DENPASAR, NUSANTARANEWS.co – Kemacetan di Kawasan Mall Living World, Jl. Gatot Subroto Denpasar, sudah melewati ambang batas toleransi.
Pendiri LSM JARRAK, Putu Suasta, menyebut hadirnya mal jadi biang kerok macet. Ditambah pemasangan separator jalan yang asal-asalan dan minim rambu, serta penerangan jalan yang redup.
“Bali dikenal pariwisata. Di dalam mall seterang matahari. Tapi jalanan gelap gulita. Ini sangat kontras dan berbahaya,” tegas Suasta di Denpasar, Selasa (1/9).
Ia menyoroti ini pasca kecelakaan beruntun 13 Agustus lalu. Menurutnya, itu harus jadi momentum evaluasi total Andalalin kawasan.
“Kita sudah sering senggolan, tabrakan, ribut di jalan. Jalan ini arteri vital. Ada kampus, sekolah, penghubung antar wilayah. Pemerintah jangan asal kasih izin,” ujarnya.
Lebih lanjut Suasta mengatakan, Jl. Gatot Subroto merupakan jalur penghubung antar kabupaten dan provinsi yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan. Dengan adanya Living World, beban lalu lintas meningkat drastis, namun tidak diimbangi dengan pelebaran jalan dan rekayasa lalu lintas yang memadai.
Ia juga menyoroti dampak sosial dari kemacetan tersebut. Waktu tempuh masyarakat jadi lebih lama, biaya transportasi naik, hingga rawan konflik antar pengendara. “Ini bukan hanya soal macet. Ini soal keselamatan publik yang terancam setiap hari,” tambahnya.
Suasta mendesak Pemkot Denpasar dan DPRD serius meninjau ulang Andalalin Living World sesuai UU No.22/2009 dan PP No.30/2021. Ia juga menyinggung PM 47/2023 soal standar penerangan jalan.
“Jangan pas nyari suara teriak ‘wong cilik’. Pas kepilih malah abai. Warga sudah lama mengeluh,” kritiknya.
Hal serupa juga disuarakan ARUN Bali, MTI Bali, akademisi, hingga DPRD Kota Denpasar.
Suasta berharap evaluasi segera dilakukan agar tidak ada lagi korban.
[valentino]










