BUDAYA  

Kerjasama Antar Umat Beragama Segera Dimulai Dari Dialog Ramadhan di Katedral

 

NUSANTARA-NEWS.co, Jakarta – Dialog ramadhan yang digagas Ignatius Kardinal Suharyo Pr di Katedral Agung Jakarta, jelas merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi umat Islam yang mendapat apresiasi positif dengan mengisi acara ramadhan hingga lebih bermakna sebagai wujud nyata dari upaya mempersatukan rasa kebersamaan antar pemeluk agama yang selama ini terkesan hendak direnggangkan atau bahkan ditabrakkan antara umat agama yang satu dengan umat agama yang lain.

Sedangkan untuk umat Katholik, momentum ramadhan yang mampu diapresiasi dengan baik ini, merupakan kemenangan moral — utamanya bagi pihak yang ingin memecah belah ikatan dan hubungan yang semakin harmoni antar pemeluk agama yang ada di Indonesia.

Sungguh tampak hadir wakil umat dari agama yang ada di Indonesia serta wakil dari penghayat kepercayaan, hingga dialog pun berlanjut seusai acara formal dilaksanakan. Bahkan acara terus brtlanjut dengan foto barang untuk lebih mengukuhkan keakraban dari momentum bersejarah ini.

Foto bersama Kardinal, pun dilanjutkan foto antar umat agama yang satu dengan umat agama yang lain, sehingga keakraban dan jalinan persaudaraan yang intim dan semakin kukuh dengan saling berbagi nomor kontak yang menandakan hasrat untuk berkomumikasi lebih lanjut sungguh menjadi hasrat yang serius.

Tentu saja agar akselerasi dari upaya membangun kerjasama antar umat beragama dalam beragam aksi dan program, dialog serupa di Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta ini bisa diperbanyak dengan dialog-dialog antar umat beragama dalam beragam tajuk pembicaraan yang dalat mendorong realisasi nyata dari program bersama yang sangat banyak untuk dilakukan sebelum melakukan kerjasama dalam beragam bentuk yang lebih besar sifat dan formatnya.

Mencermati pertemuan antar pemeluk dari beragam agama serta penghayat kepercayaan ini, sungguh meyakinkan sdanyab kesan pergesekan yang acap diperuncing di masyarakat atas dasar agama dan keyakinan itu, sesungguhnya tidak ada, kecuali hanya dari mereka yang memang menghendaki kekisruhan itu terjadi untuk dimanfaatkan mencari keuntungan politik, ekonomi atau bahkan budaya yang tidak sehat untuk terus dipelihara mauoun akan dikembangkan dalam tatanan hidup berbangsa dan bernegara di negeri kita.

Setidaknya, pergesekan itu hanya mungkin terjadi di kalangan masyarakat bawah yang belum mendapatkan perncerahan, bahwa keyakinan dan kepercayaan itu bersifat personal dan sakral yang tak mungkin dapat dipaksakan, kecuali penerimaan yang bersifat kamuflase belaka.

Dengan kata lain, pemaksaan yang diterima dengan keterpaksaan dalam konteks keyakinan dan keagamaan ini pada intinya adalah pasti kemunafikan. Jadi tidaklah mungkin untuk meyakini suatu agama atau ideologi itu bisa dilakukan dengan cara pemaksaan dan keterima dengan cara terpaksa pula.

Dialog lintas agama serupa di Katedral pada Rabu, 20 April 2022 ini akan menjadi catatan sejarah yang cukup membuktikan bahwa kerukunan antar umat beragama di Indonesia itu sesungguhnya suatu realitas yang dapat dijaga bersama dari kejahilan-kejahilan mereka yang ingin menangguk di air keruh.

Apalagi sebetulnya, sejarah besar serupa bagi umat beragama di Indonesia telah dilakukan pula sebelumnya oleh Umat Kristen bersama Umat Islam di Masjid Agung Istiqlal Jakarta yang disediakan menjadi tempat dialog pada bulan Maret 2022 dengan bimbingan dan arahan langsung dari Imam Besar Masjid Istqlal Jakarta, Profesor.Dr. KH. Nazaruddin Umar.

“Tindak lanjut dari dialog ramadhan di Katedral Jakarta pun langsung mendapat respon positif dari Plt. Dirjen Keagamaan Kementerian Agama untuk segera dilaksanakan acara lanjutan yang lebih fokus membicarakan hubungan dan ikatan antar umat beragama yang harmonis untuk menghasilkan pemikiran dan gagasan serta program kerja yang nyata agar dapat mensinergikan kebersamaan antar umat beragama untuk membangun bangsa dan begara Indonesia agar dapat lebih baik dari kondisinya sekarang,” kata Eko Sriyanto Galgendu yang sempat berbincang-bincang secara lebih khusus dengann Dirjen Bidang Keagamaan dari Kementerian Agama, seusai dialog formal dilakukan.

Karena itu menurut Eko Sriyanto Galgendu, acara-acara dialog lintas agama, kerjasama program dalam lintas agama akan menjadi agenda acara yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat bersama Kementerian Agama.

Tentu saja gayung bersambut ini akan semakin meringankan beban yang ada dipundak GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) kata Eko Sriyanto Galgendu yang telah merintis gerakan serupa sejak 30 tahun silam, ketika menerima amanah yang ditingalkan Gus Dur bersama Susuhunan Paku Buwono XII serta KH. Habib Khirzin dan tokoh agama maupun tokoh nadional lainnya.

(Yacob Ereste)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *