Catatan Budaya: Jagad N
Masyarakat Jawa juga dikenal memiliki filosofi kehidupan, yang bisa dijadikan pijakan untuk melangkah dalam mengarungi kehidupan. Kabarnya pesan-pesan luhur yang penuh filosofi tersebut, dikenalkan oleh Sunan Kalijaga. Filosofi kehidupan tersebut tertuang dalam Dasa Pitutur yang masih dijalankan sampai sekarang.
Salah satu pitutur Jawa yang terkenal adalah Ngluruk tanpa Bala Menang tanpa Ngasorake Sekti tanpa Aji-Aji Sugih tanpa Bandha
Falsafah yang terkandung dalam pitutur Jawa ngluruk tanpa bala menang tanpa ngasorake sekti tanpa aji-aji sugih tanpa bandha ini, memiliki makna yang berarti dalam kehidupan manusia.
Pitutur Jawa dengan falsafah luhur ini, konon merupakan wejangan dari Sunan Kalijaga dalam dasa pitutur nya yang sangat terkemuka.
Sunan Kalijaga memberikan nasihat dalam dasa pitutur yang sangat cocok sebagai pedomana dalam menjalani kehidupan sehari hari.
Pitutur Jawa ngluruk tanpa bala menang tanpa ngasorake sekti tanpa aji-aji sugih tanpa bandha ini terdiri dari empat kalimat. Antara lain, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji aji, dan sugih tanpa bandha.
Sugih tanpa bandha.
Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup.Tidak berkekurangan karena kita mempunyai relasi yang banyak, pertemanan yang banyak, dimana relasi tersebut membuat kita selalu mudah untuk melakukan segala sesuatu, karena relasi kita, teman-teman kita secara langsung / tidak langsung mau membantu kita, bahkan dengan sukarela / ikhlas.
Hal tersebut sebenarnya berawal dari kita sendiri, dimana kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, dan suatu waktu kita membutuhkan bantuan / pertolongan orang lain, orang lain yang juga dengan sepenuh hati menolong kita / membantu kita, juga tanpa imbalan.
Digdaya tanpa aji
Kekuasaan sering kali tercipta karena suatu kemenangan fisik, kemenangan mental. Ungkapan Jawa ‘ digdaya tanpa aji ‘ tersebut di atas, kata-kata kekuasaan bukan juga karena kita mempunyai suatu ilmu beladiri / ilmu tenaga dalam / aji-aji. Namun disini, suatu kekuasaan tercipta karena citra dan wibawa seseorang, perkataannya, membuat orang lain sangat menghargainya. Sehingga apa yang diucapkannya, orang lain senantiasa mau mengikutinya.
Nglurug tanpa bala
Ungkapan Jawa nglurug tanpa bala dapat di artikan secara harafiah ‘ menyerang tanpa pasukan ‘. Di sini memiliki arti bahwa kita haruslah menjadi orang yang berani bertanggung jawab, berani untuk beraksi walaupun terkadang tinggal kita sendiri. Sikap ini adalah mencontoh sikap kesatria, yang mana bukanlah orang yang mudah untuk terhasut, ikut-ikutan, tetapi lebih cenderung kepada orang yang berani maju, berani meghadapi masalah, berani untuk bertanggung jawab, walaupun yang lainnya mundur / lari dari masalah tersebut.
Menang tanpa ngasorake
Ungkapan Jawa menang tanpa ngasorake tersebut memiliki arti bahwa tujuan pencapaian kita yang kita harapkan, kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain. Secara modern filosopi ungkapan ini sama dengan ‘ win win solution ‘, yang memiliki arti semua pihak yang berselisih paham memiliki hasil yang menguntungkan untuk semuanya.
Ungkapan Jawa ( Lokal / Indonesia ) sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake tersebut di atas dapat di jadikan pedoman berperilaku dalam hidup kita. Filosofi yang sangat mendasar, yang akan membuat hidup kita menjadi kehidupan yang lebih indah, tanpa merendahkan orang lain, kehidupan yang di isi dengan sikap-sikap kesatria, kehidupan yang jauh dari keserakahan.
*) Pekerja Media, Penggiat Budaya












