BUDAYA  

Belajar dari Desa Hmong: Catatan Perjalanan Lintas Peradaban

NUSANTARANEWS.co – Pembangunan berkelanjutan niscaya mensyaratkan harmonisasi usaha yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada people dan planet. Pembangunan yang tetap menjaga harmoni peradaban masyarakat agraris di tengah terjangan arus deras industrialisasi. Demikian disampaikan Putu Suasta dari Sapa, Vietnam, pada 14 Oktober 2026.

Putu Suasta bersama Oles baru saja menghadiri pertemuan LSM di Hanoi. Pertemuan tersebut membahas sharing pengalaman dan pengamatan tentang peradaban serta praktik pertanian tradisional Asia. Dari Hanoi, keduanya melanjutkan perjalanan darat menuju Sapa, Provinsi Lao Cai, di wilayah perbatasan Vietnam dan China.

“Di Sapa kami tinggal di rumah penduduk dan berdialog langsung dengan kepala suku Hmong di Desa Lao Chai dan Ta Van,” ujar Putu. “Kami melihat sendiri sawah terasering yang mereka bangun dengan tangan selama beratus tahun. Luar biasa, di lereng yang sangat curam mereka bisa hidup dan menjaga tradisi,” lanjutnya.

Ketika ditanya tentang kesan kemajuan Vietnam yang kini banyak dibicarakan, Putu mengatakan Vietnam memang sedang menjadi perhatian investor.

“Negara ini hanya mengenal satu partai, sehingga dari sisi stabilitas politik terlihat lebih stabil, ada kepastian hukum dan tata kelola yang terus diperbaiki. Indonesia sendiri juga terus berbenah melalui Undang-Undang Cipta Kerja dan sistem OSS, kita punya pasar besar dan sumber daya yang jauh lebih besar,” kata Putu.

Terkait data korupsi yang sering menjadi acuan investor, Putu menambahkan skor persepsi korupsi masih menjadi tantangan bersama di ASEAN. “Vietnam 40, kita Indonesia 37, Thailand 34, Filipina 33. Artinya kita semua masih punya pekerjaan rumah yang sama untuk berbenah, untuk menciptakan iklim usaha yang lebih bersih dan adil,” ujarnya.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah soal etos masyarakatnya,” kata Putu. “Capaian kemajuan Vietnam sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang kuat serta disiplin tinggi masyarakatnya. Di desa Hmong saya melihat sendiri kerja keras, hemat, dan loyalitas itu. Nilai itu sebenarnya sama dengan yang kita punya di Indonesia,” tuturnya.

Oles, teman seperjalanan Putu, juga berbagi pandangannya. “Kita perlu mengenal dan mengambil pelajaran bagaimana Vietnam mengelola pariwisata dan UMKM-nya, mengambil manfaat bagaimana mereka memperlakukan para tamu,” ujar Oles. “Di sini wisata tidak mematikan pertanian, tapi justru menghidupkannya. Tamu diajak menginap di rumah warga dan membeli tenun langsung dari pembuatnya,” lanjutnya.

“Pada akhirnya kami belajar tentang harmonisasi pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada people dan planet,” tutup Putu. “Pesan kepala suku Hmong di Sapa itu sederhana, kami tidak punya banyak, tapi kami menjaga apa yang kami punya. Itu pelajaran yang sangat relevan juga untuk kita di Indonesia.”

[Valentino]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *