Pelet Bhetteng, Salah Satu  Tradisi Yang Hingga Saat Ini Tetap Dilestarikan  Warga Madura

 

STRATEGINEWS.co, Pamekasan –  Pelet kandhung atau warga madura menyebutnya  “pelet bhetteng” merupakan salah satu upacara adat warga pulau madura khususnya dipamekasan untuk memperingati kehamilan seorang wanita diusia 7 bulan kandungan upacara Ini diadakan secara meriah hanya pada saat seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk pertama kalinya  sedangkan pada masa kehamilan yang kedua ketiga dan seterusnya upacara pelet kandhung tetap diadakan namun tidak semeriah upacara pada saat mengalami kehamilan untuk pertama kalinya tradisi seperti ini merupakan ciri khas warga madura untuk tetap melestarikan kultur tradisional yang masih melekat hingga saat ini, Minggu (22/08/21)

Terdapat 5 tahapan dalam upacara adat warga madura untuk bisa melaksanakan  pelet kandung Langkah-langkah tersebut adalah tahap pertama pelet kandung atau pijat perut kemudian dilanjutkan penyebaran ayam langka. Langkah ketiga adalah penginjakan kaki ibu hamil tersebut kekelapa muda dan telur. Selanjutnya pada tahap keempat yaitu pemandian dan langkah terakhir yaitu orasol atau selamatan kandungan

Seluruh rangkaian kegiatan  upacara dilakukan pada bulan purnama setelah sholat dhuhur dengan pertimbangan bahwa bulan purnama adalah malam yang dirahmati Tuhan Yang Maha Esa dan para peserta upacara telah terlepas dari rutinitas keseharian. Upacara ini sering dilakukan oleh masyarakat madura yang tinggal di daerah Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan hingga Sumenep

Menurut, Habibi 25 Tahun prosesi kegiatan ini merupakan salat satu budaya lokal asli warga madura yang patut kita lestarikan hingga anak cucu kita nantinya, pelet kandung di madura dipimpin oleh seorang dukun bayi atau dukun beranak dan dibantu oleh seorang nenek dari perempuan yang sedang hamil serta diberikan upacara ritual warga madura.

Dua keluarga besar turut terlibat dalam upacara siraman pelet kandhung mereka adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil maupun orang tua dan sang anak dari pihak suaminya yang ikut serta berpartisipasi dalam sesi siraman tersebut.

Upacara adat  dilakukan oleh warga madura dengan diwarnai budaya Islami diawali dengan pembacaan ayat-ayat al-quran yaitu Surat Maryam dan surat Yusuf oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyai atau tokoh setempat.

Kita tetap harus lestarikan budaya lokal asli madura yang sudah ada.

(idrus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *