BUDAYA  

Spiritualitas Karya Sastra Ronggowarsito, WS. Rendra dan Eko Sriyanto Galgendu Hingga Ayat-ayat Buana Dalam Bahasa Bumi

Eko Sriyahto Galgendu

 

NUSANTARA-NEWS.co, Jakarta – Nawa Aksara Nusantara (Sembilan Sumber Kekuatan Nusantara) yang meliputi kekuatan mikro kosmos dan makro kosmos baik secara histois, filosofis hingga geografis bangsa-bangsa yang yang dimiliki maha dewa. Adapun yang dimaksud spiritual para dewa yang mampu memberikan wedaran motivasi, dukungan, kekuatan luar maupun dalam secara spiritual yang tak terukur dalam dimensi apapun. Nawa Aksara Nusantara sebagai sastra agung nusantara dalam bentuk karya sastra busana yang tidak ada bandingannya. Karena memang tidak bisa dibanding dengan karya-karya sastra yang ada.

Suatu benturan evolusi dan revolusi pemahaman pemikiran dan kesadaran pendalaman rasa dan semangat untuk bangkit memasuki ruang dan waktu. Jadi ilmuan itu memberikan pengetahuan dan pengertian, tapi pujangga memberikan pemahaman.

Para pujangga Keraton Jawa memang bekerja khusus untuk membangun sastra bercita rasa keraton yang sekaligus menjadi penghalus budi bahasa keraton sebagai suatu pemahaman yang melampaui pengetahuan, sehingga hakekatnya merupakan suatu nasehat atau ajaran akan menjadi landasan budaya keraton.

Karenanya teks akan selalu tidak terlalu penting dibanding pemahaman yang perlu dicerna dan diimplementasikan dalam tata budaya masyarakat keroton maupun sekelilingnya. Atas dasar itu pula, penulisnya dominan dianggap tidak juga penting, karena yang utama adalah hakekat dari pemahaman pengajaran yang harus disosialisasikan sebagai bentuk nyata dari pengabdian atau ibadah.

Babad Ngayogyakarta HB IV-V yang ditulis oleh Tumenggung Sasra Adipura pada tahun 1869 dan telah disalin kembali pada tahun 1881 oleh Carik Sastra Pratama Nom anak dari Patma Pratama sebagai korpus yang dibandingkan dengan konsep Bordieu.

Naskah sandingannya seperti seni sastra yang diwujudkan dalam bentuk wayang kulit menggambarkan sesuati makna dalam bentuk bayang-bayang yang mampu dipahami dalam banyak makna tergantung dari kemampuan siapa saja yang dapat menagkap essensinya sebagai suatu pemahaman yang dapat dijadikan sandingan atau pegangan dalam kehidupan. Sehingga, sang pujangga tidak Cuma memiliki kemampuan meramalkan jagat luar, tetapi juga jagat dirinya termasuk umurnya sendiri.

Suasana kehidupan di dalam lingkungan Kraton Solo pada pertengahan abad ke XIX, secara politis sangat sulit, namun dari perkembangan kesusasteraan Jawa, pertumbuhannya justru terlihat memasuki masa yang cerah. Meski begitu, bangsa Belanda yang ingin menanamkan pengaruhnya semakin dalam dan meljuas di Jawa, Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang penterjemah di lingkungan Keraton. Sehingga hubungan Ronggowarsito dengan pihak Belanda tetap baik dan memeroleh posisi yang lebih terhormat.

Atas dasar itulah sejarah mencatat kemampuan dan ketrampilan untuk mengajarkan bahasa Jawa – sebagai kunci untuk menguasai suatu bangsa –seorang sarjana Belanda C.F. Winter anak kandungnya J.W. Winter penterjemah di dalam Kraton, meminta agar sebuah jabatan selaku Guru Besar Bahasa dan Kesusasteraan Jawa dapat diisi. Dan pada masa itu, atas seijin pihak Kraton, akhirnya Sunan Paku Buwono ke VII, memberikan ijin kepada Ronggowarsito untuk membantu penerbitan koran yang justru digagas oleh pihak Belanda.

Artinya, upaya untuk menerbitkan sebuah media itu jelas beranjak dari kesadaran dan pemahaman betapa petningnya informasi untuk kemudian dapat menajembatani komunikasi dengan banyak pihak yang sekiranya diperlukan. Dalam sejaranya, nomor pertama koran Bromartani mampu diterbitkan pada tanggal 29 Maret 1855, setiap hari Kamis, berhuruf Jawa.

Raden Ngabehi Ronggowarsito sebagai penulis produktip, wajar Namanya melagenda sampai sekarang. Karena dari goresan tangannya para sejarawan bisa mengngkap banyak banyak rahasa jaman yang mungkin saja beum sebera jumlahnya. Namun mulai dari pengetahuan tentang kesusasteraan, filsafat, ramalan, sejarah, primbon sampai kepada masalah Pendidikan serta arah politik suku bangsa Nusantara – yang belum menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia – setidaknya relative lumayan bisa diungkap.

Dokumen sejarah memberikan kesaksian, ada sejumalah naskah asli tulisan tangan masa silam itu sampai hari ini masih tersimpan dan bisa kita saksikan. Dari 12 buku yang ditulis tangan, termasuk kitab Paramasastra. Ada juga dua buah buka yang diduga bukan karangannya Raden Ngabehi Ronggoswarsito, yaitu Panitisastra yang memaparkan tentang pelajaran tentang Pendidikan. Lalu Barotoyudho kisah perang yang berlatar belakang keluarga Pandawa.

Sejumlah karya yang tak menyertakan nama pengarang atau penulisnya itu mendedahkan laku spiritual yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra, sehingga tidak terlalu perduli dengan karya yang dihasilkannya itu. Namun, kuat dugaan bahwa semua kitab tanpa nama penulisnya itu adalah karya para leluhurnya, yaiu Kyai Yasadipuro ke I yang disalin kembali oleh Ronggowarsito pada tahun 1864.

Keuali itu, ada juga informasi yang mengatakan, kecuali dari dua kelompok di atas, masih ada ada 21 buku lainnya yang ditelisik bukan asli tulisan tangan Ronggowarsito. Keyakinan tersebut dilakukan berdasar penelitian mengenai gaya bahasa, sandi-asma yang terjalin di dalamnya atau lewat sangkalan tahun pembuatan buku yang diterakan seperti yang dapat dikaji lebih mendalam.

Diantaranya ada yang berjuul Witaradya, Kalatida dan Joyoboyo, sehingga minimal ada 13 buku tulisan Ronggowarsito yang sudah diterbitkan dalam bentuk cetakan. Lalu bagaimana dengan lagi dengan buku yang berjudul Sidin, pengetahuan tentang kesusasteraan yang telkah dicetak oleh HG Bomm Amsterdam pada tahun 1882. Dan buku berjudul Saridin, mengetengahkan pendidikan kesusilaan, dicetak oleh Muller, Nederland ditahun 1858.

Buku karangan Raden Ngabehi Ronggowarsita yang berjudul Pustaka Raja sungguh luar biasa, karena terdiri dari 29 buku dan terbagi dalam 9 jilid dengan jumlahtal kurang dari 2000 halaman. Demikian juga dengan kitab Sabdajati yang berisi tembang Megatruh. Dalam kitab inilah – Raden Ngabehi Ronggowarsita mengungkapkan pada pupuh ke 16 sampai ke 19 – jelas menyebutkan bahwa dia akan meninggal dunia pada Hari Rebo Pon, tanggal 5 Dulka’idah tahun 1802. Lengkap dengan waktu kematiannya, saat waktu dhuhur.

Karya Raden Ngabehi Ronggowarsita yang banyak dikenal orang adalah kitab Kalatida, terutama untuk pupuh ke 7 dalam naskah tersebutyang menyebut jaman edan. Selengkapnya begini katanya; A menangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, soya kaduman melik, kaliren wekasanipun, Oilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling Ian waspada.

Adapun terjemahan bebasnya adalah ; mengalami jaman edan, sangat mempersulit segala usaha, ikut gila tidak tahan, tapi jika tidak ikut menggila tidak akan kebagian, yang terjadi hanyalah kelaparan. Meskipun demikian takdir kehendak Tuhan, betapapun bahagia mereka yang terlupa, masih berbahagia mereka yang sadar dan waspada.

Adakah relevansinya dengan jaman yang sedang kita hadapi sekarang ini ?

Boleh jadi apa yang dilukiskan Ronggowarsita ketika itu tak sama persis seperti yang sedang kita alami sekarang ini, tapi suasana batin yang sedang berlangsung agaknya justru lebih para dari pada jamannya Ronggowarsito ketika itu. Karena suasana Kraton Surakarta ketika itu memang semakin gawat, dilingkungan Istana pun terjadi intrik bahkan cengderung berkembang vulgar.

Perasaan yang halus tidak cuma terluka, tapi sudah tercabik-cabik. Karena kebobrokan justru menggumpal di lingkaran kekuasaan. Keadilan menjadi omong kosong, karena kelicikan dan kedegilan menjadi perisai yang tak lagi memalukan.

Setidaknya, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasal dari kesepakatan segenap warga bangsa Nusantara – realitasnya kini melupakan semua pemerintahan di masa lalu yang berasal dari Kerajaan-kerajaan suku bangsa Nusantara dahulu itu. Sebab realitasnya peran masyarakat Keraton maupun masyarakat adat yang pernah ada kini sama sekali dilupakan, jika tidak bisa disebut disingkirkan, tidak punya peran apa-apa.

Agaknya, dari perlakuan politik serupa inilah nilai-nilai spiritual yang pernah ada dan dominan kuat sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia yang bersala warga bangsa Nusantara di masa silam itu semakin tergerus dan ditinggalkan. Hingga pada gilirannya mengabaikan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur bangsa nusantara lainnya — termasuk apa yang disebut sebagai kearifan lokal – yang mengakar dalam sebagai pengukuh kepribadian bangsa-bangsa Nusantara yang pernah berjaya pada pada masa silam.

Sastrawan dan budayawan besar Indonesia asal Solo yang kemudian muncul di awal abad ke-21 , Wahyu Sulaiman Rendra berujar, “Kemarin dan esok/ adalah hari ini/ bencana dan keberuntungan/ sama saja// Langit di luar/ Langit di badan/ Bersatu dalam jiwa”. Adapun makna spiritualitasnya yang tersirat bahwa kemarin dan esok itu merupakan serta sikap dalam laku yang akan menjadi ketentuan dan menentukan pada hari ini. Sehingga bencana dan keberuntungan menajdi sama saja harus disikapi dengan legowo sebagai akibat dari apa yang telah kita perbuat pada hari-hari kemarin untuk kita hadapi pada hari guna memasuki hari esok.

Sebab bencana dan keberuntungan itu sama saja atas karma dari perbuatan yang kita lakukan kemarin dan hari ini sehingga harus kita nikmati esok, apapun bentuk atau wujudnya. Begitula langit di luar (makro kosmos) dan langit di badan (mokro kosmos) tidak akan terpisah. Karena dia akan menyatu dengan diri kita dalam bentuk kerma baik maupun karma buruk. Itulah relevansinya nawaitu untuk memindahkan Ibu Kota Negara Indonesia dari Jakarta ke Penajam, Kalimantan Timur dengam sebutan Nusantara sepatutnya menindahkan nilai-nilai spiritual yang sudah ada sebelumnya secara historis serta pemaknaan filosofis maupun gerografis yang tidak bisa diabaikan.

Jika tidak, maka IKN akan ahistoris, non filosofis atau bahkan tidak strategis dalam arti banyak hal yang meliputi pengertian material apalagi spiritual. Nilai-nilai hostoris, filosofis dan gerografis dan strategis untuk banyak hal itu, tidak hanya untuk tempak yang akan ditinggalkan, tetapi juga bagi tempat yang baru pun perlu dicermati tidak hanya sebatas material semata, tetapi juga untuk hal-hal yang bersifat spirriual.

“Sebab bumi dan langit – sebagai ayat-ayat Tuhan – pasti memiliki kodrat dan iradatnya yang tersurat maupun yang tidak tersurat yang hanya mungkin mampu dibaca oleh mereka yang memiliki kemampuan spiritual semata. Begitulah tebaran butir-butir spiritualitas dari dua sastrawan besar Nusantara – yang kemudian menjadi Indonesia – asal Solo yang kini dilanjutkan secara intens dan serius oleh Eko Sriyanto Galgendu dalam bentuk syair ayat-ayat buana dalam bahasa bumi. Dalam istilah terkahir yang terkonfirmasi, itulah yang sesungguhnya dimaksudkan Nawa Aksara Nusantara,” kata Eko Sriyahto Galgendu, Minggu 20 Februari 2022.

(Jacob Ereste)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *