MEDAN, NUSANTARANEWS.co — Ada pohon yang tumbuh sangat tinggi tapi orang hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Ada pula pohon yang mungkin tidak paling tinggi tapi setiap musim memberikan buah yang dapat dinikmati banyak orang.
Dalam kehidupan, kita sering terlalu sibuk mengejar ketinggian: jabatan, gelar, prestasi, popularitas, jumlah pengikut, penghargaan, atau pengakuan. Semua itu penting tapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah kita menjadi tinggi, lalu apa yang dapat kita berikan kepada orang lain? Sebab, ketinggian tanpa manfaat dapat berhenti sebagai kebanggaan pribadi, sedangkan keberhasilan yang menghasilkan manfaat akan meninggalkan jejak yang lebih panjang.
Pendidikan pun demikian. Guru, dosen, mahasiswa, dan siapa pun yang sedang bertumbuh tidak cukup hanya menjadi “pohon yang tinggi”; kita perlu menjadi pohon yang berbuah, yakni memiliki pengetahuan, karakter, dan kemampuan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan.
Dalam dunia pendidikan, keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari nilai ujian, gelar akademik, jabatan, atau banyaknya prestasi. Pendidikan yang bermakna seharusnya membuat seseorang semakin mampu menggunakan apa yang dipelajarinya untuk memahami persoalan, membantu orang lain, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Prananto et al. (2025), melalui tinjauan sistematis tentang dukungan dosen dan keterlibatan mahasiswa, menunjukkan bahwa dukungan pendidik berkaitan dengan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran. Artinya, pendidik bukan hanya “pemberi materi” tapi juga bagian dari lingkungan yang membantu peserta didik tumbuh menjadi pembelajar yang aktif.
Temuan Zhang dan Kim (2025) memperkuat gagasan tersebut. Penelitian terhadap 524 mahasiswa menunjukkan bahwa dukungan guru berhubungan dengan keyakinan motivasional seperti self-efficacy dan tujuan intrinsik, yang kemudian berkontribusi terhadap keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif mahasiswa.
Guru yang baik tidak hanya membuat peserta didik “tahu” tapi juga membantu mereka percaya bahwa mereka mampu belajar, mencoba, dan berkembang. Inilah buah pertama pendidikan: tumbuhnya manusia yang percaya pada kemampuan dirinya sekaligus mau mengembangkan kemampuan itu untuk tujuan yang lebih besar.
Pohon yang berbuah juga tidak tumbuh dalam sehari. Ia membutuhkan akar, air, cahaya, dan perawatan. Begitu pula manusia membutuhkan proses, dukungan, pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang.
Penelitian Guo et al. (2025) menemukan bahwa dukungan guru berhubungan dengan keterlibatan mahasiswa melalui motivasi otonom dan self-efficacy.
Sementara itu, Wang dan Jin (2025) menemukan bahwa dukungan guru dapat meningkatkan kesejahteraan mahasiswa, baik secara langsung maupun melalui mindfulness dan self-efficacy.
Temuan ini memberi pelajaran sederhana: pendidik yang memberikan ruang aman untuk bertanya, gagal, mencoba kembali, dan memperoleh umpan balik sesungguhnya sedang membantu peserta didik membangun akar yang kuat.
Menjadi pohon yang berbuah juga berarti memiliki kepedulian terhadap orang lain. Penelitian Li et al. (2025) terhadap 1.153 remaja menemukan bahwa dukungan emosional guru berhubungan positif dengan perilaku prososial; hubungan tersebut juga berkaitan dengan self-compassion dan kebermaknaan hidup.
Temuan ini sangat relevan dengan kehidupan sekolah. Seorang guru yang tidak mempermalukan siswa ketika melakukan kesalahan tapi membimbingnya untuk memperbaiki diri, sebenarnya sedang menanamkan nilai kemanusiaan. Seorang dosen yang menghargai mahasiswa yang berbeda pendapat sedang mengajarkan bahwa kecerdasan tidak harus melahirkan kesombongan tapi dapat melahirkan keterbukaan.
Penelitian Phan et al. (2025) juga menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfulness yang diterapkan guru dapat berkaitan dengan perilaku prososial siswa sekaligus membantu aspek stres dan koping guru. Ini memberikan contoh konkret bahwa kesejahteraan pendidik dan peserta didik tidak dapat dipisahkan. Guru yang terus-menerus kelelahan akan kesulitan memberikan energi positif kepada siswa.
Karena itu, solusi tidak cukup meminta guru “lebih sabar” tapi sekolah dan perguruan tinggi perlu membangun budaya kerja yang sehat, komunitas belajar pendidik, ruang refleksi, dan dukungan profesional yang nyata.
Dalam konteks Indonesia, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana. Guru dapat mengubah satu jam pelajaran menjadi ruang yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan gagasannya, bekerja sama, memecahkan persoalan lingkungan sekitar, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Dosen dapat meminta mahasiswa tidak hanya membuat makalah tapi juga mengubah hasil kajian menjadi rekomendasi bagi masyarakat, artikel populer, proyek sosial, atau produk edukatif.
Bahkan penggunaan AI dapat diarahkan untuk menghasilkan “buah”: mahasiswa tidak sekadar meminta AI menyelesaikan tugas tapi menggunakan AI untuk mencari alternatif gagasan, kemudian memeriksa sumber, menguji kebenaran informasi, dan menghasilkan karya dengan pertanggungjawaban akademik. Dengan demikian, teknologi menjadi alat untuk menumbuhkan manusia, bukan menggantikan proses berpikirnya.
Gagasan tentang pentingnya kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan berpikir kreatif juga sejalan dengan penelitian Bahtiar et al. (2023). Mereka menunjukkan pentingnya keterampilan tersebut dalam pemecahan masalah sains.
Dalam kehidupan pendidikan, keterampilan itu merupakan bagian dari “buah” yang seharusnya dihasilkan oleh proses pembelajaran: peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan tapi juga mampu mengomunikasikan gagasan, bekerja bersama, berpikir kritis, dan menghasilkan solusi.
Menjadi “pohon yang tinggi” memang baik. Kita perlu terus belajar, meningkatkan kompetensi, meraih prestasi, dan mencapai posisi yang lebih baik. Tetapi jangan berhenti pada ketinggian. Jadilah pohon yang berbuah. Jadilah guru yang ilmunya membuat siswa lebih percaya diri. Jadilah dosen yang bimbingannya membuat mahasiswa berani berpikir. Jadilah pemimpin yang keberadaannya membuat orang lain berkembang. Jadilah orang berilmu yang kehadirannya memberi manfaat. Sebab, tinggi hanya membuat kita terlihat tapi buah membuat kita dikenang.
Dan dalam pendidikan, ukuran keberhasilan yang paling indah bukanlah seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kita pernah hadir di dalamnya, seperti dikutip dari kompasiana.com/Bahtiar, Sabtu (10/10/2026) siang.
(KTS/rel)
Artikel ini telah ditayangkan d kompasiana.com dengan penulis Bahtiar












