OPINI  

Ketika Gunung-gunung Bergejolak, Apa yang Sedang Allah Ajarkan Kepada Manusia?

Marshal

Oleh: Marshal
( Pengamat Sosial, Budaya, dan Keagamaan )

Ada saat ketika manusia merasa bumi begitu tenang.

Kita membangun rumah di atasnya. Menanam pohon di lerengnya. Membuka jalan di punggung bukitnya. Menggali tanahnya. Mengambil kekayaannya. Menyusun rencana kehidupan seolah-olah dunia ini akan selalu berada dalam kendali manusia.

Lalu gunung berguncang.

Asap membubung.

Lava mengalir.

Abu menutup langit.

Manusia yang selama ini merasa kuat mendadak berlari mencari keselamatan.

Di hadapan gunung yang meletus, kesombongan manusia mendadak menjadi sangat kecil.

Fenomena erupsi gunung api yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia semestinya tidak hanya dibaca dari sisi kebencanaan. Ia memang harus dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, dipantau dengan instrumen, dan ditangani dengan mitigasi yang tepat.

Namun bagi seorang Muslim, bencana juga dapat menjadi ruang untuk tafakkur dan muhasabah.

Bukan untuk gegabah mengatakan bahwa setiap letusan adalah hukuman Allah.

Bukan pula untuk memastikan bahwa setiap bencana merupakan pertanda kiamat.

Tetapi untuk bertanya lebih dalam:

Apa yang sedang alam ajarkan kepada manusia?

ALAM TIDAK PERNAH BERHENTI BERTASBIH

Al-Qur’an mengajarkan bahwa seluruh alam berada dalam ketundukan kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.”

QS. Al-Isra: 44.

Ayat ini mengingatkan manusia bahwa alam bukan benda mati tanpa makna.

Gunung, bumi, langit, laut, pepohonan—semuanya berada dalam ketetapan dan hukum Allah.

Manusia mengenal sebagian hukum itu melalui ilmu pengetahuan.

Vulkanolog mempelajari magma.

Seismolog membaca gempa.

Para ahli memantau perubahan aktivitas gunung.

Teknologi membaca getaran yang tidak mampu dirasakan manusia.

Semua itu bukan lawan dari iman.

Justru ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan bagi manusia untuk semakin menyadari betapa luas dan kompleksnya ciptaan Allah.

Jangan tergesa menyebut bencana sebagai hukuman

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Ketika sebuah gunung meletus, mudah sekali seseorang berkata:

“Ini azab karena manusia sudah banyak berdosa.”

Pernyataan seperti itu tidak boleh dilontarkan tanpa dasar wahyu.

Sebab siapa yang tahu secara pasti maksud Allah di balik sebuah bencana?

Bencana dapat menjadi ujian.

Dapat menjadi peringatan.

Dapat menjadi sunnatullah dalam kehidupan alam.

Dan bagi sebagian orang, musibah bahkan dapat menjadi jalan memperoleh pahala ketika dihadapi dengan kesabaran.

Allah SWT berfirman:

“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

QS. Al-Baqarah: 155.

Ayat ini memberikan perspektif yang sangat penting.

Tidak setiap musibah boleh kita vonis sebagai hukuman.

Tetapi setiap musibah dapat menjadi ujian bagi manusia yang mengalaminya dan ujian bagi manusia yang menyaksikannya.

Gunung meletus, manusia di ingatkan tentang kekuasaan

Manusia modern memiliki teknologi luar biasa.

Kita mampu terbang ke angkasa.

Membangun gedung ratusan lantai.

Menciptakan kecerdasan buatan.

Menghubungkan manusia dari berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik.

Tetapi ketika alam bergerak di luar kendali manusia, kita kembali diingatkan:

Manusia memiliki kemampuan besar, tetapi manusia bukan penguasa mutlak alam semesta.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong.”

QS. Al-Isra: 37.

Gunung yang menjulang tinggi seakan mengajarkan kerendahan hati.

Kita mungkin dapat mengukur ketinggiannya.

Kita dapat memetakan kawahnya.

Kita dapat memasang sensor di tubuhnya.

Tetapi kita tetap bukan pemilik mutlak bumi.

Kita hanyalah khalifah yang diberi amanah untuk mengelolanya.

Ketika alam bergejolak, manusia harus berhenti merusak

Di sinilah renungan agama bertemu dengan tanggung jawab lingkungan.

Islam tidak mengajarkan manusia menjadi perusak bumi.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”

QS. Al-A’raf: 56.

Ayat ini sangat relevan ketika kita berbicara tentang bencana ekologis.

Namun kita juga harus adil dalam berpikir.

Tidak setiap letusan gunung disebabkan oleh kerusakan lingkungan manusia.

Erupsi adalah proses geologi yang memiliki mekanisme alamiahnya sendiri.

Tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk tidak memperparah kerentanan masyarakat terhadap bencana.

Hutan yang rusak.

Daerah resapan yang hilang.

Tata ruang yang buruk.

Permukiman yang dibangun tanpa memperhatikan risiko.

Eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali.

Semua itu dapat memperbesar dampak ketika bencana datang.

Karena itu, iman tidak cukup hanya dengan berdoa.

Iman juga menuntut tanggung jawab.

Ketika gunung memberi peringatan jangan melawan Ilmu

Ada satu kesalahan lain yang harus dihindari.

Ketika gunung menunjukkan peningkatan aktivitas, jangan melawan peringatan ilmiah dengan mengatakan:

“Kita serahkan saja kepada Allah.”

Kalimat itu benar dalam semangat tawakal, tetapi bisa keliru jika digunakan untuk menolak ikhtiar.

Tawakal bukan berarti mengabaikan keselamatan.

Rasulullah SAW mengajarkan prinsip mengambil sebab.

Dalam hadis tentang unta, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Ikatlah ia dan bertawakallah.”

HR. Tirmidzi.

Pesannya jelas.

Ikat untanya terlebih dahulu. Kemudian bertawakal.

Dalam konteks bencana:

Ikuti informasi PVMBG.

Patuhi radius bahaya.

Evakuasi ketika diperintahkan.

Gunakan masker ketika terjadi hujan abu.

Lindungi kelompok rentan.

Jangan mendekati kawah hanya untuk mengambil gambar.

Jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Itulah tawakal yang disertai ikhtiar.

Dalam kasus Anak Krakatau, misalnya, Badan Geologi mempertahankan Level III/Siaga dan memberikan rekomendasi agar masyarakat tidak memasuki radius tertentu dari pusat aktivitas.

Mentaati peringatan keselamatan bukan berarti kurang tawakal.

Justru itu bagian dari menjaga amanah kehidupan.

Jangan jadikan bencana sebagai konten

Ada ironi di zaman media sosial.

Ketika gunung meletus, sebagian orang berlari menjauh.

Sebagian lainnya justru berlari mendekat—mencari gambar, video, sensasi, dan perhatian.

Padahal Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Kaidah yang bersumber dari hadis ini menjadi sangat penting dalam situasi bencana.

Jangan mempertaruhkan nyawa demi sebuah video.

Jangan menerobos zona berbahaya demi konten.

Jangan menyebarkan foto lama sebagai kejadian terbaru.

Jangan membuat judul yang menakut-nakuti masyarakat.

Dan jangan menjadikan penderitaan korban sebagai tontonan.

Di balik kepulan asap ada manusia yang sedang kehilangan rumah.

Di balik hujan abu ada anak-anak yang harus bernapas dengan susah.

Di balik suara letusan ada keluarga yang mungkin sedang menyelamatkan anggota keluarganya.

Bencana bukan hiburan.

Bencana adalah panggilan kemanusiaan.

Mungkin Allah sedang mengajarkan kita tentang kerendahan hati

Ada pelajaran yang sangat dalam dari gunung.

Ia tinggi.

Tetapi tidak pernah mengaku sebagai Tuhan.

Ia besar.

Tetapi tetap tunduk kepada hukum Allah.

Ia menyimpan api.

Tetapi api itu sendiri berada dalam ketetapan-Nya.

Lalu manusia?

Makhluk yang tubuhnya hanya tersusun dari tanah, air, darah, dan tulang, justru sering merasa paling berkuasa.

Kita mudah menghina.

Mudah menzalimi.

Mudah menyombongkan jabatan.

Mudah merasa kaya.

Mudah merasa paling benar.

Padahal satu kejadian alam saja cukup untuk mengingatkan bahwa kehidupan manusia begitu rapuh.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.”

QS. Luqman: 18.

Maka gunung tidak hanya berbicara tentang magma.

Ia berbicara tentang kesombongan manusia.

Bencana seharusnya melahirkan solidaritas, bukan saling menyalahkan

Ketika musibah datang, jangan sibuk mencari siapa yang harus disalahkan sebelum menolong mereka yang membutuhkan.

Islam mengajarkan kepedulian.

Allah berfirman:

“Dan tolong-menolongl ah kamu dalam kebajikan dan takwa.”

QS. Al-Ma’idah: 2.

Maka ketika saudara kita terkena dampak erupsi, yang dibutuhkan adalah:

makanan,

air bersih,

obat-obatan,

tempat pengungsian,

perlindungan anak,

pendampingan bagi lansia,

dukungan bagi penyandang disabilitas,

serta kekuatan moral agar mereka tidak merasa sendirian.

Di situlah agama menjadi nyata.

Bukan hanya di mimbar, tetapi di tenda pengungsian.

Bukan hanya dalam ceramah, tetapi dalam tangan yang mengangkat korban.

Bukan hanya dalam doa, tetapi dalam bantuan yang benar-benar sampai.

Jangan hanya takut kepada gunung, takutla kepada kesombongan diri

Gunung akan tetap memiliki hukum alamnya.

Magma akan bergerak.

Tekanan akan berubah.

Erupsi akan terjadi ketika kondisi geologi memungkinkannya.

Tugas manusia adalah memahami, memantau, menghindari bahaya, dan melakukan mitigasi.

Tetapi sebagai Muslim, ada tugas lain yang tidak kalah penting:

muhasabah.

Ketika bumi berguncang, tanyakan kepada diri:

Apakah iman kita masih teguh?

Apakah salat kita masih terjaga?

Apakah kita masih peduli kepada sesama?

Apakah kita masih menjaga lingkungan?

Apakah kita masih amanah?

Apakah kita masih takut menzalimi manusia?

Apakah kita masih takut kepada Allah?

Jangan menunggu gunung meletus untuk belajar rendah hati.

Jangan menunggu rumah runtuh untuk belajar menghargai keluarga.

Jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.

Jangan menunggu kematian untuk belajar bertaubat.

Sebab manusia tidak pernah diberi tahu kapan giliran terakhirnya.

Gunung boleh bergejolak, hati jangan mati

Fenomena erupsi gunung api adalah kenyataan alam yang harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan mitigasi.

Tetapi bagi seorang Muslim, setiap kejadian alam juga dapat menjadi ayat kauniyah—tanda-tanda kebesaran Allah yang mengajak manusia berpikir dan merenung.

Bukan untuk menebak-nebak perkara gaib.

Bukan untuk menghakimi korban.

Bukan untuk menuduh bencana sebagai hukuman tanpa dalil.

Melainkan untuk menyadari bahwa manusia bukan penguasa mutlak kehidupan.

Kita hanya hamba.

Kita hanya khalifah.

Kita hanya sedang menjalani amanah yang suatu hari akan berakhir.

Maka ketika gunung bergemuruh, jangan hanya dengarkan suaranya.

Dengarkan juga pesan yang mungkin lahir di dalam hati:

Rendahkan kesombongan.

Perbaiki hubungan.

Jaga alam.

Tolong sesama.

Patuhi ilmu dan peringatan keselamatan.

Perbanyak doa.

Perbanyak istighfar.

Dan kembali kepada Allah.

Karena mungkin yang paling berbahaya bukanlah ketika gunung mulai mengeluarkan api.

Yang lebih berbahaya adalah ketika hati manusia sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kehilangan rasa malu kepada sesama, dan kehilangan kepedulian terhadap bumi yang dititipkan kepadanya.

Gunung dapat meletus dan kemudian reda.

Tetapi jika hati manusia yang meletus oleh kesombongan, dendam, keserakahan, dan kezaliman—kehancurannya bisa jauh lebih panjang.

Maka hari ini, ketika gunung-gunung bergejolak, barangkali pertanyaan terbesar bukan:

“Kapan gunung akan meletus?”

Tetapi:

“Kapan manusia akan sadar?” ( Agus.ps )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *