NUSANTARANEWS.co, Yogyakarta – Batik Dhinanty mulai berproduksi sejak 2015, yang terletak di Pajangan, Bantul, Yogyakarta.
Dhinanty Niena mengatakan bahwa usaha batik ini adalah usaha turun temurun dari ibu mertua dan suami beliau. Awal mulanya beliau dulu pernah bekerja pada usaha batik milik orang lain, kemudian setelah beliau menikah dan mempunyai momongan beliau memutuskan untuk membuka usaha batik sendiri.
Pada rumah produksi batik milik ibu Niena ini memiliki berbagai macam batik seperti Batik Tulis, Batik Cap, Batik Abstrak, Batik Kombinasi, Batik Kontemporer, dan Batik Jilbab Pashmina. Batik Dhinanty ini diproduksi home made dengan cara yang masih manual menggunakan canting, kuas, dan malam.
Kemudian proses pewarnaannya juga terbilang manual dengan menggunakan kuas dan juga direbus, lalu untuk proses pengeringannya sendiri beliau masih menggunakan sinar matahari, dengan metode ini terdapat sebuah hambatan ketika musim penghujan proses pembuatan batik ini menjadi lebih lama dikarenakan lamanya proses pengeringan yang masih manual menggunakan sinar matahari.
Batik Dhinanty ini dibuat dengan menggunakan desain sendiri dari hasil pemikiran ibu Niena dan juga suaminya. Konsumen juga bisa memesan sesuai dengan desain yang direquesnya. Proses dari pembuatan batik dari mendesain, digambar pada kain, kemudian dicanting dan malam ini dikerjakan bersama dengan karyawan. Jika permintaan banyak, pengerjaan sendiri bisa dilakukan di rumah masing-masing karyawan agar proses pembuatan batik lebih cepat dan efisien.
Strategi proses produksi yang diterapkan oleh Batik Dhinanty adalah strategi proses yang berfokus pada produk, dari proses awal mendesain batik pada kertas atau kain, kemudian memberikan malam pada kain yang sudah terdapat pola menggunakan canting. Pada Batik Dhinanty ini mempunyai inovasi yang baru dan berbeda dari pengrajin batik pada umumnya yaitu batik jilbab pashmina. Pada rumah produksi Batik Dhinanty memiliki pembagian tugas atau jobdesk masing – masing seperti desainer, pengrajin, finishing, dan kurir.
Hambatan yang sering beliau dapat adalah banyaknya pesaing yang menjual batik serupa dengan harga yang relative lebih murah. Hambatan tersebut tidak membuat ibu Niena berkecil hati karena beliau menjual batik tulis dengan kualitas terbaik.
Penulis : Diah Trimurti, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (Mahasiswa Manajemen, FE, UST), Dosen Manajemen Operasional Putri Dwi Cahyani, S.E, M.E.I












