Catatan: Risdiana Wiryatni *)
Ungkapan “semakin tua semakin bijaksana” didasarkan pada pengalaman hidup yang terakumulasi, sehingga membuat seseorang lebih mampu membuat keputusan yang lebih baik. Namun, kebijaksanaan tidak selalu datang otomatis bersama usia, karena juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti kemampuan untuk belajar dari pengalaman, mengelola emosi, dan memiliki pemikiran yang matang.
Setiap orang akan menghadapi masa senja, fase hidup yang sering kali diwarnai dengan berbagai pengalaman dan refleksi. Masa ini menjadi momen penting untuk merenung, memahami makna hidup, dan menghargai setiap detik yang telah dilalui.
Dalam proses manusia ada kelahira ndan juga ada masa tua dimana tidak seperti masa muda karena banyak penurunan fisik yang akan dialami dan juga mengenai hal ini pastinya banyak kisah yang dapat disampaikan sebagai pengalaman berharga.
Memasuki usia senja memang membawa tantangan tersendiri, namun juga menawarkan kesempatan untuk menjadi lebih bijak dan bersyukur. Setiap kisah menggambarkan betapa pentingnya menjalani masa tua dengan sikap positif, menerima perubahan, dan terus berusaha untuk menjadi bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Masa senja bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari fase hidup yang penuh dengan makna dan refleksi karena setiap momen dalam hidup adalah anugerah yang patut dihargai.
Ada satu hal yang kerap terlupakan dalam perjalanan hidup: ketenangan. Di usia muda, mungkin kita terbiasa mengejar banyak hal—karier, kesuksesan, atau bahkan pengakuan dari orang lain. Semuanya terasa seperti perlombaan tanpa akhir. Tapi, menariknya, ketika usia bertambah, sudut pandang hidup perlahan berubah. Yang dulu terasa penting bisa jadi tak lagi berarti. Yang dulu memicu stres kini justru menjadi pemicu rasa syukur. Ketenangan bukan lagi tujuan akhir, melainkan cara menjalani hidup.
Dalam Islam, pandangan bahwa semakin tua seseorang harus semakin bijak sangat didorong, meskipun istilah yang lebih tepat adalah semakin bertambah iman, takwa, dan ketaatan. Kebijaksanaan (hikmah) dipandang sebagai hasil alami dari pengalaman hidup yang dijalani sesuai ajaran agama, bukan sesuatu yang otomatis datang seiring bertambahnya usia.
Bertambahnya usia harus dimaknai dengan bertambahnya keberkahan, yang diindikasikan dengan meningkatnya kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan manfaat bagi sesama manusia.
Lansia dihormati karena pengalaman hidup mereka yang berharga, dan dianggap memiliki hikmah serta pengetahuan untuk dibagikan kepada generasi muda. Al-Qur’an mengisyaratkan usia 40 tahun sebagai batas awal untuk mulai mensyukuri nikmat Allah dan mencapai kedewasaan serta kebijaksanaan.
Seiring bertambahnya usia, umat Muslim diingatkan untuk semakin memperbanyak amal ibadah, berbuat kebaikan, dan meningkatkan takwa kepada Allah, karena kematian bisa datang kapan saja.
Al-Qur’an Surat Yasin ayat 68 mengingatkan bahwa barang siapa yang dipanjangkan umurnya, niscaya akan dikembalikan kepada awal kejadiannya (lemah dan kurang akal seperti anak kecil). Ini menekankan pentingnya menggunakan masa-masa sebelum mencapai kondisi tersebut untuk beramal saleh.
Kebijaksanaan bukan sekadar memiliki banyak pengetahuan atau pengalaman, melainkan bagaimana seseorang belajar dari hal-hal yang telah dilaluinya dan menerapkannya untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Orang yang bijak tidak takut untuk mengakui kesalahannya. Mereka tidak terjebak dalam ego yang ingin selalu benar, melainkan lebih menghargai kebenaran dan pembelajaran.
Mereka memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses tumbuh dan tidak perlu ditutup-tutupi. Justru, dengan mengakui kesalahan, mereka bisa memperbaiki diri dan membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
Semakin bertambah usia, kita mulai memilah mana yang benar-benar penting dalam hidup dan mana yang hanya distraksi.
Materialisme, status sosial, atau pencapaian yang hanya untuk pamer tidak lagi menjadi fokus utama. Kita lebih memilih menginvestasikan waktu dan energi pada hal-hal yang memberikan makna, seperti keluarga, persahabatan, dan pengembangan diri.
Bahwa hidup bukan tentang memiliki segalanya, tetapi tentang merasakan cukup dengan apa yang kita miliki. Kebahagiaan sejati ada di dalam kesederhanaan.
Usia yang lebih matang seringkali diiringi dengan kesabaran yang lebih besar dalam menghadapi situasi, sehingga tidak mudah terbawa emosi saat berbicara.
Berbicara dengan hati-hati dan penuh pertimbangan akan membantu membangun dan menjaga hubungan yang baik.
Orang yang lebih tua biasanya lebih mampu mempertimbangkan konsekuensi dari ucapan mereka sebelum mengatakannya, sehingga lebih matang dalam mengambil keputusan.
Pengalaman hidup membuat seseorang memiliki empati yang lebih besar, mampu melihat dari berbagai sudut pandang, dan peduli terhadap orang lain.
*) CEO Kinerja Group










