Perjalanan Sadar Menuju Allah: Dari Impuls ke Transformasi Wujud

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Manusia sebenarnya tidak hanya hidup di antara dua arus – dorongan otomatis (impuls) dan kesadaran – tetapi melalui interaksi keduanya, ia sedang mengalami proses kenaikan dalam kualitas keberadaannya. Dalam bahasa sederhana namun ilmiah, menurut filsafat Mulla Sadra, realitas itu tidak datar, melainkan bertingkat (disebut tasykīk al-wujūd), dan jiwa manusia bukan sesuatu yang diam, tetapi terus bergerak (harakah jawhariyah) menuju kesempurnaan.

banner 400x130

Artinya, setiap manusia bukan sekadar “melakukan sesuatu”, tetapi sedang “menjadi sesuatu”. Ketika seseorang menghadapi impuls – misalnya dorongan marah, malas, atau ingin menunda – itu mencerminkan sisi potensi yang masih rendah (quwwah).

Namun saat ia menghadirkan kesadaran (awareness), lalu menggunakan ikhtiar (kemampuan memilih atau veto) untuk merespons secara lebih bijak, di situlah terjadi lompatan kualitas wujud. Jadi perubahan yang terjadi bukan hanya psikologis (sekadar berubah perilaku), tetapi ontologis – yakni perubahan pada tingkat keberadaan jiwa itu sendiri, dari potensi menuju aktual, dari level eksistensi yang lebih rendah ke yang lebih tinggi.

Contohnya, seseorang yang terbiasa marah ketika dikritik awalnya berada dalam pola impuls otomatis. Namun suatu hari, ia mulai sadar: “Saya sedang tersinggung, tapi saya bisa memilih respon.” Ia menahan diri, mendengarkan, lalu merespons dengan tenang. Jika ini diulang, bukan hanya kebiasaan yang berubah, tetapi “struktur dirinya” ikut naik level – ia menjadi pribadi yang lebih matang secara wujud, bukan sekadar terlihat lebih sabar.

Dalam perspektif ini, setiap momen kecil – menahan emosi, memilih jujur, atau tetap disiplin saat tidak diawasi – adalah titik transformasi eksistensial. Jika disadari secara mendalam, seluruh proses ini adalah perjalanan pulang: dari wujud yang lebih rendah (dekat dengan materi dan reaksi otomatis) menuju wujud yang lebih tinggi (lebih sadar, lebih bebas, lebih dekat dengan kesempurnaan), yang dalam bahasa spiritual berarti bergerak kembali kepada Allah sebagai sumber seluruh wujud.

Dalam bahasa sederhana, Allah adalah sumber dari seluruh keberadaan (Wujud Mutlak), sehingga semua yang ada berasal dari-Nya dan pada akhirnya kembali kepada-Nya. Namun, menurut filsafat Mulla Sadra, ada perbedaan penting pada manusia: ia tidak hanya “kembali” secara otomatis seperti makhluk lain, tetapi bisa “kembali dengan sadar”. Artinya, hidup manusia bukan sekadar perjalanan biologis yang berakhir pada kematian, melainkan proses bertahap menaikkan kualitas keberadaan jiwa – dari yang lebih rendah (dekat dengan reaksi otomatis) menuju yang lebih tinggi (lebih sadar, lebih jernih, lebih selaras dengan kebenaran).

Secara alami, semua makhluk memang kembali kepada Allah tanpa pilihan – ini seperti hukum gravitasi eksistensial: tidak bisa dihindari. Namun manusia memiliki dimensi tambahan, yaitu ikhtiar. Ia bisa memilih apakah hidupnya hanya mengikuti arus impuls dan kebiasaan, atau justru menjadikannya sebagai sarana transformasi batin.

Ketika kita melatih kesadaran, menyaring dorongan, dan memperbaiki niat serta tindakan, kita sedang menjalani “kembali secara sadar”. Ini bukan sekadar konsep religius, tetapi proses nyata yang terjadi dalam struktur diri kita – dari potensi menjadi aktual, dari jiwa yang reaktif menjadi jiwa yang matang.

Menariknya, apa yang dijelaskan oleh neurosains sebenarnya selaras pada level mekanisme. Otak manusia memang bekerja dengan pola: impuls muncul otomatis, kesadaran dapat mengintervensi, dan pengulangan membentuk jalur saraf (habit loops). Namun filsafat memberi makna lebih dalam: pola yang diulang itu tidak berhenti sebagai kebiasaan, tetapi mengkristal menjadi sifat tetap (malakah). Dari sifat inilah kualitas jiwa terbentuk, dan kualitas jiwa inilah yang menentukan “tingkat wujud” seseorang. Jadi, ketika kita terus melatih kesabaran, kejujuran, atau disiplin, kita tidak hanya “terlihat baik”, tetapi benar-benar “menjadi lebih tinggi” dalam derajat keberadaan.

Di titik ini terlihat bahwa otomatisasi dan kesadaran bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Otomatisasi memberi energi dan kecepatan – ia seperti mesin yang membuat hidup berjalan efisien. Sementara kesadaran memberi arah dan makna – ia menentukan ke mana mesin itu bergerak. Tanpa kesadaran, manusia hanya mengulang pola lama tanpa pertumbuhan. Sebaliknya, tanpa otomatisasi, kesadaran tidak punya “bahan” untuk dilatih dan diwujudkan. Maka pertumbuhan sejati terjadi saat keduanya bersinergi: kesadaran mengarahkan, otomatisasi memperkuat.

Namun ada satu elemen kunci yang menentukan kualitas arah itu, yaitu kebijaksanaan (hikmah). Kesadaran saja belum cukup, karena seseorang bisa saja sadar tetapi tetap memilih mengikuti dorongan rendah atau membenarkan kesalahan melalui rasionalisasi. Kebijaksanaan adalah kemampuan melihat mana yang lebih tinggi nilainya – mana yang membawa jiwa naik, dan mana yang justru menurunkannya. Dalam perspektif ini, setiap keputusan kecil – menahan amarah, memilih jujur saat sulit, tetap disiplin meski tidak diawasi – bukan sekadar tindakan moral, tetapi langkah konkret dalam perjalanan eksistensial.

Karena Allah adalah Wujud Tertinggi, maka semakin tinggi kualitas wujud seseorang, semakin dekat ia kepada-Nya. Dengan demikian, setiap arah yang dipilih melalui kesadaran yang dipandu oleh kebijaksanaan bukan hanya keputusan hidup biasa, tetapi bagian dari perjalanan pulang – perjalanan sadar dari makhluk menuju Sang Sumber Wujud itu sendiri.

@pakarpemberdayaandiri

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *