Berita  

Murka Harga TBS Anjlok, Mentan Amran Cecar Pelaku Industri Sawit

Mentan Amran Sulaiman [Foto Humas Kementan]

JAKARTA, NUSANTARANEWS.co –  Menteri Pertanian [Mentan] Amran Sulaiman melontarkan pertanyaan tajam kepada pelaku industri sawit, terkait harga tandan buah segar [TBS] sawit petani yang anjlok dan belum kembali normal. Padahal, menurut Amran, pemerintah telah memberikan kepastian regulasi.

Pertanyaan tajam tersebut disampaikan Amran dalam rapat yang dihadiri pelaku industri sawit, petani sawit, Satgas Pangan, hingga Direktorat Reserse Kriminal Khusus [Ditreskrimsus] dari 25 provinsi di seluruh Indonesia.

Dalam rapat itu, Mentan Amran menyoroti penjelasan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia [Gapki] Edy Martono, terkait penyebab turunnya harga TBS sawit di tingkat petani.

Edy menjelaskan, bahwa kondisi waktu itu, dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar, usai pengumuman kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia [DSI].

“Awalnya turun pak, saya sudah lapor pak Wamentan. Jadi sebenarnya karena masalah panik. Ketidakpastian,” kata Edy dalam rapat koordinasi di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta, Senin [8/6/2026].

Jawaban Edy, langsung mendapat respon keras Mentan Amran. Amran mengatakan, rasa kaget akibat perubahan kebijakan,  tidak seharusnya membuat harga sawit di tingkat petani justru  anjlok.

“ Berarti kaget? Kaget. Kenapa tidak lari naik [harga TBS]  kalau kaget? Kenapa lari turun?” tanya Amran.

Edy berdalih, pelaku pasar termasuk pembeli dari India dan Uni Eropa, saat itu belum mendapat penjelasan rinci mengenai aturan turunan sehingga memicu ketidakpastian.

“Karena begini pak, waktu itu memang saat pak Presiden mengumumkan memang tidak ada aturan yang di bawahnya kan juga belum ada. Kami pun ditanya oleh pembeli-pembeli dari India kemudian Uni Eropa juga kami tidak bisa menjawab  karena memang belum ada,” ujarnya.

Amran pun mempertanyakan logika tersebut. Ia mengaku pernah mengalami kondisi serupa saat berbisnis, namun justru menaikkan harga pembelian.

“Nggak begitu Pak Ketua, saya ini pengusaha sudah 20 tahun. Saya juga kaget harga nikel naik. Kaget. Saya naikkan pembelian di lapangan. Sama-sama kita kaget, saya kaget juga. Tapi saya naikkan harganya. Lah Bapak kenapa lari turun kagetnya? itu menyusahkan 15 juta orang (petani sawit) kagetnya Bapak?” tegas Amran.

Meski Gapki menyatakan kondisi kini sudah lebih jelas, Amran masih mempertanyakan mengapa harga TBS belum sepenuhnya pulih.

“Tapi sekarang sudah tahu? Sudah tahu Pak. Lah kenapa tidak recovery 100 persen?” tanya Amran.

Eddy menjawab, harga ditentukan mekanisme pasar dan proses pemulihan berlangsung bertahap.

 

“Jadi itu murni mekanisme pasar, saat ini terakhir tender PTPN (PT Perkebunan Nusantara) itu di Dumai sudah Rp15.025 (harga CPO) dan tidak ada withdraw (refinery membatalkan pembelian) lagi,” jelas dia.

Penjelasan tersebut belum memuaskan Amran. Ia kembali menegaskan, alasan ketidakpastian seharusnya tidak lagi relevan setelah aturan pemerintah sudah jelas.

“Gini… Sekarang kan kaget awal turun. Setelah tahu regulasinya, kejelasan, kenapa kagetnya tidak berhenti?” kata Amran.

Ketika Eddy menyebut masih ada faktor lain yang memengaruhi pasar, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono ikut menegaskan, pemerintah sudah beberapa kali memberikan penjelasan kepada pelaku usaha.

“Intinya adalah betul sudah naik dan sudah diakui oleh kawan-kawan, cuma kenapa nggak recover 100 persen. Alasan apa lagi gitu kira-kira,” tambah Sudaryono.

Amran bahkan mengingatkan persoalan harga sawit menyangkut jutaan petani di seluruh Indonesia.

“Ini nasib (petani) Bapak, GAPKI jangan main-main ini nasib 15 juta orang. Bukan nasib menteri, nasib wamen. 15 juta saudara kita di sana yang hidup,” ujar Amran.

Ia kemudian melontarkan pertanyaan yang berulang kali ditujukan kepada pelaku usaha sawit. “Pertanyaanku sampai kapan berhenti kaget?” tukasnya.

Karena belum puas dengan jawaban yang diberikan, Amran mengaku akan meminta pemeriksaan terhadap perusahaan-perusahaan yang harga pembelian TBS-nya masih anjlok.

“Oke kalau dia tidak berhenti kaget, aku kasih kaget ya. Dirkrimsus seluruh provinsi, nanti surat yang saya kirim tolong periksa yang harga turun masih sampai hari ini. Ada hampir 300 perusahaan periksa semua,” tegas Amran.

Sumber: cnbcindonesia.com

[nug/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *