banner 728x250
BUDAYA  

Asal usul Desa Tuk, Kedawung, didirikan Kesultanan Cirebon pada abad 15 berawal dari sebuah kayu bertuah

Sekitar abad 15 pada masa pemerintahan Kesultanan Cirebon, terjadi bencana kekeringan yang sangat panjang. Untuk menyelesaikan masalah ini sultan mengirim tiga pangeran yakni pangeran Matangajimat. Pangeran Jakatawa, dan Pangeran Mancur Jaya, untuk mencari sumber mata air karena untuk menyelesaikan permasalahan rakyatnya

Alkisah ketiga pangeran tersebut sedang beristirahat disebuah pohon yang rimbun dan melihat ada air yang keluar dari pohon tersebut, kemudian mencari sumber air tersebut, namun tidak ditemukan. Tanpa disadari bahwa pohon rimbun tempat istirahat ketiga pangeran tersebut beristirahat adalah tempat dimana dahulu pangeran Cakrabuana atau pangeran Walangsungsang yang dikenal dengan sebutan Mbah Kuwu Cirebon pernah istirahat juga. Ketika pangeran ini hendak sholat akan berwudhu dan tidak menemukan air, maka mereka berdo’a kepada Allah SWT untuk diberikan petunjuk.

Namun tiba-tiba mendengar bisikan suara tanpa wujud yang menyuruh Pangeran Mancur Jaya untuk mengangkat dan mengetukkan kayu yang mereka duduki, untuk diketukan ke tanah. Suara kayu yang diketukkan diatas tanah berbunyi “tuk” “tuk” dan akhirnya ketukan kayu tersebut berhasil menyemburkan air yang sangat banyak sehingga sumur- sumur yang berada di sekeliling tempat itu penuh dengan air. Sumber air ini kemudian diberi nama Tuk dan sekarang menjadi lokasi desa bernama desa Tuk.

Setelah sumber air tersebut ditemukan, Pangeran Mancur Jaya menetap di daerah tersebut dan terpikat oleh seorang gadis yang bernama Nyai Gedheng Tuk. Kemudian daerah tersebut menjadi blok Pancuran desa Tuk, Setelah sumber air tersebut ditemukan, maka rakyat berduyun-duyun untuk mengambil air tersebut sehingga terjadi kesalahpahaman antara warga sekitar dengan orang tionghoa sehingga banyak warga tionghoa yang terbunuh . Akibatnya darah mengalir sampai ke parit sehingga air dari tuk ke keraton Pakungwati menjadi merah, kemudian kayu tersebut dinamakan “ kayu perbatang” artinya kayu penuh penuh dengan darah. oleh Pangeran Mancur Jaya kayu tersebut dibungkus dengan kain putih lalu diarak dan sampai sekarang masih diperingati setiap tanggal 19-20 rabbiul awwal dengan diiringi doa dan sholawatan.

Keberadaan balong kramat Tuk tersebut sampai saat masih terawat dengan baik dan menjadi cagar budaya berdasarkan ketentuan UU nomor 05 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya dengan juru kunci Raden Suparja.

Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon juga dikenal sebagai daerah penghasil emping melinjo , hasil dari cemilan ini terkenal sangat enak dan khas, emping melinjo dari desa Tuk sudah tersebar sebagai salah satu makanan khas oleh oleh kota Cirebon .

* Informasi terkait desa Tuk ini disadur penulis dari beberapa sumber

[ Raden Prawira ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *