SPIRIT  

Spirit Ramadhan

Risdiana Wiryatni

Catatan Risdiana Wiryatni *)

Alhamdulillah, bulan suci Ramadhan telah tiba. Bulan Ramadhan membawa aura berkah selaksa angin sejuk yang menerpa sanubari setiap kaum beriman. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di jagad raya ini.

Ramadhan menebarkan ampunan, membawa pesona yang menyenangkan dan penyejuk jiwa. Ia mendorong dan menjadi penyemangat bagi mukmin untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan momentum terbaik untuk memperbaiki diri. Ialah waktu yang tepat untuk meningkatkan ibadah, memperkuat kesabaran, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Namun, sering kali semangat dan kebiasaan baik yang terbentuk selama Ramadhan perlahan menghilang setelah bulan suci berakhir. Oleh karena itu, penting untuk mengabadikan spirit Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari agar manfaatnya tetap terasa sepanjang tahun.

Semangat Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga membangun kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan setelahnya. Dengan mempertahankan nilai-nilai seperti kedisiplinan, kepedulian, dan spiritualitas, seseorang dapat terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagi seorang mukmin mempunyai kewajiban untuk menjamu tamu agung bulan Ramadhan ini, yaitu dengan menjalankan ibadah puasa. Selain itu, diperintahkan pula untuk memperbanyak amalan sunnah, seperti shalat tarawih, shalat witir dan shalat sunnah lainnya, memperbanyak bacaan al-Quran, dzikir, shalawat, sedekah dan amalan-amalan sunnah lain. Semua amalan dilakukan atas dasar keikhlasan demi membentuk pribadi yang bertaqwa yang mempunyai ketinggian moral dan pada gilirannya akan menjadikan seseorang mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah Swt.

Puasa bukan pindah waktu makan dan minum

Puasa yang secara sederhana dapat diartikan “menahan diri”, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal yang membatalkan puasa di sini bukan hanya membatalkan ibadahnya secara hukum, akan tetapi  juga mencakup hal-hal yang membatalkan hakekat, tujuan, hikmah dan membatalkan pahalanya.

Puasa bukan hanya sekedar memindahkan waktu makan dan minum yang semula di siang hari, menjadi di malam hari atau setelah masuk waktu maghrib. Puasa secara lahiriah mungkin dekat dengan arti demikian, akan tetapi, secara batiniyah, puasa dalam arti menahan hawa nafsu untuk tidak melakukan hal negatif atau larangan agama, kapan pun dan di mana pun.

Harus kita akui, bahwa kultur yang berkembang di masyarakat, bulan Ramadhan malah menjadi bulan yang lebih konsumtif dibanding bulan lainnya. Hal ini terjadi karena puasa hanya menjadi moment perpindahan waktu konsumsi, khsusnya makanan dari siang ke malam hari. Bahkan, stock konsumsi di bulan Ramadhan biasanya meningkat secara kuantitas dan kualitas serta lebih istimewa di banding hari-hari biasa.

Menggapai hakikat puasa

Puasa yang hakiki adalah menahan diri dari hal yang dapat menjauhkan diri dari Allah Swt. Imam al-Ghazali dalam buku yang berjudul “Nurun ‘Ala Nur (Cahaya di Atas Cahaya)  mengatakan “Kesempurnaan puasa adalah dengan mencegah segenap anggota badan dari segala hal yang tidak disenangi oleh Allah. Seyogyanya engkau juga menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak disenangi oleh Allah, menjaga lisan dari mengucapkan hal-hal yang tidak bermakna, menjaga telinga dari mendengarkan, hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Orang yang mendengar adalah teman si pembicara, yang karenanya dia juga dikategorikan sebagai orang yang menggunjing. Begitu juga engkau harus mengontrol seluruh anggota badan sebagaimana engkau menjaga perut dan kemaluan”.

Untuk menggapai puasa yang hakiki, seseorang tidak cukup hanya dengan menjaga anggota badan bagian luar dari hal-hal yang tidak disenangi Allah. Lebih dari itu, ia juga harus menjaga anggota batin, yaitu hati. Maksiat batin juga harus dienyahkan, karena juga akan merusak kesucian makna puasa.

Sumber utama maksiat ini adalah hati. Ia harus membersihkan penyakit-penyakit hati seperti, sombong, ujub, congkak, iri, dengki, riya’ (pamer) dan berbagai penyakit hati lainnya yang dapat mengurangi atau bahkan membatalkan tujuan, hikmah dan pahala puasa. Penyakit-penyakit ini seolah sangat sederhana, padahal sangat berbahaya, karena dapat membakar amal baik laksana bara api yang meluluhlantakkan kayu yang sudah kering.

Puasa mempunyai kedudukan yang tinggi dalam membentuk spiritualitas seseorang. Penempaan jiwa dan hati melalui latihan ragawi (menahan lapar dan dahaga) mempunyai arti dan peran penting dalam membentuk dan meningkatkan spiritualitas seseorang.

Kondisi raga yang lapar dan dahaga (karena Allah Swt) akan menjadikan sesorang lebih sensitif dan aktif untuk melakukan hal-hal yang posistif. Lebih aktif membersihkan hari, mensucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kesemua amalan dia atas dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan agar bulan Ramadahan benar-benar memberikan kesan spiritualitas yang mendalam dan dapat menebarkan aura spiritualitas tersebut kepada sekalian makhluk di jagat raya.

Dengan demikian, Berkah Ramadahan akan benar-benar membumi. Ramadhan akan menjadi lebih bermakna.

Semoga catatan hikmah ini bisa menjadi motivasi bagi kita umat muslim untuk lebih memperkuat iman kita.

Selamat menunaikan ibadah puasa

*) CEO Kinerja Group

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *