Oleh Syahril Syam
Dalam pemikiran Plato, pembahasan tentang manusia dimulai dari satu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya keadilan dalam diri manusia? Bagi Plato, keadilan bukan sekadar soal hukum atau hubungan sosial, tetapi kondisi batin. Ia menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki tiga bagian utama. Pertama adalah rasio, yaitu kemampuan berpikir yang mencari kebenaran. Kedua adalah spirit atau semangat, yaitu energi yang mendorong keberanian, harga diri, dan bahkan kemarahan. Ketiga adalah keinginan atau nafsu, yaitu dorongan terhadap kenikmatan dan kebutuhan fisik seperti makan, minum, dan kesenangan lainnya.
Menurut Plato, jiwa yang sehat bukanlah jiwa yang menekan atau menghilangkan salah satu bagian ini. Semua bagian tetap diperlukan. Namun yang penting adalah susunannya. Rasio harus menjadi pemimpin, karena ia mampu melihat mana yang benar. Spirit berfungsi sebagai pendukung, memberi energi dan keberanian untuk menjalankan keputusan rasio.
Sementara itu, nafsu harus berada dalam kendali, agar tidak mengambil alih arah hidup. Di sinilah Plato mendefinisikan keadilan: setiap bagian jiwa menjalankan perannya dengan tepat dan selaras. Jadi, masalah utama manusia bukan karena ia memiliki nafsu, tetapi karena struktur kepemimpinan dalam jiwanya tidak berjalan dengan benar.
Gagasan ini kemudian dikembangkan oleh Ibn Miskawayh menjadi lebih praktis dalam bidang etika. Ia mengambil struktur jiwa dari Plato, tetapi mengubahnya menjadi sistem pembentukan karakter. Rasio disebut sebagai akal, spirit menjadi amarah, dan desire menjadi nafsu. Namun Miskawayh tidak berhenti pada pembagian ini. Ia menekankan bahwa setiap daya dalam diri manusia memiliki kondisi idealnya, yaitu kebajikan.
Ia menjelaskan ada empat kebajikan utama. Pertama, hikmah, yaitu ketika akal berfungsi dengan benar. Kedua, syaja‘ah, yaitu ketika amarah terarah dan tidak berlebihan. Ketiga, ‘iffah, yaitu ketika nafsu terkendali. Dan keempat, ‘adalah, yaitu kondisi harmonis ketika ketiga aspek tersebut seimbang. Menariknya, Miskawayh menegaskan bahwa kebajikan tidak muncul secara otomatis sejak lahir. Manusia tidak langsung menjadi baik. Namun, ia bisa menjadi baik melalui latihan yang terus-menerus dan pembiasaan yang sadar. Di sini terlihat pergeseran penting: dari sekadar memahami struktur jiwa, menjadi usaha aktif membentuk diri. Pemikirannya menjadi lebih personal, lebih psikologis, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tahap berikutnya menjadi jauh lebih konkret dalam pemikiran Mulla Ahmad Naraqi. Jika Plato berbicara tentang struktur, dan Miskawayh tentang pembentukan karakter, maka Naraqi masuk ke wilayah yang bisa disebut sebagai terapi jiwa. Ia tidak hanya bertanya bagaimana menjadi baik, tetapi bagaimana memperbaiki jiwa yang sudah terlanjur rusak.
Naraqi melihat bahwa ketidakseimbangan dalam tiga daya utama – akal, amarah, dan nafsu – akan melahirkan penyakit jiwa. Ketika nafsu berlebihan, muncul perilaku seperti rakus, kecanduan, atau cinta dunia yang berlebihan. Ketika amarah tidak terkendali, muncul sifat marah, iri, dan agresif. Ketika akal lemah, seseorang kehilangan arah, mudah salah menilai, dan terjebak dalam kebodohan. Berbeda dari sebelumnya, Naraqi tidak berhenti pada penjelasan umum. Ia mengklasifikasikan penyakit-penyakit ini secara rinci, seperti seorang dokter yang mendiagnosis pasien.
Lebih dari itu, ia juga menawarkan cara penyembuhan. Ia menjelaskan bahwa pemulihan jiwa membutuhkan usaha serius, seperti mujahadah (melawan dorongan negatif dalam diri), riyadhah (latihan bertahap dan konsisten), serta muhasabah (evaluasi diri secara jujur). Dalam pandangannya, jiwa manusia mirip dengan tubuh. Jika tubuh bisa sakit, maka jiwa juga bisa sakit. Dan seperti tubuh, jiwa yang sakit perlu didiagnosis, dipahami penyebabnya, dikenali gejalanya, lalu diberikan intervensi yang tepat.
Di sinilah terlihat perkembangan pemikiran yang sangat menarik. Dari Plato yang menjelaskan “arsitektur jiwa”, berkembang ke Miskawayh yang menjadikannya “proyek pembentukan karakter”, hingga Naraqi yang mengubahnya menjadi “proses terapi jiwa”. Jika disederhanakan, Plato membantu kita memahami bagaimana jiwa seharusnya tersusun, Miskawayh mengajarkan bagaimana membentuknya, dan Naraqi menunjukkan bagaimana memperbaikinya ketika sudah mengalami kerusakan.
Jika ketiga pemikiran ini dilihat secara menyeluruh, sebenarnya tidak ada pertentangan di antara mereka. Justru yang terlihat adalah sebuah kerangka yang saling melengkapi dan berlapis, seperti tahapan dalam memahami dan mengelola jiwa manusia secara utuh.
Pada level pertama, Plato memberikan dasar paling fundamental, yaitu tentang struktur jiwa. Ia membantu kita memahami bahwa di dalam diri manusia ada beberapa komponen utama – rasio, semangat, dan nafsu – yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Pertanyaan utamanya di sini adalah: apa saja isi jiwa manusia, dan bagaimana seharusnya susunannya? Dari sini, kita mendapatkan gambaran bahwa kesehatan jiwa bukan soal menghilangkan dorongan, tetapi menata siapa yang memimpin dan siapa yang dikendalikan.
Kemudian, pada level kedua, Ibn Miskawayh mengambil fondasi tersebut dan mengembangkannya menjadi proses pembentukan diri. Jika Plato berbicara tentang “bagaimana jiwa itu tersusun”, maka Miskawayh bertanya “bagaimana jiwa itu bisa menjadi baik”. Ia memperkenalkan konsep kebajikan sebagai hasil dari latihan yang sadar dan konsisten. Di sini, manusia tidak lagi hanya dipahami secara struktural, tetapi sebagai makhluk yang bisa berkembang. Baik dan buruk bukan sesuatu yang statis, melainkan hasil dari kebiasaan yang terus diulang.
Lalu, pada level ketiga, Mulla Ahmad Naraqi membawa pembahasan ini ke tahap yang paling praktis dan konkret, yaitu transformasi atau penyembuhan jiwa. Ia tidak hanya membahas bagaimana menjadi baik, tetapi bagaimana memperbaiki kondisi ketika jiwa sudah terlanjur tidak seimbang. Pertanyaan utamanya adalah: jika seseorang sudah dikuasai nafsu, amarah, atau kebingungan, apa yang harus dilakukan? Di sinilah muncul pendekatan yang sangat sistematis – dengan diagnosis, pemahaman gejala, serta metode latihan untuk memulihkan keseimbangan.
Jika diringkas secara filosofis, ketiganya membentuk satu alur yang sangat jelas. Plato menjelaskan bahwa keadilan adalah harmoni dalam struktur jiwa. Miskawayh menegaskan bahwa kebajikan adalah hasil dari latihan yang dilakukan secara sadar. Dan Naraqi menunjukkan bahwa transformasi adalah proses penyembuhan jiwa yang memerlukan usaha dan metode.
Dari sini muncul satu kesimpulan yang sangat kuat: manusia tidak ditentukan oleh dorongan yang ia miliki, tetapi oleh bagaimana ia mengelola dorongan tersebut. Dorongan itu sendiri adalah bagian alami dari diri manusia. Yang menentukan kualitas hidup seseorang adalah apakah ia mampu menata, melatih, dan jika perlu memperbaiki kondisi jiwanya secara sadar dan bertahap.
Dalam kerangka ini, peran masing-masing tokoh menjadi sangat jelas. Plato memberi peta tentang bagaimana jiwa manusia tersusun. Miskawayh memberi sistem untuk membentuknya menjadi baik. Dan Naraqi memberi metode untuk memperbaikinya ketika terjadi kerusakan.
Di sinilah kedalaman pemikiran ini terlihat: etika bukan sekadar ajakan moral untuk “menjadi baik”, tetapi sebuah ilmu yang menjelaskan secara rinci bagaimana jiwa manusia ditata, dibentuk, dan disembuhkan.
*) @memberdayakan*






