banner 728x250
BUDAYA  

Grebeg Syawal Tradisi Leluhur Yang Tetap Dinanti

Keraton Yogyakarta kembali membagikan gunungan Grebeg Syawal di empat lokasi guna memperingati Idulfitri 2024. Terdapat penyesuaian dalam penyelenggaraan Grebeg Syawal kali ini berupa pelaksanaan prosesi gunungan dikembalikan kepada tradisi awal, tak lagi diperebutkan namun dibagikan serta penambahan lokasi pembagian pareden di Ndalem Mangkubumen [Foto Harianjogja]

NUSANTARANEWS.co, Yogyakarta – Keraton Yogyakarta kembali membagikan gunungan Grebeg Syawal di empat lokasi guna memperingati Idulfitri 2024. Terdapat penyesuaian dalam penyelenggaraan Grebeg Syawal kali ini berupa pelaksanaan prosesi gunungan dikembalikan kepada tradisi awal, tak lagi diperebutkan namun dibagikan serta penambahan lokasi pembagian pareden di Ndalem Mangkubumen.

Meskipun tata cara pelaksanaan mengalami penyesuaian, namun prosesi Grebeg Syawal tetap dinantikan masyarakat. Usai didoakan, lima gunungan yang berada di halaman Masjid Gedhe langsung dibagikan baik di lokasi dan tiga lokasi lainnya di Pura Pakualaman, Kompleks Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen.

Prosesi Grebeg Syawal keluar Keraton menuju Masjid Gedhe sejak pukul 09.00 WIB. Masyarakat pun telah menunggu dengan setia agar dapat menyaksikan prosesi tradisi budaya yang rutin dilaksanakan keraton setiap tahunnya. Sekitar pukul 11.00 WIB, gunungan yang telah didoakan dibagikan ke masing-masing lokasi.

Ada lima jenis gunungan yang dikawal Iring-iringan bregada yakni dua Gunungan Kakung, satu Gunungan Estri, satu Gunungan Gepak, satu Gunungan Darat, dan satu Gunungan Pawuhan. Sehingga total terdapat enam buah gunungan. Satu titik tambahan yang menjadi lokasi pembagian ubarampe gunungan, yakni Ndalem Mangkubumen yang menerima sejumlah 50 buah pareden gunungan sama seperti yang dibagikan ke Kompleks Kepatihan.

Kahartakan Keraton Yogyakarta KMT Sarihartokodipuro mengakui prosesi tata cara pelaksanaan Grebeg Syawal tahun ini dikembalikan seperti semula seperti pada era Sri Sultan Hamengku Buwono HB VIII. Sebab itu hak prerogatif dari keraton agar semua berjalan lancar dan semua mendapatkan bagian,” tegasnya.

“Jika biasanya gunungan yang diperebutkan masyarakat, kini diubah hanya dibagikan ke para pengunjung. Ini bertujuan agar kegiatan berjalan dengan baik dan pengunjung kebagian semua. Alhamdulillah semua kebagian karena kita dibantu keamanan baik dari Pengulon maupun TNI Polri dan keamanan,” tuturnya usai pembagian ubarampe gunungan di Halaman Masjid Gedhe.

KMT Sarihartokodipuro mengungkapkan sebelumnya gunungan diperebutkan sehingga banyak kejadian yang dialami para pengunjung seperti kehilangan barang, jatuh atau terluka. Namun setelah diubah prosesi Grebeg Syawal berjalan dengan cukup lancar dan tertib. Sementara penambahan satu titik pembagian gunungan yakni Ndalem Mangkubumen memang sudah direncanakan Keraton Yogyakarta.

“Penambahan lokasi pembagian pareden di Ndalem Mangkubumen memang waktu dulu juga begitu. Setahu saya itu memang hak dari Ngarsa Dalem. Kepatihan dan Pakualaman dikasih lalu Mangkubumen dikasih. Memang strukturalnya begitu supaya jelasnya didampingi Urusan Pengulon KRT Zhuban Hadiningrat.

Pareden gunungan yang dibawa ke Ndalem Mangkubumen ini diterima langsung putri sulung Sri Sultan HB X GKR Mangkubumi didampingi GKR Maduretno dan GKR Hayu. Usai menerima 50 buah pareden dari Utusan Dalem, GKR Mangkubumi dibantu kedua adiknya membagikan pareden tersebut.

“Terima kasih, saya terima pareden ini,” ucap singkat Gusti Mangkubumi.

Semua pareden gunungan yang berisi rengginang dan taplukan bintang lima warna ini telah dibagikan. Menurut para penerima pareden dengan cara dibagikan tersebut justru semuanya mendapatkan.

Salah satu abdi dalem yang mendapat pareden di Ndalem Mangkubumen yaitu Nyi Mas Hamong Hadiastuti mengaku sangat bangga mendapatkan pareden tersebut karena merupakan berkah dari raja. Sebelumnya, ia belum tentu mendapatkan pareden namun dengan dibagikan semua mendapatkannya.

“Senang sekali mendapatkan berkah Ndalem ini. Pareden sebenarnya bisa digunakan sesuai kepercayaan atau sugesti masing-masing. Kalau saya akan saya taruh di sawah biar tidak ada hama dan panennya bagus,'” katanya.

Senada, Nyi Hadi Joyosudiro akan menaruh pareden tersebut di tempatnya berjualan. Ia percaya dengan begitu akan mendatangkan rejeki dan usahanya berjalan dengan lancar.

Sumber: Humas Pemprov DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *