banner 728x250

Masjid Tuha Indrapuri, Destinasi Wisata Religi yang Awalnya Sebuah Candi

Masjid Tuha Indrapuri yang terletak di Desa Keude, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Masjid berada di tepian aliran Sungai Indrapuri. ANTARA FOTO/ Ampelsa

Untuk kebutuhan masjid, Sultan Iskandar Muda meminta agar fondasi candi yang bertingkat-tingkat dipangkas dan hanya tersisa empat undakan atau tingkat saja.

NUSANTARANEWS.co, Aceh – Aceh menjadi daerah awal penyebaran agama Islam di Nusantara. Sejarah mencatat, dua daerah di provinsi paling barat Indonesia tersebut yakni Perlak dan Pasai menjadi pintu masuk awal Islam ke Nusantara. Seperti ditulis Masruraini dalam “Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Hingga Lahirnya Kerajaan Islam di Aceh: Lembaga dan Tokohnya”, disebutkan bahwa Kerajaan Perlak di Aceh Timur menjadi titik permulaan masuknya Islam ke Indonesia pada tahun 804 Masehi.

Sebanyak 100 ulama bangsa Arab yang dikirim Kalifah Bani Abbasiyah bertolak menuju Bandar Peureulak pada 790 M. Kemudian mereka menyebar hingga ke bagian utara dan barat Aceh termasuk Kerajaan Samudra Pasai pada 1267 M. Kerajaan Pasai kemudian tercatat dalam sejarah bangsa sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Islam kemudian tersebar hingga ke luar Pulau Sumatra seperti ke Jawa, Sulawesi, hingga ke Maluku.

Meski demikian, Aceh tetap mempertahankan Islam sebagai identitas kedaerahan. Aceh menjadi satu-satunya daerah di tanah air yang menerapkan hukum berdasar syariat Islam dalam kehidupan masyarakatnya. Setiap sendi kehidupan masyarakat diatur dan diawasi menggunakan hukum. Tak sulit menemukan masjid dan surau di tiap sudut gampong atau kampung di provinsi berjuluk Serambi Makkah.

Salah satunya adalah Masjid Tuha Indrapuri yang terletak di Desa Keude, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Masjid berada di tepian aliran Sungai Indrapuri. Lokasi masjid sekitar 25 kilometer arah timur dari ibu kota Banda Aceh, tepat di tepi jalan raya lintas Banda Aceh-Medan, Sumatra Utara. Juga tak jauh dari interchange ruas tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh). Sehingga cukup mudah bagi siapa saja yang ingin mengunjunginya.

Rumah ibadah umat Islam ini memiliki daya tarik sejarah yang begitu kental dengan unsur tradisional. Mengutip website Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Aceh, Masjid Tuha Indrapuri didirikan di atas lahan seluas 33.875 meter persegi pada 1618 di puncak kejayaan Sultan Iskandar Muda, pemimpin Kerajaan Aceh Darussalam pada era 1607-1636. Lahan masjid semula merupakan bekas candi Hindu.

Menurut Abdul Baqir Zein dalam Masjid-masjid Bersejarah di Nusantara, di atas lahan masjid semula berdiri tiga candi peninggalan Kerajaan Lamuri pada abad ke-12. Ketiga candi itu adalah Indrapatra, Indrapurwa, dan Indrapuri. Dari ketiga candi tersebut, hanya Candi Indrapuri saja yang masih tersisa berupa tembok yang mengelilingi bangunan Masjid Indrapuri.

Kerajaan Lamuri pada masa itu begitu terkenal karena kekuatan militer yang dimiliki. Hal itu terungkap dari catatan perjalanan penjelajah Tiongkok Chau Yu Kwan pada 1225 dan Chau Ju Kua pada 1278. Mereka menyebut Lamuri sebagai Lan Wu Li dan penduduknya belum memeluk Islam. Nama Lamuri juga masuk ke dalam catatan perjalanan Marcopolo pada 1292. Penjelajah terkenal dari Venezia itu menyebut Lamuri sebagai Lambri.

Keputusan Raja Lamuri untuk memeluk Islam bersama seluruh rakyatnya tak lepas dari tawaran yang diberikan oleh dua tokoh Muslim kala itu, Tengku Abdullah Lampeuneun dan Meurah Johan. Tawaran itu berupa bantuan pasukan kepada Raja Lamuri ketika diserang ratusan bajak laut asal Tiongkok. Setelah berhasil menumpas pasukan bajak laut tadi, raja dan rakyat Lamurai yang semula Hindu, menjadi pemeluk Islam.

Karena itu, candi-candi yang tidak dipakai lagi diubah menjadi rumah ibadah umat Islam seperti Masjid Tuha Indrapuri. Sepulang dari Malaka, Sultan Iskandar Muda singgah ke Indrapuri dan memerintahkan agar di atas bekas candi dibangun masjid besar. Lahan Candi Indrapuri bentuknya bujur sangkar dengan bangunan dibuat seperti punden berundak dan membuatnya lebih tinggi dari daratan sekitarnya.

Untuk kebutuhan masjid, Sultan Iskandar Muda meminta agar fondasi candi yang bertingkat-tingkat dipangkas dan hanya tersisa empat undakan atau tingkat saja. Tiap tingkat dipagar tembok sepanjang 40 meter dan tebal 1,3 meter. Tinggi tembok tiap tingkat tak sama, antara 1,4 meter hingga 1,8 meter. Sebuah tangga batu setinggi 3,36 meter dengan 16 anak tangga menjadi penghubung tingkat pertama dan kedua. Antara tingkat kedua dan ketiga terdapat 12 anak tangga.

Bangunan masjid berada di tingkat tertinggi yaitu keempat. Tiang-tiang kayu kokoh dibangun sebagai penyangga masjid. Pintu masuk masjid ada di sisi timur dan tepat di halaman depan ada dua kolam penampung air hujan yang bisa dipakai untuk berwudhu sebelum melaksanakan salat di masjid. Pada salah satu sisi luar masjid ada bangunan dua lantai yang dipakai muazin untuk menyuarakan azan dilengkapi kentungan besar pengganti beduk penanda masuk waktu salat.

Ketika berada di dalam masjid, akan tampak konstruksi atap berpola tumpang. Atap ini disangga 36 balok kayu bersusun setebal 28 sentimeter dengan 4 tiang berukuran lebih besar sebagai soko guru. Teknik pasak atau menyambungkan tiap balok tanpa paku disematkan pada susunan balok kayu sehingga mampu menyangga tiga susun atap. Pada sejumlah titik sambungan kayu diberi ukiran yang indah.

Mihrab atau tempat imam memberikan khotbah terbuat dari batu. Menariknya, masjid memiliki sekat atau tembok. Artinya tidak ada jendela dan pintu sehingga siapa saja yang berada di dalam bangunan dapat menikmati semilir angin berembus dari luar. Hanya terdapat tembok setinggi 1,5 meter mengitari bangunan masjid sebagai penghalang antara sisi luar dan dalam. Pada beberapa sisi tembok luar terpahat kaligrafi Arab.

Masjid Tuha Indrapuri juga pernah dipakai sebagai pusat pemerintahan sementara Kerajaan Aceh Darussalam sewaktu raja terakhir mereka, Sultan Muhammad Daudsyah dilantik untuk naik takhta pada 1878. Masjid ini sejak 1986 telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh pemerintah pusat. Pengelolaannya diserahkan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh.

Wakil Imam Masjid Tuha Indrapuri Naimullah seperti dikutip Antara menjelaskan, sampai hari ini masjid masih digunakan masyarakat untuk melaksanakan salat lima waktu. Selama Ramadan, masjid juga dipakai untuk salat tarawih meski tidak disertai tadarus atau membaca Alquran. “Masyarakat di sini tadarus di gampong masing-masing. Karena masjid ini berada di antara empat gampong,” ucap Naimullah.

Meski begitu, Naimullah dan masyarakat sekitar tetap memelihara kelestarian Masjid Tuha Indrapuri, terlebih oleh pemerintah setempat sudah dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata religi di Aceh dan sering dikunjungi wisatawan dari Malaysia terutama saat hari lebaran.

[Indonesia.go.id/Anton Setiawan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *