BUDAYA  

Catatan Kaki Untuk Webinar Online Forum Silatiurrachmi Keraton Nusantara

 

Oleh : Yacob Erteste

Forum Silaturrachmi Keraton Nusantara akan menyelenggarakan dialog tentang Spiritual Kenegaraan Pujangga Raja dengan tajuk Nawahaksara Nusantara pada hari Minggu, 27 Februari 2022 mulai pukul 14.00 hingga selesai.

Untuk yang berminat dapat mengikuti melalui Meeting ID 843 3905 5188 dan Passcode : 644969. Adapun pembicara utamanya adalah YM. Eko Sriyanto Galgendu dari GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), Prof. Dr. Ir. Kray. Naniek Widayati Priyomarsono M.T, Sekretaris Jendral FSKN (Forum Silaturrachmi Keraton Nusantara) dan Mayor Jendral Rido Hermawan M.Sc., Tenaga Ahli Pengajar Bidang Kewaspadaan Nasional.

Menurut informasi yang dapat dihimpun, pusat penyelenggaraan Online akan dilakukan dari Coffe Shop Lemhannas, Jl. Merdeka Selatan Jakarta dengan peserta para Raja, Ratu serta pemangku adat dan budaya Keraton yang tergabung dalam FSKN.

Acara yang terbuka untuk umum ini dilakukan secara online, karena masih harus membatasi diri dari kerumunan agar tidak menebar pandemi yang tengah melanda Indonesia sampai hari ini. Tajuk bincang seputar pemahaman dan muatan spiritual yang ditermuat dalam pemaknaan Nusantara secara historis dan filosofis maupun geografis dan politis akan dibedah oleh ketiga nara sumber utama terkait dengan peran masyarakat Keraton sebagai ahli waris Nusantara yang telah disepakati menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Dan UUD 1945 serta Pancasila disepakati sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas warisan suku bangsa Nusantara yang pada mulanya bernaung di dalam pemerintahan Keraton maupun Kesultanan yang ada di segenap penjuru bumi Nusantara.

Peran masyarakat Keraton dengan segenap warisan budaya yang diwariskan para leluhur suku bangsa Nusantara, saatnya mempunyai momentum yang tepat untuk diangkat kepermukaan sebagai potensi bangsa Nusantara – yang telah bersatu menjadi Negara Indonesia – untuk dapat abangkit menjadi mercu suar penerang jagat.

Oleh karena ini, nilai-nilai budaya lokal – kearifan lokal – yang sangat besar dan dakhsyat potensinya yang patut dikedepankan untuk membangun fondasi karakter bangsa Indonesia dengan kepribadiannya yang otentik dan luhur agar dapat memimpin dan membimbing warga masyarakat dunia menuju suasana yang damai, adil dan makmur sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pejuang bangsa dan negara Indonesia yang termaktub dalam Preambule UUD 1945, bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konteks Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka menjadi sangat relevan warga masyarakat Keraton mempertanyakan posisi dan perannya yang strategis dalam upaya membangun bangsa dan negara yang baik dan sehat dalam pengertian lahir maupun batin.

Karena sesungguhnya, ruh dari segenap nilai yang terkandung di dalam pemaknaan Nusantara yang telah meng-Indonesia, harus dapat disublimasikan secara utuh dan nyata dalam pelaksanaan menata bangsa dan negara agar memperoleh hikmah dan rachmat yang dirido’I oleh Allah SWT.

Jika tidak, maka perjalanan bangsa dan negara Indonesia secara spiritual akan terus terseok-seok karena akan selalu digelayuti oleh tentakel-tentakel busuk yang menggerogoti – bukan hanya harta dan kekayaan bangsa dan negara Indonesia yang ada – lebih dari itu adalah kewibawaan dan harga diri serta martabat bangsa menjadi sulit untuk disandingkan dengan bangsa-bangsa yang ada di dunia.

Agaknya, nilai-nilai spiritual dari makna yang terkandung dalam Nusantara yang indah dan luhur itu patut dikemukakan pada kesempatan yang baik ini, seraya untuk ikut membekali keterlanjuran Hasrat untuk memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam, Kalimantan Timur yang kelak akan berjuluk Nusantara.

Jakarta, 24 Februari 2022

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *