Kesalahan Yang Salah Ketika Kesalahan Disalah-salahkan

Jacob Ereste  

Catatan Jacob Ereste

Bisa saja ada orang yang bilang BPJS itu haram tapi dianjurkan. Seperti rakyat yang dianggap rusak karena pemerintahnya brengsek. Dan brengseknya pemerintah itu, juga bisa saja penyebanya karena ulah para ulama yang ikut menjual ayat-ayat, seperti legislatif yang ikut menjadi makelar jual-beli perundang-undangan.

Tuding menuding seperti itu mungkin dapat dipahami untuk sekedar untuk menunjukkan pada rakyat bukan satu-satunya pihak yang harus menanggung dera dan deritanya.

Seperti UU Omnibus Law yang dipaksakan itu, hingga harus memaksa pula MK menjadi salah polah, jadi ikut mengharamkan tapi tetap memberi anjuran untuk terus menggunakan Omnibus Law yang lahir sesar itu.

Adanya istilah dimakan Emak mati dan tidak dimakan Bapak yang mati, itu juga sesungguhnya menunjukkan ada peribahasa usang yang masih perlu juga dikenang sebagai peruah agar bersikap bijak. Persis semacam ungkapan tentang makna dari tak ada rotan akar pun jadi — meski rotan yang sesungguhnya di hutan kita sudah langka — toh masih dapat dipahami bahwa akarnya yang sejati itu memiliki manfaat yang patut direnungkan dalam kehidupan pada hari ini yang sesungguhnya dapat menjadi catatan pengingat.

Jadi sebagai wacana dan topik diskusi, gagasan memperpanjang masa jabatan atau menunda Pemilu itu, bisa dipahami sebagai bagian dari upaya untuk menguji dan mengasah akal sehat. Siapa tahu setuju, atau pun menolak. Karena yang lebih penting boleh saja untuk menilai argumennya mana yang lebih dapat diterima oleh akal sehat, siapa tahu kebanyak orang sudah tidak lagi waras, akibat dari kesulitan makan tempe rebus karena minyak dari kebun sawit yang melimpah ruah itu raib tidak jelas juntrungan dimana. Atau pun moksa tanpa pernah bisa diperjelas sedang ditimbun di mana dan oleh siapa saja.

Kesalahan saya sebagai rakyat jelata yang pasti karena terlanjur fanatik sarapan dengan tempe goreng yang kacang kedelanya pun dibiarkan untuk tidak ditanam oleh petani kita sendiri. Lalu minyak goreng saja yang bisa dicukupi oleh jutaan hektar kebun sawit yang menghampar di Sumatra dan Kalimantan itu, realitasnya telah membuat wajan penggorengan jadi menganggur, kalau tidak bisa disebut pensiun dini akibat fungsi dan peranannya tidak lagi terpakai.

Jadi yang salah adalah salah — seperti pemain sepak bola konda ng yang tetap Salah namanya — meski telah mampu menjebol gawang lawang dengan tendangan kaki kidalnya.

Rencana pindah Ibu Kota Negara pun dari Jakarta ke Penajam, hendaknya dapat dipahami semacam upaya menghilangkan rasa bosan tinggal terlalu lama di rumah kontrakan, agar sedikit dapat berharap mempunyai suasana baru. Toh, kalau nanti ternyata tak enak di Penajam, bisa saja dipindah lagi ke tempat yang lain, misalnya kalau tidak mau balik lagi ke Jakarta karena takut terendam banjir. Jadi bisa saja dipindah ke tempat lain, tanpa perlu merisaukan dananya yang besar harus ditebarkan di sana kelak.

Jadi yang penting, dari logika berpikir seperti itu jangan pula terburu-buru dianggap cari sensasi yang tidak murah ongkosnya, tapi hendaknya bisa dimaklumi sebagai niat baik untuk dapat membangun daerah dengan cara yang paling santun, supaya tidak sampai mengesankan umuk atau pamer atas sikap sombong untuk mendapat pujian belaka.

Karena itu, kegaduhan dari moksanya sosok pada peristiwa bersejarah dari “Serangan 1 Maret 1949” di Yogya itu, bisa saja dibuat ribut agar supaya generasi muda mau membaca sejarah. Bukan saja rumusan tentang sikap kecenderungan dari penguasa yang birahi untuk menghapus jejak penguasa sebumnya, namun fakta sejarah itu yang pentung tak hilang dari memori jenius yang ada di dalam kepala. Sebab hanya dengan begitu kisah masa silam yang baik dan besar (bukan benar) di kepala itu akan turun ke hati sehingga melahirkan getaran kalbu atau frekuensi spiritual yang akan memperjernih jiwa atau batin kita dengan tenang dan gembira di lubuk kedalaman jiwa.

Jika sekedar untuk kebenaran di atas kertas, bukankah arsip nasional yang ada bisa memberikan kesaksian yang nyata dan akurat. Sebab sejarah itu sendiri memberi hak pada setiap pihak yang membaca untuk memiliki multi tafsir yang berbeda dan bebas hendak menjadi pilihannya dari pilihan yang hendak ditentukan kemudian.

Lalu, sungguhkah setiap orang yang mimiliki hak untuk memilih kesalahan dengan caranya yang salah itu salah ?

Padahal kesalahan yang sesungguhnya salah, karena kesalahan orang yang salah menilai kesalahan orang lain selalu salah. Sehingga lupa dengan kesalahan diri sendiri.

Itulah sebabnya, dalam kesalahan yang terlalu banyak menyebut dan menulis kesalahan-kesalahan yang salah pada paparan yang sangat mungkin lebih banyak kesalahan ini, mohon tidak lagi disalahkan, supaya tidak lagi menambah kesalahan yang salah.

Sukabumi, 13 Maret 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *