DENPASAR, NUSANTARANEWS.co – Komjen Pol. (Purn) Dr. Dr. Drs. I Made Mangku Pastika, M.M., dan mantan anggota DPD RI dan mantan Gubernur Bali dua periode merayakan ulang tahunnya pada Senin 22 Juni 2026.
Pada momen istimewa tersebut, Mangku Pastika menerima kado buku berjudul “Tantangan Pancasila di Era Ideologi Transnasional”. Buku tersebut diserahkan langsung oleh Drs. I Putu Suasta, M.A., sebagai bentuk penghormatan sekaligus kado spesial bagi Mangku Pastika yang genap berusia 75 tahun.
Dalam suasana penuh keakraban perayaan ulang tahun ini dihadiri keluarga, sahabat, serta berbagai tokoh masyarakat yang selama ini memiliki kedekatan dengan Mangku Pastika. Hadir pula jajaran Pengurus PP Polri Bali, komunitas Bali Mandara, guru dan alumni SMA Taruna Mandara, serta sejumlah tokoh masyarakat dan akademisi Bali.
Putu Suasta menjelaskan bahwa buku yang ditulis bersama Prof. Dr. Drs. I Gusti Agung Ngurah Agung, S.H., M.H. tersebut lahir dari kajian mendalam mengenai tantangan ideologi transnasional terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Menurutnya, perkembangan globalisasi dan derasnya arus informasi digital telah menghadirkan tantangan baru bagi eksistensi Pancasila sebagai dasar negara sekaligus ideologi pemersatu bangsa. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk memperkuat pemahaman dan implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.
“Pancasila tidak cukup dipahami sebagai warisan sejarah bangsa. Nilai-nilainya harus terus dihidupkan, diperkuat, dan diimplementasikan agar tetap relevan menghadapi dinamika zaman,” ujar Putu Suasta.
Ia menegaskan bahwa revitalisasi Pancasila harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari aspek pendidikan, budaya, kebijakan publik, hingga penguatan institusi negara. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan Pancasila tetap menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai pengaruh ideologi global yang masuk melalui ruang digital maupun interaksi sosial.
Buku setebal ratusan halaman tersebut mengupas berbagai fenomena yang berkembang di era globalisasi, termasuk masuknya berbagai ideologi transnasional seperti liberalisme, radikalisme, dan berbagai paham lintas negara yang berpotensi mempengaruhi kehidupan demokrasi konstitusional Indonesia.
Selain memetakan tantangan yang dihadapi, buku ini juga menawarkan sejumlah strategi penguatan Pancasila melalui pendidikan yang transformatif, peningkatan literasi digital masyarakat, pengawasan ruang siber yang efektif, serta penguatan peran keluarga dan komunitas sebagai benteng nilai-nilai kebangsaan.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara dengan populasi Muslim terbesar memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara keterbukaan global dan ketahanan ideologi nasional.
Para penulis menilai bahwa nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, keadilan sosial, serta musyawarah yang terkandung dalam Pancasila tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer, mulai dari penyebaran hoaks dan disinformasi, disrupsi teknologi, hingga tantangan perubahan sosial yang terjadi secara cepat.
Buku Pancasila di Persimpangan Ideologi Transnasional diterbitkan oleh Udayana Press Universitas Udayana, Bali. Karya ilmiah tersebut merupakan kolaborasi antara Drs. I Putu Suasta, M.A., alumnus Universitas Gadjah Mada yang juga pernah menempuh studi di Cornell University dan New York University, dengan Prof. Dr. Drs. I Gusti Agung Ngurah Agung, S.H., M.H., seorang profesor hukum dari Universitas Udayana.
Melalui buku ini, kedua penulis berharap Pancasila tidak hanya menjadi simbol kenegaraan, tetapi juga menjadi kekuatan moral dan ideologis yang mampu membimbing bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan global di masa depan.
Perayaan ulang tahun ke-75 Made Mangku Pastika pun menjadi momentum refleksi kebangsaan, sekaligus pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah perubahan dunia yang semakin dinamis.
[valentino]












