NUSANTARANEWS. co. Pidie Jaya, — Pendiri Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Syaikhuna Waled Nuruzzahri secara resmi meluncurkan program bertajuk ‘One Student One Chicken’ (satu santri, satu ayam) dari santriwan-santriwati dayah tersebut, Desa Mns Bie, Meurah Dua, Pidie Jaya.
Acara berlangsung pada pertemuan Waled dengan wali santri dalam rangka pengumuman libur menjelang Idul Adha 1446 H , Kamis 29 Mai 2025 sekaligus Waled mengurai latar belakang, maksud dan tujuan dari program tersebut.
Menurutnya, ada 5 hal inti yang menjadi latar belakang dari munculnya inovasi baru ini bagi para santri.
Pertama, dalam rangka menyambut baik program pemerintah dalam ketahanan pangan nasional, terutama dalam penyediaan protein hewani secara mandiri di lingkungan pendidikan Dayah Ummul Ayman.
Kedua, menumbuhkan semangat santri mandiri. Melalui program ini, santri dituntut untuk lebih bersemangat dalam bermandiri serta tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain.
Ketiga, menggalakkan berwirausaha. Selain aspek kemandirian, program ini juga membuka wawasan santri dalam dunia usaha dan menanamkan jiwa mereka dalam berwirausaha. Mereka dapat belajar prinsip dasar kewirausahaan, seperti produksi, pemasaran dan pengelolaan hasil dengan lembaga, yang nantinya dapat menjadi bekal usaha di masa depan.
Keempat, meringankan beban keluarga. Pembagian hasil dari pemeliharaan ayam, seperti telur ataupun daging, dapat membantu mencukupi kebutuhan harian, baik untuk konsumsi maupun dijual kembali. Dari pembagian hasil ini, bisa menjadi sumber tambahan penghasilan bagi santri.
Kelima, yakni menciptakan manusia kreatif dan jiwa saling membantu (ta’awun).
Program ini menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial antar sesama.
Melalui program ini, Waled meminta setiap santri untuk membawa satu ekor ayam ketika balik ke dayah setelah libur nantinya.
Ayam tersebut akan diserahkan kepada pengelola, dan akan dipelihara di bawah bimbingan penyuluh pertanian serta pihak-pihak terkait.
“Santri hanya membawa satu ekor ayam. Sementara pakan dan kendang, itu disubsidi oleh pihak dayah,” ujar Waled sembari menambahkan di dayah ini punya lahan yang memadai, kami juga punya pabrik, dedak (lheek -Aceh red) yang dihasilkan dari gilingan pabrik harus kita manfaatkan untuk pakan ayam.
” Terkait teknis inovasinya, kita bekerjasama dengan dinas terkait di Pidie Jaya,” lanjutnya.
Dengan peluncuran program ini, Waled mengharapkan generasi teungku-teungku di Aceh tidak hanya menjadi penerima manfaat pertanian, tetapi juga pelaku aktif dalam membangun masa depan pangan nasional, terutama membangun kesadaran berwirausaha. [Aidil]












