BUDAYA  

Bulan Suro Saatnya Meruwat Diri Kita Sendiri, Memperkuat Kesalehan Sosial

Foto ilustrasi Pikiran Rakyat

Catatan Budaya Jagad N *)

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro bukan sekadar awal tahun dalam penanggalan Jawa, tetapi juga momentum penuh makna spiritual dan historis. Dalam khazanah keislaman, bulan Suro sejatinya bersumber dari istilah Arab ‘Asyura—yang berarti tanggal sepuluh—yakni 10 Muharam. Dalam perkembangan sejarah, Suro ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa-Islam yang digunakan secara turun-temurun hingga kini.

Bulan Suro, atau Muharram dalam kalender Islam, memiliki makna mendalam terutama bagi masyarakat Jawa yang memadukan nilai-nilai Islam dan budaya lokal.

Namun, di balik makna suci bulan Muharam, ada kecenderungan menyimpang yang tumbuh di tengah masyarakat: mitos, legenda, bahkan praktik-praktik irasional yang mengaburkan pesan luhur bulan tersebut.

Suro sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa dan Islam (Muharram) melambangkan awal baru, introspeksi, dan pembersihan diri dari dosa. Banyak yang memanfaatkan momen ini untuk refleksi spiritual.

Dalam tradisi Jawa, Suro dianggap bulan sakral. Banyak orang melakukan tirakat (laku prihatin) seperti puasa, meditasi, atau ziarah ke tempat-tempat suci untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Padahal, jika menilik sejarah, bulan Muharam adalah bulan yang dimuliakan, yang sarat dengan peristiwa kenabian. Nabi Adam diterima taubatnya, Nabi Nuh selamat dari banjir besar, Nabi Musa lolos dari kejaran Fir’aun, hingga Nabi Muhammad SAW memperoleh wahyu yang menjadi pedoman hidup umat Islam sepanjang masa.

Dalam Islam, Muharram dikenal sebagai bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW, yang menandakan perjuangan dan pengorbanan. Bagi masyarakat Jawa, ini juga terkait dengan kisah-kisah leluhur atau ritual kebatinan.

Di Jawa, Bulan Suro sering diisi dengan tradisi seperti nyepi (hari tanpa hiburan), ritual kungkum (berendam di sumber air suci), atau upacara labuhan (persembahan ke laut atau gunung). Ini mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Secara keseluruhan, Bulan Suro adalah waktu untuk merenung, memperkuat spiritualitas, dan menghormati nilai-nilai budaya serta agama. Bulan Suro adalah momentum sejarah,yang seharusnya disambut dengan tafakur dan niat memperbaiki diri.

Ungkapan “mandi di malam 1 Suro”, jika ditelaah secara simbolik, bukan berarti secara harfiah. Mandi adalah bentuk pensucian diri—membersihkan hati, niat, dan tindakan dari segala dosa dan keburukan. Inilah yang seringkali dilupakan oleh generasi sekarang.

Momentum tahun baru hijriah melalui bulan Muharam sesungguhnya adalah ajakan untuk kembali ke jati diri spiritual: membangun peradaban diri, masyarakat, dan bangsa dengan nilai-nilai tauhid, etika, dan kesadaran sejarah.

Islam pernah jaya karena umatnya memegang prinsip ilmu, amal, dan keadilan. Kini, momentum itu seolah berulang: kita diberi peluang untuk merebut kembali kejayaan, bukan dengan jimat atau ritual, tapi dengan semangat perubahan diri dan kesalehan sosial.

Dalam Al-Quran tertulis sebuah seruan, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah nasib mereka sendiri,”. Seruan ini sangat relevan di tengah tantangan modern.

Di tengah maraknya festival dan tradisi di bulan Suro, perlu ada upaya bersama untuk memurnikan kembali makna bulan ini—dari sekadar ritual ke arah transformasi spiritual dan historis. Sebab sejarah bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk dihidupi dan diwariskan dalam bentuk nilai.

Sebagai bangsa yang menjungjung tinggi nilai-nilai luhur buaya, memaknai Bulan Suro dalam perspektif kebangsaan dapat dilihat sebagai momen untuk merenungkan nilai-nilai luhur bangsa yang selaras dengan makna spiritual dan budaya bulan Suro, terutama dalam tradisi Jawa.

Tradisi Suro dalam konteks kebangsaan

Dalam konteks kebangsaan, refleksi ini dapat dihubungkan dengan upaya memperkuat identitas nasional, persatuan, dan nilai-nilai Pancasila, sebagai momen untuk mengevaluasi perjalanan bangsa Indonesia, seperti sejauh mana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan bernegara, apakah keadilan sosial, persatuan, dan demokrasi telah tercapai, serta bagaimana cara mengatasi tantangan seperti korupsi, intoleransi, atau ketimpangan sosial.

Tradisi Suro sering diwarnai dengan ritual yang mencerminkan harmoni, seperti tirakatan atau selamatan. Dalam konteks kebangsaan, ini mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Nilai gotong royong dan toleransi yang menjadi inti tradisi Jawa dapat menjadi pengingat untuk memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Tradisi Bulan Suro, seperti kirab pusaka atau kegiatan budaya lainnya, menunjukkan kekayaan warisan leluhur. Dalam konteks kebangsaan, melestarikan budaya lokal seperti tradisi Suro dapat memperkuat identitas nasional, sekaligus mengajarkan generasi muda untuk menghargai akar budaya sebagai bagian dari keindonesiaan.

Refleksi Bulan Suro dalam perspektif kebangsaan mengajak kita untuk menyelaraskan nilai-nilai spiritual dan budaya dengan semangat kebangsaan, memperkuat persatuan, dan berkomitmen pada pembangunan bangsa yang lebih baik. Momen ini menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari aspek material, tetapi juga dari kekuatan nilai-nilai luhur yang mengakar pada kearifan lokal.

*) Pekerja media, pemerhati budaya

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *