BUDAYA  

Perkuat Diplomasi Budaya Melalui Pembangunan Museum Syekh Yusuf Al Makassari dan Program Rumah Budaya Indonesia di Afrika Selatan

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon

NUSANTARANEWS.co, Jakarta – Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar taklimat media “400 tahun Syech Al Makassari” di Gedung A Kemdikdasmen, Senayan, Jakarta. Taklimat tersebut digelar dalam rangka pembangunan Museum Syekh Yusuf Al Makassari dan Rumah Budaya Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menjelaskan bahwa Syekh Yusuf Al Makassari merupakan ulama besar yang berjasa dalam memperkaya kehidupan agama dan spiritual masyarakat.

Menurutnya, Syekh Yusuf merupakan seorang tokoh pejuang, tokoh moral dan pembawa fajar Islam lintas negara, yakni Indonesia, Sri Lanka dan Afrika Selatan. Sebagai penghormatan atas peran Sheikh Yusuf Al Makassari, Kementerian Kebudayaan berupaya untuk merealisasikan pembangunan Museum Syekh Yusuf Al Makassari dan Program Rumah Budaya Indonesia di Afrika Selatan.

“Tahun depan, kami berharap bahwa karya-karya Syekh Yusuf dapat menjadi Memory of the World UNESCO. Upaya tersebut merupakan bentuk penghormatan dari perjuangan Syekh Yusuf atas segala pemikiran, perjuangan dan keteguhan hatinya. Selain itu, Kementerian Kebudayaan juga akan berusaha merealisasikan untuk membangun Museum Syekh Yusuf di Cape Town, di seberang dari makam Syekh Yusuf sendiri, sehingga ekosistem di sekitar museum itu akan hidup,” terang Menbud Fadli.

Lebih jauh, Menbud menuturkan bahwa ide dan pemikiran Syekh Yusuf Al Makassari patut diajarkan untuk masyarakat luas. Kementerian Kebudayaan tengah menggagas kerja sama dengan pemerintah Afrika Selatan dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan selaku tempat kelahiran Syekh Yusuf untuk mengadakan diskusi buku tentang Syekh Yusuf Al Makassari.

Menbud menuturkan, “Kita mungkin akan mengagendakan sejumlah seminar diskusi buku tentang Syekh Yusuf dan beberapa kegiatan lain. Ini adalah sebuah upaya kita untuk mengangkat tokoh-tokoh nasional dan tokoh sejarah yang penting. Mudah-mudahan pemikiran-pemikiran beliau bisa menjadi warisan budaya, warisan pemikiran, dan warisan peradaban.”

Selaras dengan pernyataan tersebut, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, menyampaikan bahwa Syekh Yusuf al-Makassari merupakan sosok ulama, intelektual, dan pejuang yang warisan pemikirannya melampaui batas ruang dan waktu.

“Kementerian Kebudayaan bermaksud membangun pemahaman bersama antara pemerintah, pemangku kepentingan, dan insan media mengenai makna strategis peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al Makassari,” terang Dirjen Endah.

Taklimat media “400 tahun Syekh Al Makassari” turut menghadirkan sejumlah akademisi filsafat dan filologi untuk menguatkan pemahaman terkait riwayat hidup Syekh Yusuf Al Makassari. Guru Besar Filsafat Pendidikan dan Dakwah Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Prof. Mustari memaparkan perjalanan intelektual Syekh Yusuf yang belajar dari berbagai guru besar di Jazirah Arab.

“Melalui Syekh Yusuf, terdapat beberapa refleksi dalam konteks kekinian. Etika religius dan dakwah Syekh Yusuf dapat membendung fenomena dehumanisasi dan radikalisasi agama. Konsep ini melahirkan etika keseimbangan, yaitu non-ekstrem rasional dan antropomorfis. Pemahaman Syekh Yusuf juga relevan untuk menghadapi radikalisme teologis dan liberalisme ekstrem,” papar Prof. Mustari.

Sementara itu, filolog Perpustakaan Nasional, Aditya Gunawan, menyatakan pengusulan karya-karya Syekh Yusuf Al Makassari untuk Memory of the World UNESCO merupakan kolaborasi bersama Universitas Leiden.

Terdapat delapan naskah yang diusulkan, di mana tiga di antaranya berasal dari Perpustakaan Nasional dan lima naskah dari Universitas Leiden. Ia menambahkan, “Karya-karya Syekh Yusuf Al Makassari mempunyai signifikansi di bidang sejarah, bentuk dan gaya, serta sosial, komunitas dan spiritual. Signifikansi-signifikansi tersebut berlaku baik di Nusantara, Sri Lanka dan Afrika Selatan.”

Turut hadir dalam acara ini, yakni Sekretaris Jenderal, Bambang Wibawarta; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Inspektur Jenderal, Fryda Lucyana; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik, Muhammad Asrian Mirza; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A Putri Woelan Sari Dewi, Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar; serta jajaran Kementerian Kebudayaan.

Turut hadir pula perwakilan dari Sekretariat Memory of the World UNESCO, perwakilan dari Kota Makassar, serta perwakilan dari Yayasan Lontara.

Rangkaian acara dimeriahkan oleh pembacaan puisi oleh sastrawan Indonesia, Nabilah Lubis dan Taufiq Ismail. Kedua maestro tersebut membacakan puisi bertajuk Kerja Besar dan Berat, Kini Menanti yang mengisahkan duka, doa dan harapan atas bencana yang terus menggempur bangsa tanpa henti, serta puisi Sembilan Burung Camar Tuan Yusuf yang menceritakan kegigihan pahlawan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Melalui rencana pembangunan museum Syech Al Makassari, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus membangun pemahaman bahwa diplomasi budaya Indonesia berakar pada nilai-nilai luhur sejarah dan kemanusiaan, sekaligus menjadi titik awal bagi kolaborasi lanjutan di bidang kebudayaan, pendidikan, dan penelitian antara Indonesia dan negara-negara sahabat.

Sumber: Kementerian Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *