DAERAH  

Singkawang Miliki Bandara Baru, Permudah Wisatawan Kunjungi Kota Seribu Kelenteng

Bandar Udara Singkawang dioperasikan pada April 2024 untuk mendukung konektivitas dan memenuhi kebutuhan layanan transportasi udara [foto ilustrasi istimewa]

 

Bandar Udara Singkawang dioperasikan pada April 2024 untuk mendukung konektivitas dan memenuhi kebutuhan layanan transportasi udara.

 

NUSANTARANEWS.co, Jakarta – Keheningan udara Kelurahan Pangmilang di Kecamatan Singkawang Selatan seketika berubah oleh deru mesin kembar turbofan Honeywell HTF7000L yang disemburkan dari Cessna Citation Longitude Model 700. Tepat pukul 14.20 WIB dalam cuaca cerah sedikit berawan. Roda depan pesawat berkapasitas maksimal 10 penumpang dan dua pilot itu menjejak di landasan pacu (runway) berpermukaan aspal hitam mulus sepanjang 2.000 meter.

Kemunculan burung besi buatan pabrik pesawat asal Amerika Serikat yang berpusat di Wichita itu disambut tepuk riuh puluhan orang, sebagian memakai rompi khusus warna merah dan kuning terang. Setelah bermanuver menuju lokasi parkir pesawat (taxiway) dalam waktu kurang dari 5 menit dan berhenti di apron, mesin kembar yang mampu menerbangkan si burung besi hingga sejauh 6.500 kilometer nonstop itu pun dimatikan.

Pintu pesawat bernomor registrasi penerbangan PK-CAA itu kemudian terbuka dan puluhan orang tadi sudah berdiri rapi tepat di samping pintu berundak enam anak tangga. Sejurus terlihat Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjadi orang pertama keluar dari pesawat milik Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP) Kementerian Perhubungan. Ia lantas disambut oleh Penjabat Wali Kota Singkawang Sumastro.

Rupanya hari itu, Minggu, 28 Januari 2024, orang nomor satu di Kemenhub tersebut mengaku ditugasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meninjau langsung pembangunan Bandar Udara (Bandara) Singkawang. “Saya ditugaskan Presiden datang ke Singkawang untuk meninjau progres pembangunan di sini,” ujarnya seperti dikutip dari website Pemerintah Kota Singkawang.

Ketika didatangi, bandara yang berada di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat itu progres pembangunannya sudah mencapai 95 persen dan menyisakan penyelesaian interior bangunan terminal penumpang. Infrastruktur transportasi udara ini berada di bawah pengelolaan Unit Pelayanan Bandar Udara Kelas II Tebelian.

Budi Karya menyebutkan, bandara tersebut bakal dioperasikan pada 18 April 2024 mendatang. Keberadaan bandara di Singkawang menjadi bagian penting utamanya untuk memudahkan wisatawan mengunjungi Kota Seribu Kelenteng. “Bandara adalah bagian penting bagi satu daerah dan kita tahu Singkawang punya budaya yang unik. Insyaallah budaya yang unik ini bisa menjadi selling point atau kekuatan pariwisata di Singkawang,” tegasnya.

Seperti diketahui, Singkawang merupakan salah satu destinasi pariwisata utama di Kalbar lantaran keunikan kota seluas 504 kilometer persegi tersebut. Kota yang berjarak 145 km sebelah utara Pontianak dapat ditempuh dalam 4-5 jam perjalanan darat dari ibu kota provinsi. Salah satu keunikannya Singkawang karena menjadi pecinan atau daerah berpenduduk keturunan Tionghoa terbanyak di Indonesia.

Etnis Tionghoa menjadi mayoritas suku di sini, atau sekitar 42 persen dari total populasi Singkawang pada 2023 yang menurut data Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil setempat sebesar 242.146 jiwa. Budaya Tionghoa begitu kental di dalam kehidupan masyarakatnya dan menjadi daya tarik yang tidak ditemui di daerah lain di tanah air.

Misalnya saja adat istiadat dan arsitektur bangunan rumah penduduk yang banyak mengadopsi gaya asli Tiongkok. Mereka juga masih melestarikan budaya leluhur sampai hari ini. Hal itu dapat dilihat ketika Kota Singkawang merayakan Tahun Baru Imlek disusul Cap Go Meh yang meriah. Pada 2023 lalu, Kota Singkawang dikunjungi oleh 1.482.870 wisatawan domestik dan mancanegara.

Menurut Sumastro, keberadaan bandara menjadi akhir dari penantian masyarakat selama 20 tahun. Sebab, selama ini untuk mencapai Singkawang hanya bisa dilakukan melalui jalur darat dan laut dari Kota Pontianak dan sekitarnya.

“Ini seperti mimpi menjadi kenyataan bagi kami setelah lebih dari 20 tahun,” ungkap Sumastro.

Hal serupa juga dilontarkan oleh Vivi, warga sekitar Singkawang Selatan yang menyaksikan pendaratan pesawat dari luar pagar bandara. Menurutnya, kehadiran bandara baru seperti sebuah hadiah bagi dirinya dan masyarakat Singkawang saat Tahun Baru Imlek 2024 pada 10 Februari 2024.

“Saya sengaja ingin melihat pesawat mendarat di Singkawang. Saya tak masalah sampai harus menutup toko karena ini seperti kado Imlek bagi kami. Tentu saja kami senang ada bandara karena ada alternatif untuk transportasi yang lebih cepat,” katanya seperti dikutip dari KompasTV.

Skema KPBU

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KP 1024 Tahun 2018, Bandara Singkawang dibangun di atas lahan seluas 151 hektare yang dulunya adalah bekas perkebunan kelapa sawit dan semak belukar. Keberadaannya untuk mendukung konektivitas dan memenuhi kebutuhan layanan transportasi udara di wilayah Singkawang, serta Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas.

Selain itu, juga dirancang untuk memperkuat aksesibilitas pergerakan masyarakat dan logistik. Ini sekaligus mendukung rencana pengembangan Kota Singkawang sebagai food terminal, potensi pariwisata, permintaan penumpang internasional, dan rencana pengembangan lainnya. Mengutip website Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Kementerian Keuangan, disebutkan bahwa proyek pembangunannya bakal memerlukan anggaran sekitar Rp4,5 triliun.

Skema KPBU dipakai dalam pembangunan bandara ini dengan pengembalian investasi menggunakan user charge dan masa kerja sama selama 33 tahun termasuk 3 tahun konstruksi. Sumber pembiayaan salah satunya memakai fasilitas Sukuk Berharga Syariah Negara (SBSN) senilai Rp148,1 miliar dan Dana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dari sejumlah pengusaha nasional asal Singkawang sebesar Rp160 miliar.

Anggaran tersebut dipakai untuk pembangunan sisi udara (airside) maupun sisi darat (landside) termasuk fasilitas penunjangnya. Landasan pacu bandara semula dibangun sepanjang 1.400 meter, namun belakangan ditambah 400 meter sehingga menjadi 2.000 meter dan lebar 30 meter. Ukuran taxiway 200 meter x 18 meter dan apron 100 meter x 50 meter.

Sedangkan terminal kargo luasnya 312 meter persegi dan gedung terminal penumpang dibangun seluas 8.000 meter persegi. Perpanjangan runway dan pembangunan terminal penumpang sepenuhnya memakai dana CSR. Proses penerbangan kalibrasi perdana terhadap infrastruktur sisi udara Bandara Singkawang telah dilakukan pada 24 Januari 2024 lalu menggunakan pesawat turboprop Super King Air berkode PK-CAN milik BBFP Kemenhub.

Pembangunan Bandara Singkawang juga membuka peluang untuk peningkatan layanan angkutan lintas batas negara, khususnya rute Singkawang-Kuching, Malaysia. Akses dari dan menuju bandara nantinya akan dilayani oleh armada DAMRI.

[nug/red]

banner 1600x820

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *