya, kita tidak hanya menghormati nenek moyang, tetapi juga memperkuat fondasi kebudayaan Indonesia di tengah era globalisasi,” ujarnya.

Karena perjuangannya, dedikasinya, kini budaya Dayak telah berkembang luas di berbagai negara seperti Malaysia, Brunai, Kalimmantan Tengah, Kalimantan Timur, Kaltara, dengan jumlah anggota mencapai ratusan ribu.

Marselinus Mian, adalah sosok yang tidak hanya mencintai warisan leluhur, tetapi berdedikasi tinggi untuk menghidupkannya dalam denyut nadi kehidupan modern. Melalui tangan dingin dan komitmen tanpa batas, beliau telah berhasil menggerakkan komunitas, mendokumentasikan nilai-nilai luhur, dan memastikan api kebudayaan tetap menyala bagi generasi mendatang.

Kiprah inspiratif Panglima Mian diharapkan dapat menjadi teladan nasional. Kesetiaan pada akar budaya leluhur adalah benteng utama untuk memastikan bahwa Indonesia akan selalu menjadi rumah yang aman, damai, dan harmonis bagi seluruh anak bangsa.

[Jagad]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *