Mengantarkan Pelaku Kriya Nusantara Go Global

Foto ilustrasi

NUSANTARANEWS.co, Jakarta – Sejumlah kota-kota besar di dunia memiliki agenda pameran skala global. Hamburg, Jerman, misalnya. Di sana ada wadah pameran berskala dunia dengan nama Hamburg Messe. Demikian pula New York dengan New York Fashion Fair, Tokyo Fair di Jepang, atau Hong Kong Gift and Premium Fair.

Bagi pelaku usaha Indonesia, kunjungan ke sejumlah pameran di atas merupakan salah cara mencari informasi produk kelas dunia yang disajikan di pameran itu. Syukur-syukur bisa bertemu mitra bisnis dan bisa meluaskan produk unggulannya di pasar global.

Mereka datang ke pameran di sejumlah kota dunia itu bertujuan agar produknya bisa juga tampil menghiasi etalase toko terkenal dunia.

“Saya sudah seringkali mengunjungi sejumlah pameran skala global. Seringkali, saya menemui kesulitan untuk menembus pasar itu. Banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi dari produk UMKM seperti saya,” Edy Sasmito, pelaku UMKM handycraft asal Yogyakarta dalam satu perbincangan di Jakarta, Senin (11/9/2023).

Beberapa pekerjaan rumah itu, seperti kemasan yang harus memenuhi standar mereka. Selain itu, dirinya harus memiliki modal yang berkelanjutan. Ketika pesanan datang, untuk pembuatan produk membutuhkan modal awal yang tidak sedikit. “Namun itu semua menjadi tantangan bagi saya untuk tetap berusaha menembus pasar global.”

Harapan seperti itulah yang selalu diimpikan pelaku UMKM dan pemerintah agar produk Indonesia bisa hadir di pasar global. Itu juga yang menjadi harapan Ketua bidang Manajemen Dewan Kerajinan Nasional (Deksranas) Sri Suparni Bahlil Lahadalia.

“Kita ingin produk kriya nusantara bisa lebih dikenal, bukan hanya di ranah nasional, tetapi bisa go global,” ujarnya dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) yang mengangkat tema ‘Persaingan UMKM di Kancah Global’, Senin (11/9/2023).

Sri Suparni pun mengakui adanya kendala bagi produk UMKM untuk menembus pasar global. Oleh karena itu, Dekranas secara berkelanjutan telah memiliki beberapa strategi untuk mendorong UMKM Indonesia bersaing di pasar global. Pertama, pelaku UMKM atau perajin diberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk mereka.

“Pelatihan ini dilakukan oleh desainer-desainer profesional yang akan membantu perajin mengembangkan produk yang sesuai dengan tren pasar global,” ucapnya.

Kedua, Sri Suparni melanjutkan, Dekranas juga bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mempromosikan produk UMKM Indonesia. Salah satunya dengan mengikuti pameran di luar negeri, seperti yang akan dilakukan di Paris pada Oktober mendatang.

Ketiga, Dekranas juga aktif mendorong UMKM Indonesia untuk memanfaatkan platform digital dalam memasarkan produk mereka. Hal ini penting untuk menjangkau pasar yang lebih luas lagi.

“Kita bisa bersaing dengan sistem e-commerce. Kalau mereka bisa mempromosikan lewat e-commerce, kita harus bisa, karena kualitasnya jauh lebih baik,” tegasnya.

Tingkatkan Daya Saing

Di forum yang sama, pelaku dan penggiat UMKM Liza Mustafa Abubakar juga mengungkapkan tantangan terbesar dalam meningkatkan daya saing UMKM, termasuk kriya nusantara yang harus bersaing dengan produk kriya impor.

Produk kriya impor, seperti tenun printing dan batik printing, umumnya dijual dengan harga yang lebih murah.

“Yang berat bagaimana melawan printing, murah, tulis harga pasti mahal. Kami sebagai pelaku bisa memastikan itu produk printing, kami wajib memakai tenun dan batik handmade,” ungkap Liza.

Untuk mengatasi persaingan dengan produk kerajinan printing, dia menambahkan perajin juga harus berupaya meningkatkan kualitas dan pemasaran produk kerajinan nusantara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menggunakan produk kerajinan handmade.

“Pengurus Dekranas selalu menggunakan tenun dan batik handmade untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa ada produk kerajinan nusantara yang berkualitas,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, anggota Bidang Kemitraan Dekranas Musa Widyatmodjo mengatakan, salah satu kunci agar industri kriya dapat menembus pasar global adalah dengan melibatkan desainer dalam proses pembuatan produk kriya.

Menurutnya, desainer memiliki peran penting dalam menghubungkan perajin dengan pecinta kriya. Mereka dapat membantu pengrajin dalam mengembangkan produk kriya agar lebih menarik dan sesuai dengan tren pasar.

“Selama ini, perajin cenderung fokus pada proses pembuatan produk, tanpa memikirkan bagaimana produk tersebut akan diterima oleh konsumen. Desain dapat membantu perajin untuk memahami kebutuhan konsumen dan menciptakan produk yang lebih sesuai dengan permintaan pasar,” tambahnya.

Musa mencontohkan, pameran di Jepang dan New York memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Perbedaan pameran ini mencerminkan dua sisi mata uang dari industri kriya Indonesia.

“Ada harga, ada kualitas, ada rupa. Itu adalah edukasi kepada konsumen kenapa kita harus membeli, mengikhlaskan, dan berani membayar mahal,” ujarnya.

Musa pun berharap, dengan dukungan dari beragam pihak, para perajin Indonesia dapat naik kelas, yakni go global sehingga mereka dapat menghasilkan karya spektakuler yang dapat dikenang dunia.

“Karya yang spektakuler tidak hanya indah, tetapi juga memiliki nilai tambah, baik dari segi fungsionalitas, maupun dari segi estetika,” lanjutnya.

Sumber: Indonesia.go.id

Penulis: Firman Hidranto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *