Catatan Budaya D. Supriyanto Jagad N *)
“Turi Putih” adalah salah satu tembang tradisional Jawa yang konon dikarang oleh Kanjeng Sunan Giri. Didalam tembang ini tersirat makna dan pelajaran yang dapat kita digali. Terutama kaitannya dengan kematian, bahwa sebelum manusia berbungkus kain kafan, harus dipastikan ia memiliki cukup bekal yang mapan.
Turi Putih merupakan tembang yang sarat makna. Di dalam bait tembangnya mengandung makna yang cukup mendalam.
‘Turi’ itu berasal dari bahasa Jawa yang berarti mituturi atau memberi nasehat. Sedangkan ‘putih’ itu menggambarkan kain kafan yang warnanya putih. Jadi Turi Putih itu artinya menasihati perihal kematian
Allah SWT selalu mengingatkan kita tentang kematian. Tanda-tanda kematian itu selalu diberikan dengan sangat jelas oleh Allah SWT. Di antaranya berupa usia yang semakin tua, raga yang semakin ringkih atau lemah, dan rambut yang kian memutih. Karenanya, tembang Turi Putih itu mengajak umat Muslim untuk senantiasa mengingat akan kematian
Dalam tembang tersebut juga ada lirik ‘ditandur neng kebon agung’. Yang dimaksud dengan kebon agung itu kuburan. Bahwa semua yang mati itu akan dibungkus dengan kain putih dan ditanam di kuburan.
Karenanya, umat muslim hendaknya tidak menyombongkan apa yang dimiliki semasa hidup. Apapun jabatannya, akhir kehidupannya ya dikubur di kebon agung itu.
Dalam syiarnya, para wali menggambarkan kehidupan manusia itu seperti kilat, sebagaimana kalimat ketiga dalam tembang Turi Putih tersebut.
Onok cleret tibo nyemplong. Claret itu gambaran kilat, gambaran kehidupan dunia yang hanya sementara dan sangat sekejap
Bahwa masa muda, harta, maupun jabatan itu ia ibaratkan hanya lewat sebentar saja. Tidak ada yang abadi. Setinggi apapun jabatan, termasuk Presiden, Ketua MK,anggota DPR, Menteri, Gubernur, Bupati, Wali Kota, atau simbol-simbol duniawi lainnya, akan ada masanya. Semua akan berakhir dan ditanam di kebon agung atau kuburan.
Kelak di alam kubur yang bisa menolong manusia hanyalah amalnya. Putusan MK yang seakan tidak bisa diganggu gugat sekalipun, tidak akan bisa menolong. Sebagaimana lirik ‘kembang dalam mbok iro kembange opo’, yang maksudnya amalan manusia di dunia.
Semua harta, keluarga dan jabatan tidak ada yang dibawa mati. Kemuliaan manusia itu dilihat dari yang paling baik amalannya ketika hidup di dunia. Sementara amal baik itu akan terputus pahalanya kecuali tiga perkara. Yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.
Mari kita cermati makna tembangTuri-Turi Putih adalah sebagai berikut :.
Turi putih (dari kata tak aturi) :
Artinya saya beritahu. Sedangkan putih adalah kiasan untuk warna kain kafan yang berwarna putih. Maknanya, adalah pengingat atau pemberitahuan bahwa semua manusia pada akhirnya akan mati
Ditandur ning kebon agung :
Artinya ditanam di sebuah taman yang megah / agung. Maknanya, setelah mati maka jasad akan dipendam dalam kubur atau pemakaman
Ono cleret tiba nyemplung :
Artinya melesat secepat kilat (cleret), lalu akan jatuh (nyemplung) kedalam lubang. Maknanya, hidup itu singkat. Seperti laju cahaya kilat yang melesat. Kemudian setelahnya manusia akan masuk liang lahat
Mbok kira kembange apa :
Artinya yang dijatuhkan itu membawa bunga apa? Bait ini mempertanyakan tentang amal perbuatan yang dibawa si mayat menuju kematiannya, apakah sudah memiliki cukup bekal ?
Pada dasarnya, tembang ini mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban setelah ia mati. Bekal apa yang dibawa ke alam kubur? Telah cukupkah amal baiknya untuk menyelamatkan diri dari panas api neraka?
Lirik Tembang Turi Putih
Turi putih turi putih ditandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung, mbok kiro kembange opo.
Semoga bisa menjadi renungan kita untuk mengumpulkan bekal perjalanan abadi.
*) Pekerja Budaya












