Kebangkitan Spiritual Kembalikan Fitrah Manusia Sebagai Khalifah di Bumi

Catatan  Yacob Ereste

Berpijak pada tujuh abad babak pertama (tahun 1 – 700), lalu tujuh abad bebak kedua (701 – 1400) dan babak ketika siklus peralihan tujuh abad ketiga (1401 – 2001), menjadi bagian rujukan gerakan kebangkitan kesadaran spiritual warga bangsa Indonesia dimulai kembali menuju masa kejayaan yang pernah di gapai pada masa silam.

Gesekan atau pun benturan antar peradaban yang riuh menjadi tajuk bincang para futurolog adalah peradaban Barat, China dan peradaban Islam yang diperkirakan bakal terjadi kelak akan semakin meruncing pergesekannya — atau bahkan — perseteruannya yang akan saling menenggelamkan antara yang satu dengan yang lain di masa yang akan datang.

Peradaban Barat yang ditandai oleh konsep global dan pasar bebas dengan cirinya yang khas persaingan terbuka dan individualistik — neo-liberal — pasti akan berhadapan langsung dengan budaya ekonmi kerakyatan — gotong royong — khas suku bangsa Nusantara yang telah melebur menjadi bangsa Indonesia.

Lalu peradaban China yang terus menggeliat masuk ke relung-relung ekonomi hingga ke tingkat desa dengan sangat agresif di berbagai negara-negara di dunia merupakan fenomena yang tidak terbantah, hingga patut diantisipasi dan diimbangi oleh berbagai negara di dunia.

Karena fenomena dari hasrat China melakukan kolonisasi bahkan intervensi dalam samua sektor kehidupan di belahan dunia manapun semakin nyata dan meresahkan.

Akibatnya, bagi bangsa serta negara-negara di dunia tidak hanya menjadi terancam dicaplok secara ekonomi, tapi juga dalam bidang politik dan budaya sebagai dasar dari pertahanan yang terhandal bagi bangsa yang tak hendak kehilangan jati diri dari kepribadiannya yang khas.

Setidaknya siklus perubahan setiap tujuh abad itu pada hari ini telah memasuki babak ketiga sejak tahun 2001 silam, bila merujuk pada siklus perubahan besar setiap tujuh abad yang akan segera terjadi kemudian.

Pada momentum inilah GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yakin untuk segera menggelindingkan gerakan kebangkitan kesadaran pemahaman spiritual bagi segenap warga bangsa Indonesia agar dapat melakukan percepatan dalam memposisikan diri Indonesia sebagai pelopor dari kebangkitan spiritual bagi bangsa-bangsa di dunia.

Sebab hidup dan kehidupan manusia tidak bisa mengabaikan fitrah illahiyahnya sebagai khalifah (representasi) Tuhan di muka bumi. Tatanan dalam segenap segi kehidupan perlu ditata kembali agar harmoni, minimal tidak perku saling membinasakan antara yang satu dengan yang lain.

Tatanan yang harmoni itu perlu segera diwujudkan agar dapat menyongsong era peradaban baru yang akan muncul dari Timur dengan cahaya yang akan menerangi bumi dari kekelamannya seperti yang masih kita rasakan sampai hari ini.

Manusia Indonesia tidak cuma merasa telah lebih pintar dari Tuhan, seperti kata Banthe Samnasubho Mahathera, tapi juga — manusia Indonedia seperti jara Prifesor Salim Said, tak lagi takut kepada Tuhan. Dari sejumlah fenomena seperti itu pula, Eko Sriyanto Galgendu yakin dan hak kulyakin — kebangkitan kesadaran spiritual yang akan segera muncul dari Indonesia pun — yang akan jadi penangkal utama sekaligus mejadi pembimbingnya menuju jalan lurus yang diridho’i oleh Tuhan.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *