Sapu Tutus Penghasil Fulus

Sapu tutus kerajinan khas Kuningan

 

NUSANTARA-NEWS.co, Kuningan – Kabupaten Kuningan memiliki desa pengrajin bambu, yaitu desa Tarikolot Kec Pancalang yang menjadi sentra pengrajin Sapu Tutus, dan hingga kini masih bertahan di tengah banyaknya model sapu dengan bahan dan variasi produknya dipasaran.

Sapu Tutus yang dikerjakan hampir oleh setiap warga Desa Tarikolot, terbuat dari Bambu Bitung, sejenis bambu berbatang tebal, yang dibelah kecil-kecil lalu diikat menjadi Sapu Tutus. Dalam mengerjakan kerajinan ini, 1 keluarga bisa menghasilkan 30 buah per hari, atau sekitar 300 buah dalam 1 minggu.

Proses pengerjaan sapu Tutus ini, pertama bambu dipotong dulu sesuai ukuran untuk bahan penyapu dan untuk bahan gagang sapu. Lalu untuk bahan penyapu nya, terlebih dahulu harus dibuang kulit bambunya, agar tidak melukai tangan pengrajin. Kemudian di belah tipis hingga mudah untuk diikat. Selanjutnya dijemur hingga kering sebelum diikat dan di bentuk menjadi sebuah sapu.

Respon positif terhadap kerajinan Desa Tarikolot ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah Kabupaten Kuningan.

Selain itu, perhatian terhadap kerajinan masyarakat ini juga datang dari Ketua DPC Partai Nusantara Kabupaten Kuningan Ibu Susilawati, SE. yang sengaja berkunjung ke tempat produksi Pak Sahidi dalam rangka mendukung agar kerajinan ini bisa masuk ke pasar yang lebih luas.

Dalam keterangan Ketua DPC Partai Nusantara Kabupaten Kuningan kepada awak media, secara kelembagaan akan turut membantu dalam proses pemasaran dan pembinaan para pengrajin, agar bisa masuk ke pasar luas.

“Kami dari Partai Nusantara akan mencoba berkoordinasi dengan para pengurus didaerah lain melalui Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kerakyatan, agar produk kerajinan ini dapat diterima oleh pasar luas”. Jelas Ibu Susi, sapaan akrab beliau.

Menurut keterangan Pak Sahidi yang menjadi koordinator para pengrajin Sapu Tutus ini, pemasaran Sapu Tutus ini sudah mencapai ke berbagai daerah sebagai agen distributor, seperti Indramayu, Cirebon hingga Brebes Jawa Tengah. Disamping itu, ada pula yang di ambil langsung oleh pedagang keliling.

Dalam mengerjakan kerajinan masyarakat ini, Pak Sahidi bekerja sama dengan sekitar 50 keluarga pengrajin dengan upah Rp. 500 untuk tiap Sapu Tutus yang dikerjakan. Lalu untuk dirumah Pak Sahidi sendiri, terdapat 10 orang karyawan.

“Kami warga Tarikolot berharap kepada instansi atau lembaga, agar bisa membantu kami dalam memasarkan produk kerajinan kami, agar kami lebih semangat lagi untuk membuat Sapu Tutus”. Ungkap Pak Sahidi yang tinggal di Dusun Senang Rasa RT 001 RW 002 Desa Tarikolot Kecamatan Pancalang.

Selain Sapu Tutus, ditempat Pak Sahidi juga mengerjakan jenis sapu lain, seperti sapu lidi dan sapu lantai dengan jenis dan bahan yang berbeda. Salah satu andalan nya adalah Sapu Ijo. Sapu ini terbuat dari sejenis rumput yang berasal dari kaki Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan, yang orang sekitar menyebutnya Rumput Sangkir.

Harga Sapu Ijo ini memang lebih mahal dibanding Sapu Tutus, karena menghitung dari bahan baku yang digunakan dan model mengikat sapu tersebut. Harapan para pengurus DPAC Partai Nusantara Kecamatan Pancalang, produk kerajinan ini dapat bersaing di pasar nasional, bahkan ke tingkat ekspor.

(ADT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *