BUDAYA  

Kuningan menembus batas, mengungkap potensi budaya di kota kuda

Maha Resi ( Cecep Muhidir ) & Ketua Bhuwana Uga Padjadjaran ( Marsekal Pertama TNI R. Eding Sungkana , S.AB, M.Tr.( Han )

 

NUSANTARA-NEWS.co – Kuningan yang terletak di provinsi Jawa Barat, tepatnya di bawah kaki Gunung Ciremai dengan kurang lebih 1,2 Juta penduduk memiliki beberapa kearifan lokal budaya di dalamnya. Penduduk Kuningan umumnya menggunakan bahasa sunda dialek kuningan dalam berkomunikasi.

Julukan Kuningan sebagai kota kuda dikenal oleh banyak kalangan masyarakat. Hal lain yang menjadi kearifan lokal budaya Kuningan karena masih mempertahankan khas budaya sunda tradisional yang masih dilaksanakan pada jaman modern sekarang ini. Khas budaya sunda tradisioanal Kuningan diantaranya Cingcowong, Seren Taun, Tradisi Kawain Cai, Sintren, dan Tari Buyung.

Menembus batas ruang dan waktu

Ruang-waktu biasanya digambarkan dengan ruang secara tiga dimensi dan waktu memainkan peran sebagai dimensi keempat yang merupakan bagian yang berbeda dari dimensi spasial.

Ruang adalah konsep yang paling melekat dengan waktu

Ruang merupakan tempat terjadinya berbagai macam peristiwa – peristiwa sejarah dalam perjalanan waktu. Spasial atau ruang merupakan tempat terjadinya suatu peristiwa sejarah. Sedangkan temporal atau waktu ini berhubungan dengan kapan peristiwa tersebut terjadi.

Bupati Kuningan H. Acep Purnama SH,MH dan Cecep Muhidir

Sekilas Sejarah Kuningan

Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Sangiyang Sempakwaja adalah putera tertua Wretikandayun, raja pertama Galuh.

Walaupun jauh sebelum itu Kuningan sudah tumbuh dan berkembang dengan kearifan lokal wilayahnya.

Menguak Kearifan Lokal Ajaran Sunda Wiwitan atau Ajaran Sunda Buhun di Wilayah Kuningan 

Ajaran Sunda Wiwitan menyimpan sejumlah warisan yang berharga dan perlu diangkat kembali untuk diketahui khalayak umum menjadi tuntunan hidup maupun contoh teladan. Ajaran Sunda Wiwitan mengandung kearifan lokal yang sarat dengan kebermanfaatan. Namun sangat disayangkan, isi  ajaran’nya belum terungkap dengan baik sebagai Naskah Kuno di hadapan publik, padahal di antara isinya banyak mengandung nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme yang cukup tinggi dan penting untuk diterapkan dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ajaran Sunda Wiwitan adalah sebuah paham yang dianut oleh keturunan Sunda, memiliki ajaran percaya kepada Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Kersa yang sama maknanya dengan Tuhan yang Maha Esa.

Dalam pelaksanaan kenegaraan, beberapa tingkat sistem pemerintahan disebutkan seperti;

Kaprabuan adalah yudikatif,

Karamaan yaitu eksekutif,

Karatuan adalah legislatif.

Dijelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan menganugerahkan rasa kemanusiaan. Posisinya adalah Tuhan yang Maha Tinggi. Salah satu sifat kemanusiaan adalah getaran cinta kasih yang diberikan Tuhan. Ini adalah naluri dasar manusia yang menjadi ajaran Sunda Wiwitan. Dalam tataran kehidupan sehari-hari, perilaku dan tata aturan sopan santun diajarkan dalam salam orang Sunda;

Sampurasun artinya keselamatan untuk kita semua. Jawab dari salam tersebut adalah Rampes atau Rahayu disebutkan tiga kali yang berarti keselamatan.

Ajaran Sunda Wiwitan yang sangat unik, bahkan sebagian sudah dilakukan digitalisasi oleh pihak asing, yaitu British Library dan Dreamsea.

Ajaran Sunda Wiwitan merupakan warisan yang tiada tara nilainya, mestinya disebar luaskan dan dipelajari, untuk mengetahui hal yang sebenarnya yang terjadi pada masa lampau,  dan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk dijadikan tuntunan hidup.

Spirit yang terkandung dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah menjunjung nilai nilai kemanusian dan kebangsaan yang pada umumnya, mengandung makna yang sangat tinggi dan sangat kontekstual dengan kekinian.

Misalnya apabila akan terjadi bencana, maka akan ada tanda2 alam terlebih dahulu, sehingga sangat tepat dijadikan sebagai tuntunan dalam sikap-sikap hidup kita sehari-hari.

Ajaran Sunda Wiwitan banyak mengingatkan pluralisme dan nasionalisme. Juga menceritakan fenomena alam, kondisi sosial masyarakat, dan tata pemerintahan.

Keberadaan ajaran Sunda Wiwitan memang belum terekspos dengan baik, bahkan kadang2 misinterpretasi/ salah memahami tentang jati diri orang sunda dan penganutnya.

Bangsa kita sudah melupakan sejarah akarnya. Padahal perjuangan dari leluhur kita adalah perjuangan tanpa pamrih.

Sekilas Sejarah Kabupaten Kuningan

Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Kuningan telah menetapkan peraturan daerah nomor: 21/DP.003/XII/1978 tanggal 14 Desember 1978 tentang Sejarah Dan Hari Jadi Kuningan. Berdasarkan peraturan daerah tersebut, sejarah Kuningan disusun sejak mulai ada tanda-tanda pemukiman atau perkampungan yang telah mempunyai pemerintahan hingga perkembangannya sampai sekarang.

“Sejarah Hari Jadi Kuningan” ini adalah merupakan ringkasan peraturan daerah tersebut dengan lampirannya yang secara garis besar adalah sebagai berikut:

Kira-kira 3500 tahun sebelum masehi, tanda-tanda yang memberitahukan bahwa di Kuningan sudah ada pemukiman masyarakat yang sudah mencapai tingkat kebudayaan yang relatif sudah maju. hal ini berdasarkan atas hasil peninggalannya yang ditemukan di wilayah Kuningan.

Suatu pemukiman masyarakat dimaksud, baru terwujud dalam bentuk suatu kekuatan politik seperti negara sebagaimana dituturkan dalam cerita Parahiyangan dengan nama “Kuningan” pada tanggal 11 April 732 M.

Negara/kerajaan Kuningan tersebut terjadi sesudah penobatan Seuweukarma  sebagai raja/kepala pemerintahan, yang kemudian bergelar Rahiangtang Kuku atau disebut juga Sang Kuku yang bersemayam di Arile dan Saunggalah. ia menganut ajaran “Dangiang Kuning” yang berpegang kepada “Sanghiang Darma” dan “Sanghiang Siksa”, yang memberikan 10 pedoman hidup, yaitu :

Tidak membunuh mahluk hidup, Tidak mencuri, Tidak berzinah, Tidak berdusta, Tidak mabuk, Tidak makan bukan pada waktunya, Tidak menonton, menari, menyanyi dan bermain musik, Tidak mewah dalam berbusana, Tidak tidur ditempat yang empuk, Tidak menerima emas dan perak.

Potensi wilayah yang mendukung kemajuan Kuningan ke depan

Kearifan lokal, Budaya/Tradisi yang masih terpelihara hingga saat ini (Cingcowong, Seren Tahun, Kawin Cai, Sintren dan Tari Buyung).

Sumber Daya Manusia. (keramahtamahan, pluralisme).

Potensi Sumber Daya Alam pegunungan (sangat cocok untuk dijadikan pemukiman, properti, maupun pariwisata).

Perdagangan & Jasa.

” Kami berharap di kemudian hari Kuningan menjadi Kabupaten yang mendunia yang dapat menembus Cakrawala Ruang dan Waktu yang bersifat nasional maupun internasional” ungkap nara sumber Kuningan Menembus Batas, Ketua Padepokan Bhuwana Uga Padjadjaran Marsekal Pertama TNI Eding Sungkana, S.AB,M.Tr.(Han) dan Guru Besar Padepokan Bhuwana Uga Padjadjaran Maha Resi Aji Saka.

(susie/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *