Penggiat UMKM Cecep Muhidir: Hadapi Ancama Resesi Global Momentum Kebangkitan UMKM

Cecep Muhidir, MBA

 

NUSANTARANEWS.co, Jakarta – Keberadaan Usaha Mikro Kecil Menengah [UMKM] menjadi penguat perekonomian nasional, di tengah ancaman resesi global.

Geliat UMKM ini  perlu terus dijaga sehingga keberadaan sektor ini terus memberikan kontribusi bagi upaya pengentasan kemiskinan dan terbentuknya kemandirian ekonomi.

Hal itu disampaikan Penggiat UMKM Cecep Muhidir, melalui keterangan, Rabu [22/2/2023]

Menurut Cecep, penguatan sektor UMKM ini harus lebih diperkuat, mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya di sektor ini.

Sebab, kata dia, jika sektor ini terdampak maka implikasinya akan banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan.  Oleh karena itu, ada beberapa persoalan yang harus dibenahi oleh pemerintah dalam mendorong UMKM ini lebih mandiri dari sisi produksi, pemasaran, akses teknologi, keuangan dan ekosistem pengembangan UMKM.

“ Penguatan sektor UMKM ini, tentu harus menjadi perhatian kita semua, baik pemerintah maupun swasta. Kita meyakini, UMKM ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional, di tengah situasi krisis apapun, termasuk kemungkinan ancaman resesi global, seperti yang dikhawatirkan berbagai pihak,” kata Cecep.

Cecep mengungkapkan, dari aspek produksi, pengembangan sektor UMKM harus berorientasi kepada market driven sehingga produk UMKM bisa dapat terserap ke pasar.

“ Banyak pelaku UMKM mampu membuat produk  akan tetapi tidak dapat dijual ke pasar. Seharusnya ada pergeseran paradigma pembangunan UMKM dari sekedar hanya subsisten menuju UMKM yang naik kelas. Lalu, inovasi-inovasi produk harus dikembangkan mengikuti perkembangan pasar sehingga daya saing produk UMKM tetap dapat terus dijaga,” ujarnya.

Ketua DPC PWRI Kuningan ini menambahkan, dari aspek pemasaran, strategi dan inovasi pengembangan pemasaran perlu terus dikembangkan. Digitalisasi pemasaran yang sangat berkembang di era pandemi covid perlu lebih dioptimalkan karena banyak model market place, e-commerce yang berbasis komunitas akhirnya mati suri karena tidak ada  perhatian dari pemerintah.

“ Seyogianya model-model belanja online ini sebenarnya dapat diarahkan ke model belanja yang dikelola secara kolektif sehingga akan mendatangkan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, literasi digital untuk pelaku UMKM juga harus digencarkan,” tuturnya.

Tak kalah penting, sebut dia,  penguatan jejaring pemasaran, peningkatan standarisasi dan sertifikasi produk perlu terus dikembangkan. Konsep sharing economy dengan mendorong keterkaitan antara sektor tradisional dan sektor modern menjadi strategi yang sangat diperlukan agar sektor  pasar tradisional dan sektor modern tidak terus dikontradiktifkan.

“ Berbagai upaya ini sebenarnya bisa dilakukan dengan penerapan kebijakan pemberian tempat penjualan untuk produk UMKM pada tiap pusat perbelanjaan modern. Strategi inilah yang harus dilakukan agar sektor tradisional dan sektor modern dapat berkembang secara beriringan,” ungkapnya.

Masih menurut Cecep,  peningkatan akses teknologi bagi pelaku UMKM dapat dilakukan dengan memperkuat peran lembaga-lembaga inkubator bisnis baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun perguruan tinggi.  Dalam konteks ini sebenarnya  pemerintah  sudah memiliki Pusat Layanan Usaha Terpadu, Rumah Kreatif Bersama dan berbagai lembaga lain yang memainkan peran sebagai lembaga inkubator bisnis.

“ Lembaga-lembaga ini sebenarnya perlu ditingkatkan kapasitasnya dalam hal kompetensi pengelola, standarisasi kurikulum, dan fungsi-fungsi fasilitasi pemberdayaan sehingga benar-benar mampu memberdayakan UMKM.  Di sisi lain, peran lembaga inkubator perguruan tinggi juga perlu diperhatikan dalam mendukung kemajuan pengembangan UMKM dan perusahaan rintisan,” pungkasnya.

 

[jgd/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *