Aceh Nusantaranews. co – Sangat memprihatinkan para petani sawah di sejumlah desa di Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireuen yang memiliki ribuan hektar sawah tadah hujan gagal tanam padi .
Keuchik Gampong ( Desa) Ceubrek, Bakhtiar kepada media ini Selasa (3/10) menyebut, akibat
pompanisasi yang ditempatkan di Desa Teupin Reudeup yang ditarik air dari Krueng Peusangan tidak bisa mensuplai air untuk sawah karena ada berbagai kendala dan kerusakan.
Bakhtiar menambahkan dengan mengharap hujan yang tidak menentu pada musim tanam padi sekarang tidak bisa air bertahan diareal persawahan sampai menjelang padi berbuah dan panen. Petani sawah tidak bisa menanam padi di areal sawah di Desa Blang Cut, Lueng Baro, Mata Ie, Teupin Reudeup, Uteuen Raya, sebagian Ceubrek, Uteun Gathom, Mee Rayek.
Disebutkan, di kemukiman SimpangTanjong di areal sawah Darulaman, Tanjong Beuridi, Blang Mane dan Darussalam.
Diperkirakan mencapai ribuan hektar areal sawah gagal tanam padi.
Kejadian gagal kesawah tanam padi hampir setiap tahun dialami petani setempat.
Padahal ada waduk Mee Rayek penampung air hujan dikaki bukit Gle Mong- Mong. Tapi kondisi waduk sudah dangkal perlu dikeruk agar air hujan bisa bertahan sampai padi berbuah dan menjelang panen.
Besar harapan petani di Peusangan Selatan Kabupaten Bireuen agar Pemerintah Provinsi Aceh perlu meninjau ke Peusangan Selatan untuk membuka lokasi Pompanisasi di Ule Jalan dekat jembatan. Dengan demikian akan memperlancar suplai air kesawah dan mudah dialiri ke waduk yang sudah ada untuk penampungan air selama musim tanam.
Sekarang sangat memorihatinkan dan terasa bagi petani sawah di Kecamatan Peusangan Selatan tidak panen padi dalam 2 bulan kedepan dan tentu mempengaruhi kebutuhan beras pada setiap keluarga. Sekarang beras sudah naik. Sebelumnya beras ukuran 15 kg bisa dibeli 180 ribu/Zak.
Dan sekarang 220 ribu/ Zak. Sungguh memprihatinkan kehidupan petani dan dituntut kepedulian Pemerintah Daerah. ***












