Umum  

Rasa Malu Pun Langka Seperti Minyak Goreng

Jacob Ereste

Catatan : Jacob Ereste

Memadankan azan dari masigit itu dengan gonggongan segerombolan anjing, itu sekedar keterbatasan (kemiskinan) kosa kata tak hanya dalam takaran akademis, tapi juga ekspresi dari sempitnya wilayah jelajah pergaulan.

Idealnya memang ayunan langkah tak bisa dianggap cukup sampai diujung kampung. Sebab keindahan taman di kampung tetangga perlu juga ditengok, agar tak jumawa dengan milik kita yang ternyaya cuma sejengkal.

Kekeliruan yang berulang bagi leluhur kita yang santun dan mulia, cukup menonton terperosoknya keledai dalam lubang yang sama. Jadi agak berbeda dengan cerita Omnibus Law yang disulap menjadi Cipta Kerja yang tak hanya memuluskan PHK hibgga dibuktikan oleh palu godam KPK yang tak juga memalulan itu. Toh, kemudian diulang lagi seperti keledai yang menarik Permen No. 2 Tahun 2022 tentang JHT yang justru habis dimakan sendiri oleh sang keledai yang cantik itu.

Kisah kelahiran hukum yang sungsang di kampung kami pun sidah menular seperti pandemi yang beranak pinak melahirlan turunan baru. Tapi biarlah, sebab lahan bisnis yang telah langka, buksn saja karena digasak oleh bangsa sendiri, tapi juga sudah digadaikan oleh mereka yang terus mencari dan mencuri kesempatan di semua jabatan yang mampu mereka rampas.

Itulah penyebab do’a pun boleh fisusulkan setelah perencanaan dan teknis pelaksanaan IKN di Penajam, Kalimantan Timur itu dilakukan. Sebab motto lebih cepat lebih baik, seperti upaya mencari surat keterangan vaksin yang dipalsukan.

Maka itu komitnen dan kesetiaan tergantung dari ukuran amplop yang bisa fibawa pulang dan menyenangkan semua keluarga di rumah. Tak juga ada bedanya laki atau perempuan, sebab takaran jender dudah diratakan, seperti proyek menimbun laut untuk tamu spesial yang mau numpang hidup sampai mati di kampung kita yang memang subur makmur.

Begitulah, mulai dari rasa malu sampai minyak bisa saja jadi mainan hingga, seakan tak satupun instansi yang mampu mengatasinya.

Padahal, apa sih yang tidak bisa diatur di negeri ini. Sejak jaman Adam Malik dahulu saja, cerita begitu tak pernah menjadi rahasia negara.

Dan Pak Uda saya sejak dulu juga sudah sering bilang berulang-ulang ; hepeng mangatur nagaron, bah !_ katanya tertawa cekakakan.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *