OPINI  

Sekolah Atau Tertinggal: Nasib Indonesia Emas di Tangan Rakyat Yang Sadar Belajar

Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn

Oleh, Dr. Suriyanto., SH., MH., M. Kn *)

Rakyat Indonesia sulit maju jika masih memelihara kemalasan dalam menempuh pendidikan. Kalimat itu pahit, tapi itulah kenyataan yang kita lihat setiap hari di depan mata kita.

Kita bangga menyebut Indonesia sebagai negara besar, dengan 280 juta jiwa, bonus demografi, dan sumber daya alam melimpah. Tapi besar saja tidak cukup. Jumlah penduduk yang besar tanpa kualitas pendidikan yang besar hanya akan menjadi beban, bukan peluang. Kita hanya akan menjadi pasar, bukan pemain.

Jalan menuju Indonesia Emas 2045 sudah di depan mata, tinggal 19 tahun lagi. Pemerintah sudah membangun infrastruktur fisik: gedung sekolah, jalan tol, internet, program Merdeka Belajar, KIP Kuliah, beasiswa LPDP. Namun infrastruktur termegah sekalipun akan mubazir jika mental rakyatnya masih menganggap sekolah itu beban, bukan kebutuhan.

Lihatlah realitas di kampung-kampung dan di kota-kota. Anak putus sekolah karena lebih memilih kerja serabutan. Orang tua lebih bangga anaknya cepat menghasilkan uang dari pada cepat menyelesaikan pendidikan. Media sosial dipenuhi konten joget dan flexing, bukan literasi dan diskusi ilmu. Ini adalah potret kemalasan kolektif yang berbahaya.

Kemakmuran tidak pernah turun dari langit dan tidak hanya ada di tangan pemerintah. Pemerintah hanya menyediakan alat. Yang menentukan apakah alat itu dipakai atau dibiarkan berkarat adalah rakyat itu sendiri. Andil terbesar kemakmuran ada di tangan rakyat yang sadar bahwa pendidikan adalah satu-satunya tangga untuk naik kelas.

Jangan lagi beralasan biaya. Negara sudah menggratiskan pendidikan dasar dan menengah. Jangan beralasan jarak, karena ruang kelas kini ada di dalam genggaman melalui ponsel. Yang tidak ada adalah kemauan. Malas adalah penjajah baru yang lebih kejam dari penjajah Belanda, karena ia menjajah pikiran kita dari dalam.

Data tidak berbohong. Rata-rata lama sekolah orang Indonesia masih di angka 9 tahun. Artinya, rata-rata kita hanya lulusan SMP. Bagaimana mungkin kita bermimpi menjadi negara maju, pusat ekonomi dunia, jika rata-rata rakyatnya saja tidak tamat SMA? Negara maju rata-rata lama sekolahnya 13-14 tahun.

Indonesia Emas 2045 membutuhkan manusia emas, bukan manusia cemas. Manusia emas adalah manusia yang kompeten, kritis, menguasai teknologi, dan beretika. Manusia cemas adalah manusia yang mudah ditipu hoax, mudah diadu domba, dan hanya siap menjadi penonton di negerinya sendiri ketika tenaga kerja asing yang terdidik mengambil alih.

Jika kita malas sekolah hari ini, kita sedang menggali kuburan kita sendiri untuk tahun 2045. Saat itu, dunia sudah dikuasai oleh Artificial Intelligence, energi hijau, dan ekonomi digital. Mereka yang tidak punya pendidikan akan tergilas, menjadi pengangguran permanen. Tidak ada lagi tempat bagi mereka yang hanya mengandalkan otot tanpa otak.

Sadarlah, sekolah bukan hanya soal ijazah. Sekolah adalah latihan disiplin, latihan berpikir logis, latihan menghargai waktu, dan latihan hidup bermasyarakat. Orang yang tidak pernah serius sekolah akan sulit serius dalam bekerja, sulit serius membangun keluarga, dan sulit serius membangun bangsa.

Kita harus mengubah mindset dari “sekolah untuk mencari kerja” menjadi “sekolah untuk menciptakan kerja”. Bangsa yang maju bukan bangsa yang rakyatnya berebut menjadi pegawai, tapi bangsa yang rakyatnya terdidik untuk menciptakan lapangan kerja. Itu hanya lahir dari pendidikan yang serius.

Kepada orang tua, berhentilah mewariskan kemalasan kepada anak. Jangan biarkan anak bolos demi membantu di sawah atau menjaga warung jika masih jam sekolah. Kalian sedang mencuri masa depan mereka. Tugas anak adalah belajar, tugas orang tua adalah memastikan mereka belajar dengan sungguh-sungguh

Kepada anak muda, berhentilah bangga dengan istilah “cupu kalau rajin”. Justru cupu kalau bodoh di era informasi. Dunia tidak butuh alasanmu, dunia hanya butuh kemampuanmu. Jika hari ini kamu malas membuka buku, besok orang lain akan membuka peluang yang seharusnya menjadi milikmu.

Kepada pemerintah daerah dan tokoh masyarakat, jangan hanya membangun masjid dan balai desa yang megah, tapi sepi dari kegiatan literasi. Hidupkan kembali perpustakaan, taman baca, kelas kejar paket, dan berikan sanksi sosial bagi yang meremehkan pendidikan. Kemakmuran desa dimulai dari melek huruf warganya.

Indonesia Emas 2045 bukan sulap. Ia adalah hasil panen dari apa yang kita tanam hari ini. Jika yang kita tanam adalah kemalasan, maka yang kita panen adalah kemiskinan. Jika yang kita tanam adalah keseriusan dalam pendidikan, maka yang kita panen adalah kejayaan.

Waktu kita tidak banyak. Bonus demografi yang kita banggakan akan segera menjadi bencana demografi jika 70% penduduk usia produktif kita tidak terdidik. Jangan sampai ketika dunia merayakan Indonesia menjadi negara maju, rakyatnya sendiri masih tertinggal dan melarat di tanahnya yang kaya.

Maka pilihan ada di tangan kita sekarang: tetap malas dan menjadi penonton Indonesia Emas, atau bangkit, sadar sekolah, dan menjadi pemilik Indonesia Emas itu sendiri. Masa depan tidak menunggu orang malas.

Oleh, Dr. Suriyanto., SH., MH., M. Kn

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *