banner 728x250

Indonesia Darurat Judi Online, Perputaran Uang Capai Ratusan Triliun

Foto ilustrasi

NUSANTARANEWS.co, Jakarta – Indonesia darurat judi online. Fenomena judi ini sudah sangat mengkhawatirkan. Pemerintah pun bersikap tegas, perang melawan judi online dengan membentuk satgas khusus untuk memberantasnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengungkapkan perputaran uang dalam judi online di Indonesia mencapai Rp327 triliun sepanjang tahun 2023. Angka yang cukup fantastis.

“Kalau menurut PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), sekitar Rp327 triliun perputaran uangnya di Indonesia saja. itu perputaran uang, omzet, itu sudah besar sekali,” ungkap Budi Arie usai melakukan Rapat Terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Istana Presiden, Jakarta, pekan lalu.

Budi Arie menjelaskan, permasalahan ini sangat mengkhawatirkan karena mayoritas masyarakat yang terjerat judi online tersebut berasal dari kalangan bawah. Selain itu, awal tahun ini dilaporkan sudah ada empat orang yang mengakhiri hidup mereka akibat judi online. Guna mengatasi permasalahan ini, pemerintah pun akan membentuk satuan tugas (satgas).

Satgas tersebut, kata Budi Arie, akan terdiri dari beberapa pihak terkait seperti Kominfo, Otoritas Jasa keuangan (OJK), Kemenko Polhukam, dan aparat penegak hukum seperti Kejaksaan Agung dan Kepolisian. Dalam kesempatan itu, Budi Arie membantah upaya yang dilakukan oleh pemerintah selama ini untuk memberantas judi online tidak efektif.

Menurut PPATK, tahun 2024, perputaran uang dari judi ‘online’ meningkat menjadi kurang lebih Rp 600 triliun.

“Jika dihitung dengan periode beberapa tahun sebelumnya. Hingga saat ini, Q1 2024 sudah mencapai Rp 600 Triliun,” kata Koordinator Kelompok Humas PPATK Natsir Kongah dalam keterangannya Selasa (18/6/2024).

Lebih jauh ia mengungkapkan berdasarkan data PPATK, lebih dari 3 juta masyarakat memasang taruhan relatif kecil. Ini sekitar Rp 100 ribu dan dimainkan oleh ibu rumah tangga, pelajar hingga pekerja lepas.

“Seperti telah disampaikan sebelumnya, berdasarkan data PPATK, bahwa lebih dari 80% masyarakat (hampir 3 juta anggota masyarakat) yang bermain Judol adalah mereka yang ikut dengan nilai transaksi relatif kecil Rp 100 ribu,” ujarnya.

“Total agregat transaksi kalangan masyarakat umum ini ibu rumah tangga, pelajar, pegawai gol rendah, pekerja lepas, dll. Ini lebih dari Rp. 30 triliun,” ucapnya mengakhiri.

[nug/red]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *